Pernikahan Yang Tak Di Harapkan

Pernikahan Yang Tak Di Harapkan
keheningan tembok saksi derita Marsha


__ADS_3

Marsha membersihkan meja makan dan di lanjutkan dengan membersihkan kamar gudang yang mau di tempati nanti malam.


Ketika dirinya sedang membersihkan barang yang berserakan dilantai, terdengar suara pintu dibuka dari luar.


Lalu Marsha menuju ke arah pintu depan dan menoleh ke arah ruang tamu, terlihat Ryan membanting pintu kamarnya dengan sangat keras lalu dia menstater motor nya dan pergi lagi.


Pundaknya turun, wajahnya terlihat pasrah dengan pelan perempuan itu terus melanjutkan pekerjaannya membersihkan kamar gudang.


Setelah pukul satu siang barulah dia selesai membersihkan kamar gudang, karena kecapaian dia jadi ngantuk berat, badannya terasa kaku pegal - pegal lalu dia jatuhkan ke tikar alas tidurnya dan tidak menunggu lama perempuan itu sudah tertidur pulas.


"Tok, tok, tok,"


"Assalamualaikum,mb ,ini saya Bu Dyah, saya mau ambil laundry!!"


Marsha yang tertidur kaget mendengar suara ketukan pintu,lalu dia bangun dan langsung menuju ke arah pintu depan.


Di bukanya pintu depan dan ku tatap seseorang yang setengah baya tengah berdiri dengan wajahnya yang cantik walaupun sudah tua namun masih kelihatan muda dan penampilannya yang anggun.memang uang bisa mengubah seseorang menjadi cantik walaupun aslinya tidak cantik namun akan terlihat mempesona dengan penampilan busana yang di kenakan membuat mewah dan elegan.

__ADS_1


"Maaf Bu laundrynya belum jadi soalnya tadi bersih bersih ruangan malah ketiduran maaf ya Bu, gimana kalau nanti setengah jam lagi aku antar ke rumah ibu laundrynya, sementara aku setrika dulu Bu?"


"Betul ya mb nanti di antar, soalnya aku bentar lagi mau pergi arisan dan ada baju yang mau aku pakai,"


"Ya Bu betul -betul aku antarkan sekali lagi saya minta maaf ya Bu,' jawabku penuh penyesalan karena aku ketiduran tadi.


Lalu Marsha mengambil baju yang mau di setrika, matanya kosong menatap arah jendela.


Dia masih mencari apa kesalahannya, hingga Ryan sangat membencinya dan menyuruhnya untuk tidur di gudang.


Tak terasa air mata mengalir di sudut mata tanpa di perintahkan , masih teringat perlakuan Ryan terhadap dirinya.


terpaksa rumah besarnya di jual dan pindah ke rumah kecil di kampung karena himpitan ekonomi.


Jangankan sekolah untuk makan sehari - hari saja susah.


Jadi aku hanya tamatan SMP itu saja dengan biaya aku sendiri bekerja bersihin rumah tetangga dan upahnya buat aku bayar sekolah.

__ADS_1


Lamunan membuat matanya terpejam dan di tambah lagi angin berhembus sepoi-sepoi dari arah jendela.


"bruuk," suara pintu di tendang dari luar.


"Dasar pemalas,"


Marsha merasa kaget dari lamunannya.


Keranjang pakaian di lemparkan ke kepalaku dan terasa sakit sampai menembus relung hati.


"Kenapa tadi bu Dyah menelpon aku kalau laundrynya belum jadi, haah!!"


"Maaf aku ketiduran tadi habis bersihin kamar," sanggahan aku.


Lalu Ryan menarik kerah bajuku dan di hempasnya aku menatap tembok tubuhku.Aku terdiam dan merintih pelan menahan sakit.


"Hey ,kamu di sini bukan tempatnya makan dan tidur enak - enakan, sudah berapa kali aku bilang,kamu di sini harus menuruti perintah aku kalau mau tinggal di rumah ini!!!"

__ADS_1


Suara Ryan begitu lantang dan dingin , Marsha hanya terdiam sejenak kemudian melanjutkan menyetrika pakaian agar tidak menimbulkan percekcokan.Sampai kapan dia harus menahan derita berkepanjangan dan tiada berujung, Bersambung


__ADS_2