
Dinda pun menertawakan kebodohan orang yang ada di dalam dengan hati yang sangat terluka. 'Dasar manusia menjijikan. Apakah kalian segitu tidak sabarnya untuk bersama? Karena itu, pintu kamar pun tidak bisa kalian kunci terlebih dahulu. Benar-benar manusia tidak ada adabnya.' Dinda berkata dalam hati.
Pintu pun berhasil Dinda buka. Dan, air mata pun langsung terjun bebas tanpa ada hambatan sedikitpun. Dinda yang melihat sang suami sedang terbaring tanpa busana bersama perempuan lain, tentu sangat merasa kesakitan.
"Kak Ilya!"
Sebuah teriakan keras langsung keluar dari mulut Dinda. Efek obat bius dengan durasi yang tidak terlalu lama pun sudah berakhir. Hanya karena satu teriakan saja, langsung berhasil membangunkan Ilya yang sebelumnya sudah lama berada di alam bawah sadar akibat obat bius tersebut. Sementara Lula yang sebelumnya hanya pura-pura tertidur pun ikut mengerjapkan mata seolah-olah, dia juga baru sadar dari tidurnya.
Ilya yang baru sadar masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang terpecah. Ditambah, kepalanya yang terasa masih pusing itu membuat ia terlihat seolah sedang mengabaikan keberadaan Dinda yang saat ini sedang ada di depan pintu kamar tersebut.
"Sstt ... apa yang terjadi?" Ilya berucap dengan suara pelan sambil memegang kepalanya dengan satu tangan.
__ADS_1
Ucapan itu membuat Dinda merasa jijik dengan Ilya yang saat ini seolah-olah tidak sadar akan apa yang sudah terjadi. Bahkan, dengan sengaja tidak menghiraukan keberadaannya yang saat ini sedang menahan air mata agar tidak jatuh lagi.
'Bertahanlah, Dinda. Pria bajingan yang sudah memberikan harapan palsu padamu ini memang seorang bajingan sejadi. Jadi, janganlah kamu merasa sakit hati lagi sekarang. Kuatkan dirimu, Dinda.' Dinda berkata dalam hati sambil menggenggam erat tangannya.
'Dan lagipula, kalian menikah juga bukan karena cinta, kan? Dari awal, tidak ada cinta pengikat yang bisa kamu jadikan pegangan, Dinda. Untuk itu, kenapa kamu harus merasa sakit hati hanya karena dia yang telah tidur dengan perempuan lain? Bukankah kamu sudah tahu siapa dia sebelumnya? Dia adalah pria dengan julukan playboy selama ini. Bahkan, akan tetap dengan julukan itu buat selama-lamanya. Dia gak akan bisa berubah sedikitpun. Karena sudah sadarnya seperti itu.'
Setelah menguatkan hati dengan kata-kata yang ia ciptakan sendiri, Dinda pun langsung menarik napas dalam-dalam. Lalu, ia lepaskan secara perlahan agar hatinya cukup baik dan bisa langsung berucap dengan tenang tanpa sedikitpun rasa gugup.
"Apa yang terjadi, kak Ilya? Kamu sedang tidur dengan perempuan di kamar hotel. Apa kamu masih harus bertanya?"
"Dinda!" Betapa kagetnya Ilya akan keadaannya saat ini. Wajah Ilya langsung pucat seperti orang yang tidak punya darah lagi.
__ADS_1
"Din-- Dinda. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana aku ... Dinda, ini tidak sama dengan apa yang kamu pikirkan."
Belum sempat Dinda menjawab, Lula yang sedari tadi menunggu kesempatan untuk bicara pun langsung bangun dari baringnya. Iya, dia masih terbaring tadi. Seolah-olah, kalau keberadaan Dinda sama sekali bukan masalah buatnya.
"Mas, ngomong apa sih? Kita yang begitu bahagia tadi sampai langsung tertidur, kini malah ngomong kalau ini tidak sama dengan yang dia lihat. Lagian, bukannya mas bilang kalau mas hanya butuh dia sebagai pembantu saja? Yang bisa meringankan .... "
"Cukup! Siapa kamu, hah!? Kenapa kamu malah ada di samping aku sekarang. Perempuan tidak tahu diri. Siapa kamu sebenarnya!" Ilya berteriak keras sambil mendorong Lula. Tapi, dorongan itu tidak membuat Lula terjatuh dari ranjang.
"Mas! Kenapa mas malah berubah sih? Setelah ada dia di sini, mas langsung kasar padaku. Mas ini kenapa bisa plin- plan seperti ini, hah! Bukannya mas yang bilang kalau menikah dengan dia itu hanya karena hutang saja? Mas hanya ingin memanfaatkan dia. Karena orang tua mas suka sama dia." Lula bicara tak kalah sengit dari Ilya.
Hal itu tentu saja langsung membuat Dinda membulatkan mata karena tak percaya dengan apa yang Lula katakan. Sungguh, dia sangat sakit hati karena ucapan Lula barusan. Karena dia yang langsung percaya dengan kata-kata itu, tentu berpikir kalau Ilya sudah sangat jahat padanya dengan mempermainkan perasaannya sesuka hati.
__ADS_1
"Oh, jadi kak Ilya hanya ingin memanfaatkan aku selama ini ternyata. Kenapa harus susah payah melakukan semua cara itu, kak Ilya? Kenapa harus bersandiwara dengan susah payah jika hanya untuk memanfaatkan aku? Bukankah aku tidak akan pergi dari kamu, karena memang, pernikahan ini hanya karena hutang yang ayahku punya saja."
"Din, kamu salah paham, Dinda! Semua ini tidak benar. Apa yang perempuan ini katakan bohong, Dinda. Tolong dengarkan aku, biar aku jelaskan."