
"Ayo kesini,"ucap Mas Ryan.
Aku mengikuti dari belakang sambil melirik dan ketakutan karena tingkahnya yang arogan.
Pria itu hilang di balik pintu dan berjalan tegap penuh makna tersirat.
Langkah kaki Mas Ryan begitu tegas dan berwibawa dengan salah satu tangannya di masukkan ke saku celananya.
Dan kesekian detik Mas Ryan sudah sampai di sudut ruangan.Di suatu kamar paling pojok kanan yang sering digunakan sebagai gudang dia berhenti di situ.
Lalu aku menghampirinya di mana saat mas Ryan akan membuka pintu kamar.
"Ceklek."
"Mulai saat ini kau tidurnya di sini,"jawab Mas Ryan.
"Ini kamarku?"Marsha sangat tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Matanya berkeliling melihat sudut ruangan, bagaimana mungkin ini jadi tidak seperti kamar kasurnya yang penuh debu dan Sofanya sudah rusak termakan usia.Dan banyak kecoa di mana - mana lampunya menyala remang-remang seperti minta di ganti.
Ini lebih tepatnya gudang karena banyak barang tumpukan barang yang tidak terpakai di simpan di sini.
Marsha mencoba maju melihat barang sekitarnya ,di pegangnya meja di depannya , tiba-tiba ambruk dan debu berterbangan.
__ADS_1
"uhuk uhuk ,"aku terbatuk-batuk soalnya alergi debu.Dia mengibaskan tangannya agar kepulan Debi hilang dari pandangannya.
Ruangan itu sangat kotor dan begitu parah kotornya.
Hatinya sangat teriris dan sakit melihat begitu teganya Mas Ryan padanya.
Memperlakukannya seperti pembantu, dia meraba dadanya sendiri , begitu sesak dadanya karena sakit hatinya.
Ini semua karena ketidak berdayanya dia sama Mas Ryan.
"Apa yang kamu lakukan, membuat kepulan debu!!!"kata Mas Ryan sambil membentak - Marsha menoleh ke belakang dan badannya di sandarkan di sudut lemari tua.
"Apa ini benar kamarku."Marsha mengulang pertanyaannya, masih belum percaya.
"Jangan mimpi dan halu ,aku mengajak kamu tidur denganku ,"ucap Mas Ryan.
Aku lalu menunduk dan tidak berani membantah apa yang sudah di ucapkan Mas Ryan.
" Jangan bermimpi kau jadi istriku, kau tidak layak jadi istriku karena kau seorang kacung alias pembantu ,"ucap Mas Ryan.
Marsha masih menundukkan kepalanya,dia sambil meremas tangannya karena kegelisahan di hatinya.
Hatinya sangat teriris dan perih melihat pria di depannya telah melukai hatinya.
__ADS_1
Dia berusaha membendung air matanya, tetapi tak kuasa menahan air matanya mengalir juga membasahi pipinya.
Akan tetapi Marsha masih terngiang janjinya pada ibunya, jadi dia tetap berusaha tegar menghadapi perlakuan Ryan terhadap dirinya.
Ketika suasana hatinya terasa lebih baik, dia menoleh ke arah Ryan namun sosok pria itu sudah tidak ada di posisinya.
Pria itu sungguh keji dan tidak berkemanusiaan sama sekali , meninggalkan Marsha dan menyuruhnya tidur di gudang yang kotor dan penuh debu.
"Aku harus tegar,"ucapnya menguatkan hatinya.
"kamar ini akan menjadi bagus bila aku membersihkannya , dan aku akan menyulapnya menjadi kamar yang nyaman dan indah," tambahnya lagi.
Sreek!!!
Baru saja berjalan rok yang di pakainya nyangkut di paku ujung tembok sehingga sobek.
"Oh ,astaga bajuku sobek, padahal mau beli baju satu saja nggak bisa, nanti ku jahit saja,"ucapku.
"Baju itu buat kain pel saja lebih berharga dari pada tubuhmu,baju itu murah tapi lebih murah dirimu yang murahan," jawab Ryan.
Dekk!!!
Bersambung
__ADS_1