
Setelah kesekian detik berkutat di meja setrika, akhirnya selesai juga laundrynya Bu Dyah.
Lalu aku pergi mengantarkan bajunya Bu Dyah.
"Assalamualaikum Bu,ini saya Marsha mau antar laundry?"
"Oh ,ya sebentar,"
Bu Dyah lalu berjalan keluar membukakan pintu pagar.
"Ayo masuk Marsha, mampir ke rumah tak buatkan minuman,"
"Tidak usah Bu, saya terusan saja, soalnya pekerjaan rumah numpuk Bu, mungkin lain kali saja, terima kasih banyak ya Bu!!!"
"Ya sudah,Ibu juga ngucapin banyak terima kasih karena sudah di antarkan laundrynya,Oh ya Marsha akhir akhir ini kamu kok semaki kurus apa kamu sakit?"
"tidak kok Bu, saya sehat- sehat saja,"
"Oh gitu,ya sudah jaga kesehatanmu ya sama makan yang banyak biar gendut seperti ini !!!"
"Ya Bu , saya permisi ya Bu,"
"Ya Marsha,"
Langkahku menuju ke rumah terlihat gontai,"Masa aku kurus sich,"
"Perasaan aku juga makan tiap hari,ya walaupun sering kelupaan jadi telat makan,"
__ADS_1
hatiku berkata sendiri dan ku jawab sendiri.
Sampainya di rumah Marsha melihat Ryan duduk di sofa yang sedang bermain game.
Lalu aku berjalan menunduk melewati Ryan dan sesaat sampai di depan Ryan ku coba tersenyum kepada dirinya.
"Tidak perlu bersikap manis di depanku , sebaiknya segera kau kemasi pakaianmu dan bawa ke gudang sana.
Marsha tersentak mendengar bentakan Ryan , dia benar-benar tidak mengerti mengapa suaminya begitu sangat marah padanya seakan-akan ada dendam di dadanya terpancar dari sorotan matanya yang tajam.
Jika dia tidak menginginkan menikah dengan ku kenapa dia mau menerima perjodohan ini.
Ryan begitu datang tiba-tiba dan melamar ku.Ibuku juga langsung menyetujuinya tanpa memikirkan perasaanku.
"Marsha cepat pijit kakiku,"
"Memangnya kamu siapa berani mengaturku ,haah! jangan coba menentang perintah aku , cepat lakukan saja sebelum kesabaran aku habis dan menendangmu keluar dari rumah ini."
Lag- lagi Ryan berkata kasar terlontar dari mulutnya.
Apalagi Ryan sambil mencengkram lehernya Marsha.
Sehingga Marsha meringis kesakitan.
Perlakuan Ryan sungguh sangat menyakiti hati Marsha.
Air mata mengalir deras membasahi pipinya.
__ADS_1
Lalu Marsha bergegas melaksanakan perintah Ryan karena takut kena amarahnya lagi.
"Hapus air matamu itu jangan sok tersakiti,kamu itu harus menuruti perintah suami,"
Marsha kemudian menyeka air matanya.
Dengan hati kesal Marsha memijat kakinya Ryan, tiba-tiba Ryan menendang tubuhnya hingga jatuh tersungkur.
"Pelan- pelan mijatnya,kamu ingin membunuhku,"
"Dasar sampah, sudah sana pergi dari hadapanku aku jadi muak melihatmu!!!"
Tidak mengulur waktu lama Ryan masuk kamar dan membanting pintunya.
Marsha merasa hatinya hancur setiap kali mendengar ucapan Ryan karena sebagai istri dia tidak di anggap.
Padahal sebisa mungkin Marsha bersikap lembut agar kelak suatu saat Ryan berubah sikap terhadap dirinya.
Marsha berharap Ryan menjadi luluh dan memberikan perhatian terhadap dirinya.
Ingin sekali dia berteriak untuk di pulangkan ke rumah ibunya, namun dia kembali berpikir dan tidak mau melihat ibunya bersedih, apalagi ibunya sekarang sudah tua dan sering sakit sakit-sakitan.
Suaminya seperti monster, tetapi dia tetap saja mempertahankan pernikahan yang tidak di harapkan ini.
Marsha kembali menghela nafasnya yang berat dan mencoba untuk bersabar.
Apalagi Daffa sekarang sudah mulai besar butuh biaya untuk keperluan sekolah, semoga saja ada sinar mentari di depan.Bersambung
__ADS_1