
Ryan berdiri di depan pintu kamar Marsha yang dulunya gudang sekarang jadi kamarnya Marsha.
Sambil berdiri di depan pintu, tangannya menyilang di dada dan menatap tajam ke arah Marsha.
Lalu Marsha menatap Ryan, jantungnya berdetak kencang kemudian kepalanya menunduk terlihat ketakutan karena tingkahnya Ryan terlihat kasar dan dingin.
"Kau tidak memasak makan malam buatku ,huuh!!"
Laki- laki itu pekerjaannya hanya memerintah saja namun tidak akan pernah menyentuh Marsha.
Jangankan menyentuh melihatnya saja dia muak.
"Mulai hari ini kau menyiapkan makanan untukku tetapi kau tidak boleh ikut makan, karena itu makanan beli pakai uangku, kalau kau ingin makan cari kerja dan beli makanan untukmu sendiri, sedang Dafa tidak boleh tahu hal ini, mengerti kamu!!!"
Ryan membanting pintunya kamar Marsha dan mencengkram dagunya Marsha sambil memicingkan matanya yang tajam.
"Iya aku mengerti,"
"Bagus kalau begitu, kalau kamu masih ingin bersama Daffa di sini, kamu harus turuti semua perintahku,"
__ADS_1
Kembali lagi Ryan menggertak Marsha dengan ancaman yang menindas nya.
Pria itu mengatakan bahkan tanpa menunjukkan ekspresi.
Berbeda dengan Marsha yang mendengar apa yang di perintahkan Ryan, dirinya sangat terkejut "Di suruh memasak tapi tidak boleh ikut makan?"
"Terus aku harus cari uang di mana supaya aku bisa makan?"
"Aku tidak mau tahu lakukan saja apa yang sudah aku perintahkan!!!"
Pria itu benar-benar tidak peduli apa yang telah menjadi istrinya itu.
"Masih saja duduk di situ,kamu tidak mau membuatkan aku masakan?"tanya Ryan.
Marsha yang tadinya termenung sejenak kemudian tersentak kaget mendengar suaranya Ryan.
Kemudian Marsha beranjak bangun dari tempatnya duduk dan berdiri melangkah menuju ke dapur.
Begitu sampai di dapur Marsha terkesiap karena semua belanjaan sudah ada komplit di dalam kulkas, dulunya biasa Marsha yang pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan, tetapi sekarang tidak karena semua sudah ada.
__ADS_1
karena semua komplit, Marsha jadi bersemangat memasaknya, sejenak kemudian dia melupakan perlakuan Ryan terhadap dirinya.
"Lebih baik membuat sup supaya Dafa juga bisa ikut makan karena tidak pedas,"suaranya pelan sambil mengambil bahan yang ada di kulkas.
tangannya begitu lihai dalam memasak memainkan pisau di atas telenan , memotong sayuran yang akan di celemek berwarna hitam tengah di pakai dan rambutnya yang panjang di Cepol di belakang.
Beberapa saat Marsha bersenandung dan lupa akan sekitar dua meter di depannya ada meja makan dan buah buahan segar.
Suaranya terdengar sampai di kamar Ryan, membikin Ryan penasaran siapa yang menyanyi semerdu itu.Lalu dia pergi ke luar untuk melihatnya.
Namun setelah apa yang di lihatnya ternyata Marsha, dia jadi 180 derajat berubah bencinya kepada Marsha.
Tatapan matanya tidak menunjukkan sedikitpun kesukaannya pada wanita yang tengah menyiapkan makanan untuknya.
Ketika kehidupan keluarganya di hancurkan Ryan,dia mulai dari awal dan semua kebutuhannya sendiri dia biayai sendiri dan dia berusaha mandiri.
Semuanya beres lalu dia memanggil Ryan dan di suruh nya makan.
Ryan makan dengan rakusnya sedangkan Marsha berdiri di samping mejanya hanya melihatnya sambil menelan ludah, walaupun perutnya keroncong dia harus bertahan dia aka pergi ke warung makan setelah ini selesai.
__ADS_1
Dan mulai saat ini dia harus memikirkan hal lain yang bisa menghasilkan uang dengan begitu dia tidak akan kelaparan lagi.Bersambung