
Bukan tanpa alasan penyamaran itu Lula lakukan. Semua karena ingin menarik Ilya agar bisa dekat dengannya. Semua sudah Diani pikirkan baik-baik. Dan, semua yang terjadi, tak lepas dari rencana Diani semata.
"Saya gak papa kok, Pak. Saya ... aduh! Sakitnya," ucap Lula sambil memegang kakinya yang terlihat agak lecet.
'Dasar sialan! Jika bukan karena ancaman Diani, mana mungkin aku rela terluka seperti ini. Mana yang turun hanya sopir si Ilya bajingan itu saja. Si Ilya nya malah duduk diam di dalam mobil. Benar-benar pria yang berhati dingin ternyata. Pria sombong tanpa belas kasihan.' Lula berucap dalam hati sambil terus mengelus kakinya yang terasa cukup sakit.
"Saya minta maaf, nona. Kemunculan nona benar-benar sangat mendadak. Beruntung, mobil masih bisa saya hentikan meskipun sedikit terlambat."
'Hah! Ucapan itu terkesan menyalahkan aku. Tapi ... emang benar sih, aku yang sengaja muncul secara mendadak. Ya memang niatnya agar mobil ini menabrak aku. Diani sialan. Semua ini adalah ulahnya.'
Lula mencoba terlihat baik-baik saja meskipun saat ini dia sedang sangat kesal plus, sedang kesakitan. "Gak papa kok, Pak. Bukan salah bapak juga. Aku yang tidak berhati-hati saat mengendarai sepeda ini. Karena itu, kecelakaan ini menimpa aku."
Sementara pak Toha sedang sibuk bicara dengan Lula, Ilya yang sedang menunggu di dalam mobil merasa semakin cemas. Ia pun tak sabar lagi untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di luar. Karena itu, dia memilih bicara dengan suara tinggi dari dalam mobil tersebut.
"Pak Toha! Apa yang terjadi sekarang? Apa semua baik-baik saja?"
__ADS_1
"Tidak, Den Ilya. Semua tidak baik-baik saja. Kaki nona ini sepertinya terkilir. Dia butuh pengobatan. Kita harus membawanya ke rumah sakit."
"Bawa masuk ke dalam mobil secepatnya. Lalu, kita bawa dia ke rumah sakit. Jangan terlalu lama bicara di luar. Ada banyak hal yang harus kita selesaikan, bukan?"
"Baik, Den. Saya akan lakukan apa yang Den Ilya katakan."
Lula yang mendengar pembicaraan itu semakin tidak suka pada Ilya. Ia beranggapan, Ilya adalah pria yang sangat sombong dan angkuh. Bisa-bisanya bicara seperti itu pada sopirnya yang saat ini sedang menolong orang yang dia tabrak.
"Majikan bapak sepertinya sangat sibuk. Sampai-sampai, dia meminta bapak langsung menyelesaikan apa yang terjadi dengan cepat. Dia pikir, semua yang terjadi itu seperti membalikkan telapak tangan apa? Sangat mudah di lakukan hanya dengan mengubahnya saja." Lula berkata dengan nada kesal.
"Oh, begitulah? Sangking banyaknya urusan, dia sampai terlihat sangat angkuh dan sombong. Hanya bicara dari dalam mobil saja tanpa berniat turun sebentar saja."
Pak Toha melihat Lula dengan tatapan lekat. Tapi, hanya sebentar saja. "Den Ilya bukan tidak ingin turun, Nona. Tapi, dia memang tidak bisa turun."
Lula yang sedang melangkah dengan bantuan pak Toha pun langsung menghentikan langkah kakinya yang ingin menuju mobil. "Maksud bapak apa?"
__ADS_1
"Den Ilya tidak bisa jalan. Karena itu, dia tidak turun dari mobilnya sekarang."
Tubuh Lula pun membeku seketika. Ucapan pak Toha cukup membuatnya kaget. Karena sebelumnya, Diani tidak pernah menyingung soal Ilya sebelumnya. Jadi, mana dia tahu kalau Ilya saat ini sudah cacat. Karena dulunya, Ilya masih seorang pria yang sempurna.
Dengan wajah tampan, gigi yang tersusun rata, juga tubuh atletis yang begitu terbentuk dengan baik. Singkatnya, dia terlihat seperti atris yang begitu menawan dengan kesempurnaan fisik yang ia miliki. Karena itu, dengan mudahnya ia memikat banyak wanita jatuh ke dalam pelukannya. Terlepas dari gelar playboy yang ia sandang tentunya.
"Lumpuh? Ba-- bagaimana bisa?" Tanpa sadar, Lula berucap kata-kata yang membuat pak Toha langsung mengernyitkan matanya karena bingung.
Sadar akan hal tersebut, Lula pun segera memperbaiki ucapannya yang salah barusan. "Ah, maksud saya itu ... majikan bapak lumpuh karena apa? Sengaja bawaan lahir, atau lumpuh karena sesuatu."
"Oh. Mm .... Den Ilya lumpuh karena kecelakaan tiga tahun yang lalu. Bukan bawaan lahir kok, Nona. Oh ya, ayo cepat masuk! Kita harus segera ke rumah sakit," ucap pak Toha sambil membuka pintu mobil bagian depan.
"Saya ... duduk di depan?" Lula berucap karena ia sedikit tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"Iya, nona. Maaf, den Ilya tidak suka duduk bersama perempuan yang tidak ia kenali sekarang. Karena itu, saya membuka pintu depan untuk nona."
__ADS_1
Ucapan itu membuat Lula paham akan perubahan drastis yang telah terjadi pada Ilya. Pria bajingan itu sudah berubah jauh. Dia yang dulu begitu suka gonta ganti perempuan, kini malah tidak suka dekat perempuan yang dia anggap asing baginya. Sungguh perubahan yang luar biasa.