
Di pagi hari Aruna beserta keluarga nya pergi ke rumah Raka karena mereka berencana ingin bertemu dengan desainer atas perintah Maya
Maya yang berperan penting di acara anak nya itu karena saking dia pengen cepet-cepet punya anak perempuan
"Nah kita semuanya kan udah ada nih gimana kalau kita langsung pergi aja ya"ucap Maya
"Iya Buk Maya ayok kita pergi"ucap Dina
"Tapi Buk Dina dan Pak Angga ikut ke mobil saya ya dan Una berangkat bareng Raka"ucap Maya
"Emm emangnya Una nggak bisa di mobil Om Ferdi aja Ya Tante?"tanya Aruna
"Nggak boleh"ucap Maya
"Tapi kan badan Una kecil masa nggak bisa"
"Nggak bisa sayang, kamu sama Raka aja ya"
Aruna menatap wajah Raka dan sebaliknya Raka juga menatap wajah Aruna
"Ehhmm"dehem Maya membuat Aruna dan Raka memalingkan wajahnya
"Nanti kalau di mobil jangan lihat-lihatan terlalu lama bahaya lo"ucap Maya menggoda Raka dan Aruna
Maya tertawa kecil di ikuti oleh Ferdi, Dina, dan Angga yang melihat wajah menggemaskan dari wajah Aruna dan Raka
"Ya udah ayok kita pergi"ucap Maya
"Mobil kamu duluan ya Raka"
"Iya Ma"
Raka menaiki mobilnya sedangkan Aruna bingung mau duduk di kursi mana karena Aruna melihat yang lainnya sudah masuk
Maka dia memutuskan untuk duduk di kursi belakang
Pada saat Aruna sudah mau duduk tiba-tiba di larang oleh Raka
"Woi lo mau ngapain?"tanya Raka
"Ya mau duduk lah kak"jawab Aruna
"Emang lo pikir gue supir taksi gitu, duduk di depan"perintah Raka
Aruna langsung menutup pintu belakang dan duduk di kursi depan
"Sabar Una...Sabar"ucap Aruna dalam hati
Setelah Aruna duduk di kursi samping pengemudi Raka langsung menancapkan gas nya
Di sepanjang perjalanan Aruna dan Raka tidak pernah saling bicara satu sama lain
Raka sesekali melirik Aruna yang dari tadi terus menatap ke luar
Raka melihat cincin yang berbeda di jari manis Aruna yang kemarin dia kenakan
"Kenapa lo nggak buka aja tuh cincin"ucap Raka yang memulai pembicaraan
"Lo ngomong sama gue?"tanya Aruna
"Bukan gue ngomong sama tokek,ya sama lo lah kan di sini cuma ada lo sama gue"ketus Raka
__ADS_1
"Kenapa gue harus lepasin?"
"Kan lo nggak mau sama gue"
"Lo sendiri kenapa nggak buka tuh cincin?"tanya Aruna
"Gue nggak mau kalau Mama gue nanti nanya terus dia marah, nggak usah ke ge'eran jadi cewek"
"Siapa juga yang ge'er,gue juga sama kali gue nggak mau harus membuat kedua keluarga kita sedih walaupun aku yang harus jadi korbannya"ucap Aruna tiba-tiba sendu
Raka melihat wajah Aruna yang terlihat sedih sebenarnya jika di kasih pilihan Raka juga nggak mau kalau harus dijodohkan seperti ini
Tapi demi orang tuanya dia akan siap apalagi jika melihat mamanya itu senang dan bahagia apapun dia akan lakukan
Walaupun dia harus menerima perjodohan ini dengan keadaan terpaksa
Sesampainya mereka di sana semua keluarga langsung melihat-lihat baju yang akan di kenakan sekeluarga baik itu dari keluarga Raka maupun dari keluarga Aruna
"Nah ini cocok"ucap Maya
"Iya ini juga cocok "ucap Dita
Aruna hanya mengiyakan apa saja yang di katakan oleh kedua wanita itu dia sudah sangat pasrah
Yang dia rasakan sekarang hanya bisa cepat pulang lalu dia ingin merebahkan tubuhnya
Dia ingin tidur karena kemarin malam iya cuman tidur beberapa menit
"Sayang kamu kenapa,kok kamu lesu gitu sih?"tanya Maya lembut
"Una kecapean Tante, Una rasanya pengen tidur"jawab Aruna
"Ya udah kan gaun kamu udah ada jadi kamu ke mobil aja ya tidur"ucap Maya
"Udah nggak apa-apa sayang ini kan demi kesehatan kamu juga"
"Iya udah deh Una ke mobil duluan ya"pamit Aruna
"Iya sayang,,emm Raka kamu bawa Una ke mobil kamu ya dia mau istirahat"
"Iya Ma"ucap Raka sambil menganggukkan kepalanya
Dan melangkah ke mobil nya dan di susul oleh Aruna
Sesampainya di mobil Aruna langsung merebahkan tubuhnya
"Lo tidur di sini aja, gue juga udah nyalain ace nya"ucap Raka datar
Aruna hanya menggunakan kepalanya lalu menutup matanya karena dia sangat mengantuk dia langsung tertidur pulas
Dan Raka langsung kembali ke keluarga nya
"Gimana Una udah tidur?"tanya Maya saat Raka sudah sampai di depan mereka
"Udah Ma"ucap Raka
"Oh ya udah kalau gitu kita langsung pilih baju cepat ya kasian Una"ucap Maya semua orang menggunakan kepalanya kecuali Raka yang acuh tentang kehidupan Aruna
Setelah beberapa menit kemudian Raka dan keluarganya telah selesai berbelanja dan mereka memutuskan untuk pulang
Raka menatap wajah Aruna yang seperti nya sangat kecapean
__ADS_1
Dia baru tidur dengan nyenyak tapi Raka tidak mau peduli dia tidak ingin memikirkan hal itu
Handphone Raka berbunyi menandakan ada pesan dari siapa lagi kalau bukan ke dua anak bebek itu
"Ka gue sama Ion ke rumah lo ya, kita bosen nih"
"Nggak, gue lagi keluar bareng keluarga gue, gue juga nggak nerima tamu"
"Ya ellah pelit lo"
"Bodo pokoknya nggak boleh"
Setelah mengetik pesan itu Raka langsung menancapkan gas nya untuk pulang
Seketika Aruna terbangun
"Kita di Mana?"tanya Aruna
"Di angkasa"jawab Raka datar
Aruna menghembuskan nafasnya panjang dan mengumpulkan sebagian nyawanya dulu
Tiba-tiba handphone nya berbunyi telpon dari Novi
"Halo nov ada Apa?"tanya Aruna
"Halo Una lo di Mana?"tanya Novi
"Di jalan"jawab Aruna
"Di jalan?lo dari Mana?"tanya Novi, Aruna menatap Raka yang menatap Aruna juga
"Eemm gue habis dari ya cari angin aja sih"jawab Aruna berbohong
"Ih lo kesini ya,gue sama Sela nih mau ke mall"
"Buat apa?"tanya Aruna
"Ya kita mau beli baju sekalian kalau lo ada di sini kita beli baju cuplean"
"Emm kayak nya kalau hari ini nggak bisa deh soalnya gue lagi bareng keluarga gue! lain kali aja ya"ucap Aruna
"Ya Una gimana dong"
"Iya sorry ya gue bener-bener nggak bisa"
"Iya udah deh tapi lain kali harus pergi ya nggak boleh nggak"
"Iya"
"Bener ya kalau nanti lo nolak lagi gue kasih lo hukuman"ancam Novi
"Iya Novi sayang"ucap Aruna sambil tersenyum manis
Dia tidak sadar bahwa Raka ada di dekatnya pada saat dia sudah sadar dia melihat ke arah Raka
Raka juga merasa tidak enak entah kenapa
"Emmm ya udah udah dulu ya by...by..."ucap Aruna
"Oke bay"ucap Novi dan sambungan telepon nya pun terputus
__ADS_1
Pada saat Aruna sudah mematikan teleponnya di langsung berdehem untuk mencairkan suasana di dalam mobil yang hanya ada dirinya dan Raka
Bersambung...