Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Abu-abu


__ADS_3

“Siapa Shane? Anak ini pacar lo?” Tanya Rena yang menatap sinis ke arah Afa.


“Ada deh. Memang harus tahu apa?” Jawab Shane yang menyadari tatapan Rena ke Afa sangat sinis.


“Ya kali lo pacaran sama modelan kayak gini, nggak mungkin kan? Tapi kalau bukan sama dia, terus kenapa kalian berdua disini? Lo selingkuhannya ya?” Tanya Rena yang semakin mengintimidasi Afa.


“Memang modelan kayak aku kenapa kak? Nggak pantas ya sama Shane?” Tanya Afa sambil tersenyum kepada Rena.


“Ya tipe Shane kan kayak gue. Modis, cantik, sexy. Iya nggak Shane?” Tanya Rena dengan nada manja kepada Shane.


Shane melihat Afa terdiam dengan tatapan yang fokus menatap Rena. Dia mengerti bahwa Afa sangat merasa tidak nyaman dengan kehadiran Rena.


“Nggak. Tipeku kayak dia. Sederhana, makanya aku sayang banget sama dia.” Jawab Shane yang kemudian menggenggam tangan Afa.


“Terima kasih ya. Kamu sudah terima aku apa adanya walaupun nggak semodis, secantik dan sesexy dia. Aku bahagia sekali kamu selalu bersamaku dengan segala kekuranganku.” Jawab Afa yang mengerti bahwa itu adalah lampu hijau untuknya.


“Jadi kalian beneran pacaran Shane? Sejak kapan?” Tanya Vivi yang sangat penasaran.


“Nggak penting Vi. Itu kan urusan mereka. Cabut yuk!” Kata Rena yang langsung menarik tangan Vivi dan pergi.


“Kamu ini Fa. Harus dikasih kode dulu baru berani speak up. Lain kali kalau ada yang mengintimidasi kamu, langsung hajar aja! Ingat! Kamu itu sempurna.” Kata Shane menenangkan Afa.


“Aku mau ngomong tadi, Cuma takut kakak betulan punya pacar masa aku harus ngaku-ngaku jadi pacar kakak? Nanti yang ada kakak malah salah paham sama pacar kakak. Taunya kakak juga bohongan ya masalah pacar itu?” Kata Afa menjelaskan.


“Ya sejak awal memang begitu. Habisnya dia rese sih pakai kepo kehidupan aku saja.” Jawab Shane sambil menyeruput minumnya kembali.


“Kakak yang berbohong tapi aku yang dag dig dug. Dasar Shane.” Gumam Afa dalam hati.


“Ngapain refleks pegang tangannya si? Malu deh gue rasanya mau pulang aja.” Pikir Shane dalam hati.


Mereka berdua sama-sama terlihat canggung namun saling menutupinya satu sama lain. Afa bercerita banyak tentang hari pertamanya magang di bengkel Sam. Sesekali Shane tertawa melihat tingkah Afa yang polos.

__ADS_1


Setelah selesai makan, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Mereka menuju parkiran dan Shane memakaikan helm untuk Afa. Afa tersenyum melihat Shane yang tersenyum ke arahnya. Setelah itu mereka naik motor dan Shane melajukan motornya.


“Akhirnya moodku jadi bagus berkat kakak.” Kata Afa sambil menikmati udara dingin itu.


“Oh ya? Memang tadi moodnya sedang buruk?” tanya Shane sambil sesekali melihat Afa.


“Iya. Soalnya Mamanya Artha nelepon aku dan ya pasti tahu dong apa yang terjadi?” Jawab Afa.


“Mungkin bagi Mamanya Artha, kamu sangat berarti.” Jawab Shane.


“Bagus kalau memang aku berarti baginya, harusnya rela melepaskan daripada terus bersama dan membuat aku sakit hati lagi.” Kata Afa.


Shane terdiam. Dia menyadari bahwa dia menyukai Afa tapi mungkin Afa tidak begitu. Itu artinya dia harus merelakan Afa daripada bersama tapi Afa tidak mencintainya.


“Ko diam?” tanya Afa mengagetkan Shane.


“Nggak apa-apa Fa. Terlalu fokus nyetir.” Jawab Shane mengalihkan pembicaraan.


“Kakak mau makan siang sama aku nggak besok?” Tanya Afa.


“Dekat kantorku aja gimana? Soalnya seniorku galak, kalau aku telat balik ke kantor nanti dia bisa-bisa ngomel lagi sama aku.” Jawab Afa.


“Boleh, nanti aku cari tempat makan sekitar sana ya.” Jawab Shane.


Setelah itu keduanya tidak membahas apapun lagi. Shane dan Afa sedang menikmati indahnya malam. Shane yang sedang mengendarai motor sesekali melihat Afa dari spion. Sedangkan Afa masih menikmati hembusan angin sejuk yang sangat dia sukai.


Hingga akhirnya mereka sampai di rumah Afa. Afa pun turun dari motor Shane dan mengembalikan helm yang dia pakai.


“Thank you kakak sudah buat hariku yang awalnya abu-abu jadi berwarna.” Kata Afa berterima kasih kepada Shane.


“Sama-sama Fa. Walaupun kamu terlalu berlebihan. Aku kan hanya ngajak makan malam saja.” Jawab Shane sambil tersenyum kepada Afa.

__ADS_1


“Itu bukan hanya kak. Tapi itu jauh lebih bermakna.” Jawab Afa.


“Ya sudah, kamu masuk sana! Aku pulang dulu ya.” Jawab Shane.


Shane pun akhirnya meninggalkan kediaman Afa untuk pulang ke Rumahnya. Afa bergegas masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersiap untuk tidur.


“Jalan lagi sama Shane?” Tanya Sam dalam pesan yang dikirimkan untuk Afa.


“Habis dinner nih gue. Kenapa?” Balas Afa.


“Siang sama abangnya, malam sama adiknya. Lucu!” Balas Sam kembali.


“Memangnya kenapa? Lo lagi dapet ya?” Balas Afa kembali.


“Enak ya jadi cewek. Bisa sana sini.” Balas Sam dengan sangat kesal.


“Maksud lo gimana?” Balas Afa lagi.


“Ya maksud gue kayak yang tadi gue bilang.” Balas Sam tanpa menjelaskan apapun.


“Kita sahabatan itu udah lama Bang! Perasaan dulu nggak masalah tuh gue mau jalan sama siapa. Kenapa sekarang lo jadi sensi gitu?” Balas Afa yang sudah mulai kesal.


“Cewek sama cowok itu nggak pernah bisa jadi sahabat. Pasti ada salah satu suka atau malah saling suka satu sama lain.” Jawab Sam.


“Lo maunya gimana? Gue harus sama lo terus dan nggak berbaur sama teman gue yang lain? Atau gue harus sama Kak Shane terus dan nggak usah berbaur sama lo? Atau gue nggak usah berbaur sama kalian berdua?” Tanya Afa.


“Pilih salah satu Fa. Gue atau dia?” Balas Sam.


“Kita sahabatan dari dulu bertiga nggak masalah. Kenapa sekarang gue harus milih?” Balas Afa kembali.


“Karena gue sama Shane sama-sama suka sama lo Fa! Kenapa lo nggak pernah hargai perasaan kita? Setidaknya pilih salah satu dari kita agar yang satunya bisa mundur dan melanjutkan hidupnya sendiri. Nggak seperti ini yang dua-duanya harus sabar menunggu satu perempuan yang entah menyukainya atau nggak.” Balasan Sam membuat Afa terdiam. Jika itu Sam, Afa tahu kalau Sam menyukai Afa. Tapi kalau Shane? Itu adalah hal baru yang membuat jantung Afa berdetak kencang.

__ADS_1


“Kenapa? Nggak mau balas? Mau rakus mangsa dua-duanya.” Sam mengirimkan pesan lagi karena Afa hanya membaca pesan tersebut.


“Mangsa seolah gue adalah predator berbahaya yang akan siap menerkam kalian berdua ya? Jadi, dimata lo gue sehina itu bang? Bahkan untuk orang yang sudah mengenal gue hampir 10 tahun. Ternyata dia nggak mengenal gue sama sekali. Harapan gue ke lo ternyata terlalu berlebihan ya bang.” Balas Afa dengan penjelasan yang panjang.


__ADS_2