
Tiba-tiba Ryan mencekik leher Marsha, sehingga Marsha sulit untuk bernafas.
Mata Marsha terbelalak dan syok melihat perlakuan Ryan terhadap dirinya.
Kenapa Ryan tiba-tiba marah tanpa alasan.
"A-aku capek bekerja seharian!!!" ucap Marsha dengan nafas yang sesak.
Namun Ryan terlihat senyum sinis dan kejam.
Ryan menyiksa Marsha dengan mencekik lehernya sehingga tampak wajahnya Marsha terlihat kemerahan.
Marsha menarik -narik lengan Ryan agar di lepaskan.
Pria di depannya di selimuti kebencian dan dendam yang dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan Ryan begitu marah kepadanya.
Usahanya sia- sia untuk berusaha lepas dari cekikan tangan Ryan.
Jadi terlihat dia putus asa dan pasrah dengan keadaan ini.
"Apa aku harus mati dengan cara seperti ini?" suara batinnya.
"Apa dengan aku mati dia akan bahagia!!!".
Marsha hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.
Melihat kondisi Marsha yang pasrah bukan keinginan Ryan.
Ryan berharap Marsha memberontak terhadap dirinya agar Ryan bisa menyiksa dirinya lebih dari itu.
__ADS_1
Rahang yang mengeras menatap tajam kearah wajah yang terlihat pasrah di depannya, sehingga Ryan menghembuskan Marsha ke lantai.
Marsha merasa tersengal-sengal nafasnya. Marsha kesulitan bernafas untuk beberapa Marsha merasakan ada jari -jari kekar Ryan yang membekas di lehernya.
Tiba-tiba Ryan mulai mendekati Marsha kembali.
Marsha kembali tegang, sehingga Marsha perlahan bergerak mundur menjauhi Ryan.
Hal ini sangat di sukai oleh Ryan, karena terlihat sangat jelas di wajahnya dengan senyuman devilnya.
Bagi Marsha sangat ketakutan tetapi tidak bagi Ryan dia sangat senang bisa menyiksa Marsha.
Hati Ryan mulai lega karena sudah melampiaskan amarahnya terhadap dirinya Marsha.Kalau saja Marsha seorang pria mungkin saja wajahnya sudah babak belur saat ini.
Ryan berjalan pelan mendekati Marsha, namun Marsha sudah tegang dan ketakutan.
"Kamu layak mendapatkannya dasar pembunuh!!!"
Dech!
Jantung Marsha langsung kaget mendengar suaranya Ryan.Pembunuh Dia?
Itu tidak mungkin?
"Membunuh? A-aku,"belum sempat bertanya Ryan telah meninggalkan dirinya yang tengah duduk di lantai.
Marsha ingin mengejar Ryan dan ingin menanyakan tentang kesalahan pahaman itu.
Namun langkahnya terhenti karena saat ini bukan waktu yang tepat, bisa - bisa dia jadi sasaran amukan Ryan lagi.
__ADS_1
Masih teringat perlakuan Ryan terhadap dirinya dan beberapa pertanyaan yang ada di pikirannya, membuat Marsha tidak bisa tidur nyenyak.
Pagi-pagi sekali Marsha seperti biasanya menyiapkan sarapan pagi untuk Ryan dan Daffa namun dirinya sendiri tidak boleh ikut makan dan mencicipi makanan nya.
Pernikahan baru berjalan lima tahun , tapi hal itu bukan waktu yang singkat baginya.
Melakukan tugas-tugasnya sebagai istri melakukan semuanya sendiri adalah hal terberat baginya.
Iya bahkan lupa kalau dirinya nyonya Ryan.
Lebih tepatnya dia adalah seorang istri yang tidak di anggap keberadaannya oleh suaminya sendiri.
Marsha menggeleng-gelengkan kepalanya saat teringat kata-kata Ryan semalam.
Perkataan suaminya membuatnya kacau dan gelisah karena dia tidak pernah melakukan hal yang di tuduhkan ya oleh Ryan.
"A-aku bukan pembunuh ," batinnya sambil mengupas bawang Bombay.
"Ibu aku bantu ya," ucap Daffa.
"Daffa ke sini ada mainan baru untukmu," ucap Ryan.
Ucapan keduanya menyadarkan aku dari lamunanku."Iya Daffa tunggu saja sambil bermain dengan bapak dulu ya," ucapku sambil menatap arah Ryan yang tengah berdiri di ambang pintu.
Sorotan matanya yang tajam seakan mau menelanku.
Matanya yang tajam penuh amarah dan dendam.
Bersambung
__ADS_1