Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 40


__ADS_3

Pada akhirnya, Dinda mengalah akan keadaan yang membuat dia tidak punya pilihan lain. Meskipun hatinya masih sakit akibat apa yang sudah dia saksikan dengan mata kepalanya, tapi kondisi Ilya yang memburuk diluar logika itu membuat hatinya tidak kuat untuk tetap bertahan dalam kemarahan.


Dinda dan mbok Yah pun kembali ke kota sebelah sore itu juga. Tanpa menyiapkan apapun, Dinda yang ikutan panik langsung beranjak meninggalkan rumah tantenya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dalam keadaan diam dengan pikiran masing-masing. Akhirnya, mereka tiba juga di rumah sakit saat senja berganti malam.


Kedatangan mereka di sambut oleh mang Mamat di depan lobi rumah sakit. Dengan langkah besar, mereka menuju lantai dua tempat di mana Ilya sedang di rawat saat ini bersama-sama.


Tiba di depan kamar yang berada di pojokan ruangan tersebut, langkah Dinda langsung terhenti ketika mendengar rintihan kesakitan yang datang dari kamar tersebut. Dan dari kata kecil yang terdapat di pintu kamar tersebut, Dinda bisa melihat Ilya sedang berjuang melawan rasa sakit pada tubuhnya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Ilya yang merintih sambil menggenggam erat tepi ranjang yang ia tempat membuat air mata Dinda jatuh seketika. Perasaan bersalah pun langsung muncul dalam hati Dinda sekarang. Ternyata, Ilya begitu menderita hanya karena keegoisannya. Andai saja dia tidak begitu egois dengan tidak meninggalkan Ilya, atau mungkin dia bisa mendengarkan penjelasan Ilya barang sebentar saja. Mungkin keadaan Ilya tidak akan seburuk ini.


Itulah yang Dinda pikirkan saat ini. Sampai, kaki dan tangannya bergetar dan terasa membeku akibat rasa bersalah juga rasa kasihan akan keadaan Ilya saat ini. Ilya yang berkeringat dingin itu terlihat sedang sangat kesakitan. Membuat Dinda tidak ingin masuk sekarang.


"Kak Ilya." Dinda berucap pelan sambil menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Air mata terus saja jatuh. Karena itu, dia masih tidak sanggup buat masuk ke dalam.


Mang Mamat pun langsung menyentuh bahu istri dari majikan yang ia rawat sejak kecil seperti anaknya sendiri dengan penuh rasa simpati. Dia pun berucap pelan. "Non, masuklah! Mang yakin kalau non masuk, den Ilya akan semakin kuat untuk melawan rasa sakit yang ia derita."


Dia kesal karena hatinya sangat sedih akan keadaan Ilya saat ini. Ilya yang berjuang keras untuk menaklukkan rasa sakit yang sedang menggerogoti tubuhnya. Pria yang sempat membuat ia sakit hati beberapa saat yang lalu, ternyata sangat menderita sekarang. Mana bisa Dinda tetap menyimpan rasa sakit hati untuk pria itu lagi.

__ADS_1


Sementara itu, mang Mamat yang mendapat pertanyaan seperti barusan itu langsung melirik istrinya yang kini tetap diam tanpa berniat ikut bicara. Selanjutnya, dengan wajah sedih ia alihkan pandangan ke arah Dinda yang kini ada di hadapannya.


"Bukan dibiarkan, non Dinda. Tapi belum punya cara untuk menolong. Sejak masuk ke rumah sakit saat pagi menjelang siang tadi, den Ilya sudah menerima dua kali obat penenang. Sedangkan obat pereda rasa sakit pula, sudah tiga atau empat kali ia dapatkan. Tapi sepertinya, rasa sakit itu sangat kebal akan obat-obatan yang tubuhnya terima. Obat-obatan itu hanya bertahan beberapa menit saja. Setelah itu, dosisnya akan menghilang dan kembali sakit seperti saat ini."


"Ap-- apa? Kak Ilya begitu sangat menderita sekarang? Itu semua ... karena aku." Dinda berucap sambil tergugu karena sangat sedih dan sangat merasa bersalah.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, non. Karena apa yang terjadi tidak akan bisa dirubah lagi. Tapi, apa yang terjadi bisa kita jadikan pelajaran agar ke depannya tidak terjadi hal yang buruk lagi." Mbok Yah pula berucap dengan suara pelan.


"Apa yang si mbok katakan benar, Non. Sekarang, jangan menangis dan jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Sebaiknya, non Dinda masuk ke dalam. Temui den Ilya dan berilah ia semangat agar dia bisa melawan rasa sakitnya. Karena saat ini, dia sedang patah harapan, Non." Mang Mamat pun semakin menambah nasehat yang sudah istrinya ucap.

__ADS_1


Dinda pun tidak menjawab dengan ucapan lagi. Kali ini, dia langsung mendengarkan apa yang suami istri itu katakan. Beranjak masuk ke dalam untuk menemui Ilya meskipun hatinya masih terasa sangat amat canggung.


Dinda masuk sendirian ke dalam kamar tersebut. Sementara mbok Yah dan mang Mamat hanya menunggu di luar. Kehadiran Dinda tidak Ilya hiraukan lagi sekarang. Karena rasa sakit yang ia derita membuatnya lupa akan dunia sekeliling.


__ADS_2