
Marsha syok mendengar perkataan Ryan begitu menusuk hatinya. Sebegitu benci kah Ryan kepadaku yang kini telah berstatus suamiku itu.
Walaupun dia di paksa menikah oleh ibunya, namun kebahagiaan tidak pernah dia dapatkan justru siksaan demi siksaan yang di dapatkan oleh Marsha.
Tapi apakah harus setiap hari aku mendapatkan perlakuan kasar seperti ini.
Dia ingin menangis saat itu juga, namun sepertinya air matanya sudah habis dan kering, karena setiap hari hanya meratapi nasibnya.
Terlihat di sudut air mata itu menetes dengan sendirinya.
Rasa ketidak berdayanya terhadap Ryan. Sudah Lima tahun dia berdampingan dengan pria seperti itu.
Hatinya bertanya tentang sanggupkah dia bertahan dengan perlakuan Ryan selama ini.
Emosi tergambar jelas saat Ryan menampar dan mencekik Marsha .Di pipinya masih tertinggal rasa panas dan nyeri.
Memang sangat perih seperti tergores sembilu.
Kenangan itu masih jelas di pelupuk mata, saat Ryan melamarnya dan meminta restu ibunya.
__ADS_1
Ku ayunkan langkahku menuju kamarnya Anakku Dafa,dia masih tertidur pulas, begitu juga Baby Queen yang berada di kasur sebelahnya.
Hanya demi anakku aku masih bisa bertahan, sesakit apapun siksaan dan deritaku akan ku telan demi kebahagiaan Anakku.
Hatinya tidak terima di katakan pembawa sial dan pembuat bangkrut usahanya
Mungkin para wanita lain menginginkan menikah dengan Ryan,tapi bukan termasuk dirinya di dalamnya.
Dulu saja awal ketemu sok manis - manis dan sopan, sehingga ibu kepincut menjadikannya menantu.
Namun sosok pria yang manis dan sopan hilang begitu saja,kini yang ada hanya pria yang kasar dan temperamen, bukan hanya temperamen tapi juga sadis
Apa aku menyukainya? tidak . Ini hanya sekedar pengabdian ku sebagai istri terhadap suaminya.
Kenapa ada
dilema antara suka dan benci.antara kewajiban dan siksaan.
Mataku menatap pias ke arah luar jendela.Di luar daun daun berlenggak lenggok menertawakan diriku yang rapuh.
__ADS_1
Buat apa aku berlabuh dengan gayung sebelah dadanya terasa sesak, untuk tersenyum pun tidak bisa dia lakukan. Bahkan orang yang ku labuh kan tak pernah mengharapkan aku.
Sampai kesekian detik sudah tengah malam ,dan mata ini nggak mau terpejam.Sedangkan Ryan sudah berangkat lagi pergi begadang bersama teman - temannya.
Memang rumah tangga kami semakin lama di bilang nggak harmonis, hanya saja aku terus berusaha untuk diam ,dan mempertahankan rumah tangga kami.Ku jalani sebagai lakon seorang istri walau hanya tertera di atas kertas.
Sampai adzan subuh berkumandang aku baru merasakan kantuk,lalu ku ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan shalat subuh.
Setelah selesai sholat aku rebahan sebentar untuk menghilangkan penat di kepalaku.
Baru saja aku terlelap terdengar suara pintu terbuka dengan di banting keras.
Ternyata Ryan pulang dengan baju lusuh serta Hem yang di taruh kan di pundak.
Sepertinya dia kalah judi lagi, karena terlihat dirinya yang uring-uringan menggerutu sendiri.
Aku pura-pura tidur agar tidak menimbulkan masalah lagi.Tiba- tiba "buk," Ryan menendang diriku dari belakang.
"Cepat bikin aku kopi,dasar istri tidak tahu diri jam segini masih molor,"gerutunya.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara aku langsung menuju ke dapur untuk membuat kopi , dari pada aku nanti di marahi lagi.
Kadang aku bertanya dalam hati, sebenarnya aku disini itu istrinya atau pembantunya?