
"Ayah ,aku punya tas dan sepatu baru bagus lho ,yah,"ucap Dafa.Dia loncat - loncat kegirangan.
"Oh ,ya bagus sekali tasnya Dafa,"ucap mas Ryan.
"Siapa dulu ,Dafa!" . Sambil berlari menenteng tas dan memakai sepatunya.
Hal sekecil itu telah membuat anakku bahagia.Ku lihat anakku senangnya bukan main,aku juga merasa bahagia melihatnya.
Pagi telah tiba sang Surya bangun dari singgasananya sinarnya membawa keceriaan.Dafa pagi ini bangun pagi-pagi sekali.Padahal sebelum ini Dia paling susah di bangunkan.Sepertinya Dia semangat sekali mau berangkat ke sekolah.
Aku heran sama Mas Ryan katanya uang laundry dia yang pegang, tetapi kebutuhan keluarga Dia kesampingkan.Memang semua gratis,aku saja yang gratis kali ! masuk WC umum saja membayar, memang seperti aku di perlakukan semena - mena sama Mas Ryan.Tidur gratis,makan gratis apa - apa tinggal bilang saja aku sediakan, seperti sapi perah saja aku ini,tapi ya sudahlah kenapa aku mengeluhkan nyatanya aku tetap saja tidak bisa meninggalkan Mas Ryan.
Entahlah apakah aku takut kalau janda jadi nggak punya suami, ya iyalah namanya janda itu, nggak punya suami gimana Sich!
Sebetulnya aku nggak tahu perasaanku pada Mas Ryan, apakah cinta atau benci atau apa,ya.
Soalnya di bilang cinta sepertinya tidak tetapi kenapa aku tidak bisa meninggalkan Mas Ryan .Di bilang benci tapi dia juga Suamiku dan ayah dari anakku.
Padahal kalau di pikirkan aku punya suami sama seperti tidak punya suami, buktinya semuanya kebutuhan sehari-hari aku yang tanggung dan kebutuhan keluarga lainnya.
Mas Ryan sepertinya lepas tangan dari tanggung jawab jadi kepala rumah tangga, tetapi nafkah batin dia tidak pernah lupa.Apakah ini adil untukku.
__ADS_1
Juga soalnya laundry,Mas Ryan yang pegang ,aku yang nyuci laundry , nyetrika laundry dan Mas Ryan yang menghabiskan uangnya laundry di meja judi, apakah ini adil untukku.
Lalu kepada siapa aku harus menuntut keadilanku? apakah kepada angin sepoi-sepoi atau kepada dahan ranting pohon samping rumah.
Semuanya membisu kelu , tidak ada yang bisa menyelesaikan masalahku.Aku harus menyalahkan siapa dan pada siapa.
Juga tak ada penghujung titik temu.
Apakah sampai menua dan akhir hayat ku mengabdi dan mengorbankan jiwa ragaku pada Mas Ryan.Kenapa semua terjadi padaku.Sampai aku detik ini , tidak punya cinta sejati, yang ku punya saat ini adalah pengabdian dan tanggung jawabku sebagai seorang Ibu dan seorang istri.
Ku pandangi anakku,bak kertas putih polos belum ternoda ,aku menghela nafas panjang dan berat.
"Yuk Dafa Sayang berangkat ke sekolah jangan salam sama ayah dulu,"ucapku.
"Yah ,Dafa berangkat ke sekolah ya,Yah,"ucap Dafa.
"Ya , sayang sekolah yang pintar ya,ingat jangan nakal.", ucapku.
"Oke ,Yah," ucap Dafa.
Dafa begitu menggemaskan.Lalu kami saling bergandengan,jalan kaki menuju ke sekolah, sampai di depan sekolah bel berbunyi, langsung masuk ke kelas masing-masing.
__ADS_1
"Ibu aku takut ,Ibu ikut masuk ke kelas ya,"ucap Dafa.
"Iya ,tapi besok - besok Ibu tunggunya di luar ya ,"ucapku.Lalu aku dan Dafa masuk ke kelas.
Lebih parahnya di dalam kelas, Dafa tidak mau duduk sendiri,dia maunya duduk di pangkuanku.Dafa, Dafa beraninya di rumah kalau di luar penakut.
Setelah sekian lama akhirnya bel istirahat berbunyi ,aku menyiapkan jualanku es kelapa muda yang sudah aku bungkus dengan cup kecil - kecil.
Bismillah mudah - mudahan laku!
Untuk kesekian kalinya jualan es kelapa muda habis semua, Alhamdulillah Allah mendatangkan rintihan umatnya.
Ku lihat Dafa bermain ayunan sama temannya cewek.
"Annisa ayo naik nanti aku dorong ayunannya," ucap Dafa.
"Tapi janji pelan pelan dorongnya, ya ,"ucap Annisa .
Rupanya Anakku cepat berbaur dengan temannya.Dan dia juga sangat mudah untuk berkenalan dengan teman - temannya.
"Tet tet tet teeet ,"bel masuk berbunyi Lalu aku menuntun anakku masuk ke kelas, termos es ku letakkan di kursi depan.
__ADS_1
Di dalam kelas Dafa masuk asyik bermain ayunan, yang ada di pojok kelas
"Sayang ayo turun dulu kita menulis dulu Ayunannya nanti lagi ya.