
Pagi menyingsing, sinarnya menorobos lewat jendela,lalu ku
bangunkan anak- anak,ku ajari sholat subuh, supaya kelak bisa mendoakan orang tuanya.
"Bu , kenapa Bapak kok nggak sholat bersama kita ?" tanya Dafa dengan membelit sarungnya di pinggang.
"Enggak sayang, soalnya Bapak lagi kena penyakit M ,"jawabku.
"Penyakit M itu apa Bu?"kata Dafa dengan merentangkan sajadah.
"Penyakit M itu hanya untuk orang dewasa, sudah ayo sholat keburu habis waktunya subuh." Memang anak - anak suka nya mencari tahu ,itu artinya malas masalahnya kalau aku bilang terus terang pada anak kecil, nanti malah ikutan jadi malas ,jadi ku jawab saja sekenanya.
Setelah selesai sholat lalu Dafa kembali menata tempat tidur dan menata buku untuk sekolah.
Sedang Baby Queen saya suruh menata bajunya, karena hari ini dia akan di jemput mamahnya."Baby kamu sudah selesai belum beres -beresnya!!" aku bersender di depan pintu kamar Dafa.
"Belum Ma sebentar lagi , bantuin dong,Ma?" rengek Baby Queen yang manja .
"Nggak bisa sayang , soalnya Mama Marsha juga punya tugas sendiri,oke!!"
__ADS_1
"Yaa Ma," jawab Baby Queen sambil melipat bajunya.
Ku langkahkan kakiku ke dapur untuk membuat sarapan pagi.Semua sayuran aku potong - potong sama bumbunya rencananya aku mau buat sayur bayam dan bakwan jagung.
Di depan meja dapur ku tatap wajahku ke arah cermin dan ku toleh ke kiri dan kanan masih sangat terlihat jelas bekas tamparan mas Ryan.
"Huuh," helaan nafas berat ku."Marsha kau harus bisa bertahan kau harus kuat menghadapinya ,"suara hati Marsha mencoba menyemangatinya.
Siapa yang bisa di ajak bicara? tidak ada, Ibunya tidak mungkin di ajak bicara tentang semua hal yang sudah terjadi.
Pada sahabatnya juga ia tidak berani mengungkapkan rahasia rumah tangganya.Karena itu tidak di benarkan bila kita menceritakan kisah rumah tangga.
Semua kepahitan keluh kesah serta derita ia pendam sendiri .Tak terasa satu jam berlalu Marsha telah selesai memasak lalu dia memanggil anak - anaknya dan Mas Ryan.
"Braak," pintu d i tendang dari luar,"ngapain kamu ke sini."
"Anu , Mas masakan sudah siap,"aku kaget ku remas tanganku sendiri, untuk menetralisir kecemasanku.
"Ya sudah sana pergi muak aku melihat kamu bikin mau muntah saja!!!"
__ADS_1
"Jangan berpikir yang tidak-tidak kau pikir aku akan tidur denganmu ," kata mas Ryan sambil membuka pintu lemari pakaian.
sesaat terhening, kemudian Marsha ingin berbicara, namun lagi-lagi dia terdiam.
"Kamu tidak perlu tahu aku akan pergi ke mana dan dengan siapa , tugasnya kamu sebagai istri di rumah mengerjakan tugas rumah dan diam saja di rumah tidak berhak berpendapat di sini, mengerti!!"
Ryan tengah mengenakan hemnya dan mengancingkanya satu persatu , sedang Marsha menundukkan wajahnya tak berani menjawab , melihat Marsha hanya terdiam membuat Ryan mengkerutkan keningnya.
"Marsha,kamu dengar tidakk !!" suara Ryan meninggi sambil mengepalkan tangannya.
"I-iya....,"suara Marsha terbata dan bergetar ketakutan.
Ryan melangkah maju mendekati Marsha, tatapan penuh tekanan yang kuat.
Marsha hanya tertegun badannya menegang dia takut bila Ryan bersikap kasar lagi terhadapnya.
Senyum devil pun terukir di lekuk raut muka Senyum miring begitu menakutkan untuk di tatap.
"Camkan baik-baik, atau kau akan mendapatkan hadiah lebih dari ini." Ryan sambil mencengkram lehernya Marsha.
__ADS_1
"Lepaskan mas,aku tidak bisa bernafas,"kata Marsha.
Bersambung