
Setelah semuanya selesai Ryan kembali ke kamarnya, tetapi Marsha membereskan sisa makanan yang di meja, kemudian dia membeli nasi bungkus di warteg sebelah rumahnya yang isinya hanya nasi dan kering saja,mau tambah yang lain takut uangnya nggak cukup untuk seminggu dia makan.
membayangkan dirinya tidurnya di tikar dia sudah bergidik ngeri, bagaimana kalau nanti malam dia menggigil kedinginan karena tembusnya lantai menembus dasarnya tikar
Sesaat kemudian Marsha telah selesai makan dan masuk ke kamarnya yang melewati kamarnya Ryan dengan kasur yang empuk,di tolehnya Ryan sudah terlelap dengan pulsanya.
Sesampainya di kamar dia langsung merebahkan tubuhnya di atas tikar, dia membayangkan dirinya dan membandingkan dengan Ryan yang di kasur empuknya.
Tidakkah pria itu merasa kasihan padanya , dia lalu menghela nafasnya yang berat.
Seumur - umur baru kali ini dia harus menyiksa dirinya dengan tidur tanpa kasur.
Di rumahnya saja dulu walaupun rumah repot dan tampak sederhana, tetap saja tidurnya di kasur.
Namun di sini hanya ingin selalu bersama Dafa,di samping Daffa sampai dia besar nanti , sungguh miris hidupnya.
Padahal hidupnya dengan orang yang di segani di kampungnya itu.Berbeda dengan sikapnya terhadap Ryan,dia sangat patuh dan hormat sesuai posisinya sebagai istri.
Cakrawala menerobos masuk ke kamarnya terasa hembusan angin sepoi -sepoi menyeruak masuk lewat jendela.
__ADS_1
Wajahnya terlihat kusut karena tidak bisa tidur nyenyak semalaman.
Ingin rasanya Marsha menangis sekencang-kencangnya dan berteriak-teriak melepaskan sesak di dadanya,tapi apakah daya,itu semua perlakuan suaminya sendiri.
Lagi lagi dia haru menelan mentah-mentah kepahitan hidupnya.
Sedari tadi Marsha ngomel -ngomel sendiri, berbanding terbalik dengan Ryan.
Semburat warna cerah terlihat di wajah Ryan.
"Bagaimana tidurnya tadi malam istriku nyenyak bukan,"
"Kalau kamu ingin mengejek aku dan menertawakan aku silahkan,tidak usah pakai basa basi segala kalau kamu sudah tahu jawabannya!!!"
"Hati-hati kamu bicara Marsha,di rumah ini siapa yang berkuasa, dan kau harus tunduk dan patuh padaku,"
Ryan meradang mendengar kata-kata Marsha.
Beraninya Marsha melawan kata-katanya.Sungguh di luar dugaan Ryan.
__ADS_1
"Boleh aku tanya apa tujuannya kamu menikah dengan ku?"dengan sangat hati - hati Marsha bertanya kepada Ryan, karena kalau salah bisa kena bentakan pria dingin itu.
"Seharusnya kau bersyukur dan bangga karena aku menjadikan kamu status istri di rumah ini, bukan sebagai pelayan, dasar sampah, sudah jangan banyak bicara bikin hariku buruk pagi ini," jawab Ryan dingin dan kaku.
Apa! bersyukur katanya, apa nggak salah dengar telingaku ini.
Marsha geleng-geleng kepala , bagian mana yang patut di syukuri sedangkan hidupnya bagai di neraka.
"Apa gunanya status kalau perlakuan kamu terhadapku saja Bagai majikan dan pembantunya."
"Plakk," sebuah tamparan mendarat di pipi Marsha.
Karena begitu kerasnya tamparan Ryan membuat badan Marsha terhuyung dan hampir jatuh,lalu dia bersandar di tembok.
Air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Melihat kondisi Marsha, bukanya kasihan padanya tetapi malah kembali mencengkram dagunya Marsha.
"Jangan coba menentang aku kalau kamu ingin di zona nyaman, atau kamu pergi dari rumah ini dan tidak akan pernah ketemu Daffa lagi!!"
__ADS_1
Bagai Sambaran petir kata katanya Ryan,dia hanya bisa pasrah untuk saat ini demi kelangsungan hidup bersama dengan anakku Daffa.Bersambung