
“Bang, Lo tau sejak dulu sampai sekarang Lo itu abang gue dan nggak akan pernah berubah.” Jawab Afa sambil beranjak dari duduknya.
“Nggak ada kakak adik ketemu gede Fa. Itu cuma omong kosong.” Jawab Sam sambil melengos masuk ke dalam rumah.
“Kenapa sih itu orang tiba-tiba gila?” Gerutu Afa sambil mengobati Shane kembali.
“Bang Sam itu suka sama kamu dan dia nggak suka lihat kita dekat apalagi sampai di pajang di media sosial Fa.” Jawab Shane sambil menahan sakit.
“Nggak jelas, padahal aku mau dekat siapa juga harusnya kan itu hak aku. Lagi pula aku udah bilang berkali-kali sama dia kalau aku nggak suka sama dia. Maksudnya kalau untuk pacaran apalagi lebih serius aku nggak bisa. Aku udah terlanjur anggap dia Abangku. Aku nggak mau ah rusak persaudaraan kita.” Jawab Afa panjang lebar.
“Kalau sama Kakak udah terlanjut anggap Kakak adik belum?” Canda Shane.
“Belum, kalau ini belum permanen, masih bisa berubah ke jenjang yang lebih serius.” Goda Afa sambil tertawa.
Shane terdiam. Dia tidak menyangka dengan jawaban Afa akan seperti itu. Ada rasa senang dihatinya saat ini.
“Beres deh.” Perkataan Afa memecahkan lamunan Shane.
“Jadi, aku kesini mau bilang Terima Kasih ya Kak Shane udah traktir aku makan tadi. Aku kenyaaang banget. Saking kenyangnya aku jadi bahagia dan nggak galau lagi karena si jin tomang itu. Maaf juga gara-gara aku kakak jadi dipukulin Bang Sam kayak gini. Aku nggak tau dia bakalan jadi senekad itu. Terus ini buat kakak.” Jelas Afa sambil memebereskan P3K dan kemudia memberikan sebatang coklat kepada Shane.
“Coklat?” Tanya Shane.
“Iya, buat Kakak, agar hidup kakak jadi lebih manis lagi dan terima kasih sudah membuat hariku hari ini menjadi sangat manis.” Gombal Afa.
“Ada-ada aja kamu Fa. Ya udah sekarang Kakak antar kamu lagi ke rumah ya sekarang.” Jawab Shane sambil terkekeh.
“Nggak usah, aku mau pake ojeg aja. Kakak istirahat aja ya!” pinta Afa.
“tapi ini udah malam Fa.” Jawab Shane merasa tidak enak.
“Kayak baru sekali aja aku kelular malam. Lagi pula kan rumah aku dekat dari sini. Santai aja.” Jawab Afa sambil memesan ojeg.
__ADS_1
Tidak berselang lama, ojeg yang dipesanpun datang.
“Neng Afa ya?” Tanya driver ojeg online tersebut.
“Iya Pa.” jawab Afa.
“Ini neng helmnya.” Kata driver sambil memberikan helm kepada Afa.
“Aku pulang dulu ya Kak. Kakak baik-baik ya. Dirawat lukanya. Kalau Bang Sam macam-macam lagi, bilang sama aku, nanti aku balas dia.” Pamit Afa sambil memakai helm.
“Iya Fa. Hati-hati ya.” Jawab Shane.
Afa pun naik ke motor dan driverpun melajukan motornya.
“Neng, itu pacarnya kenapa?” tanya sang pengemudi ojeg.
“Itu bukan pacar saya Pak. Itu temen saya abis ribut.” Jawab Afa.
“Oh kirain pacarnya neng. Soalnya malam-malam gini pasti ketemu pacar.” Jawab pengemudi paruh baya itu.
“Ya cocok neng. Neng canti, dia ganteng.” Jawab sang pengemudi.
“Tapi nggak ah pa. Dia orang kaya, saya orang nggak punya. Biasanya nanti yang ada saya diselingkuhin.” Jawab Afa tiba-tiba teringan Artha.
“Itu sih tergantung orangnya neng, banyak orang kaya yang setia. Contohnya Pak SBY, Pak Habibie.” Jawab sang pengemudi.
“Iya juga ya pa.” Jawab Afa sambil berfikir.
Sepanjang perjalanan Afa dan pengemudi ojeg itu mengobrol. Sampai akhirnya tidak terasa mereka sudah sampai di titik tujuan. Setelah mengucapkan Terima Kasih dan memberikan helmnya kepada pengemudi, Afa pun masuk ke dalam rumah dan pengemudi itu pun meninggalkan rumah Afa.
Afa masuk kedalam kamarnya dan rebahan diatas kasurnya. Dia iseng membuka media sosial miliknya. Ternyata banyak sekali komentar di unggahan photo terakhirnya.
__ADS_1
Imel : sweet. Pasti itu cowok yang tadi jemput ke kampus ya? Mau dong kenalin sama yang mirip.
Afa tersenyum melihat komentar Imel. Ternyata Imel masih ingat kejadian di Kampus saat dia dijemput oleh Shane. Tiba-tiba senyumnya yang mengembang berubah menjadi tatapan datar saat melikah komentar dari Artha.
Artha : O.. o.. kamu ketahuan
Afa tentu tau itu adalah lirik lagu tentang perselingkuhan. Afa mulai geram dengan tingkah Artha. Tapi dia belum melakukan perlawanan apapun selain menghapus semua photo yang berhungan dengan Artha di media sosialnya.
Afa pun mengunggah foto baru dengan tangan yang sama. Hanya saja dibelakangnya terlihat kotak P3K. Ya, itu adalah foto yang diambil oleh Afa saat mengobati Shane tadi. Dia memfoto tangannya dan tangan Shane lagi yang sedang saling menggenggam.
“And then a hero comes along with the strength to carry on. So when feel like hope is gone, look inside you and be strong.” Caption Afa. Tapi kali ini dia tidak menandai Shane di unggahannya.
“Afa, sudah sampai rumah?” pesan itu tiba-tiba masuk di telepon genggam milik Afa.
Itu adalah pesan dari Shane. Ternyata dia masih belum tidur dan masih sempat mengirimkan pesan kepada Afa.
“Sudah Kak. Kakak bukannya tidur sudah malam?” tanya Afa membalas pesan itu.
“Nunggu dan memastikan Afa sudah pulang dulu. Kamu juga tidur ya! Jangan mikirin Artha terus.” Pinta Shane.
“Udah nggak mikirin dia ko Kak. Good Night Kak.” Balas Afa.
“Good Night too Fa. Kalau ada apa-apa telepon kakak ya. Jangan melakukan hal yang tidak-tidak!” balas Shane.
“Siap My Hero.” Jawab Afa singkat.
Afa pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum tidur.
*** Di Rumah Shane ***
Senyum Shane mengembang membaca pesan terakhir dari Afa. Shane pun bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk tidur.
__ADS_1
Di kamar yang lain, kamar Sam lebih tepatnya. Dia sedang berdiri di balkon kamarnya.Sam masih memikirkan Afa. Sam masih tidak habis pikir tentang kekurangannya yang mana yang bisa membuat Afa tidak bisa mencintainya selayaknya kekasih. Dia juga tidak habis pikir kenapa Shane bisa menyukai Afa walaupun Shane memang belum mengatakannya secara langsung. Padahal dulu Shane jelas-jelas mengatakan bahwa dia tidak menyukai Afa. Akan tetapi kini semua itu terlihat jelas dalam unggahan Shane dan Afa yang sama-sama mengunggah photo yang sama.
Kepala Sam dipenuhi dengan banyak pertanyaan dan hatinya kini dikuasai oleh amarah yang besar. Dia masih dibutakan oleh amarahnya sampai tidak sadar bahwa dia telah menyakiti adiknya sendiri. Padahal sejak dulu mereka berdua adalah adik kakak yang bisa dibilang jarang sekali bertengkar. Tapi ntah kenapa, sekarang Sam justru tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Sam pun kembali meneguk gelas berisi wine yang ada di tangannya.