
Selesai mandi, Imel kembali ke kamarnya dan melihat telepon genggam miliknya. Kemudian Imel meminta Afa untuk segera mandi karena Imel akan mengajaknya ke acara ulang tahun teman SMAnya.
“Nyokap lo udah siapin bahan masakan loh tadi bareng gue. Memangnya nggak apa-apa kalau kita malah pergi? Nggak makan dulu aja baru pergi?” Tanya Afa yang merasa tidak enak kepada Ibunya Imel.
“Nggak apa-apa. Nanti gue yang ngomong sama nyokap.” Jawab Imel.
Afa langsung bergegas mandi. Setelah selesai mandi dia hendak berpakaian yang cocok untuk acara ulang tahun. Dia merasa kebingungan karena dia hanya membawa baju tidur, baju untuk kerja dan beberapa baju untuk main selama di Yogyakarta. Dia tidak membawa baju pesta karena memang itu tidak ada dalam agendanya.
“Nih, pakai baju ini saja. Nggak tau deh muat atau nggak?” Kata Imel yang memberikan sebuah gaun berwarna putih model slit dress.
“Lo pake baju apa?” Tanya Afa yang penasaran.
“Baju ini.” Jawab Imel sambil menunjukan long dress warna maroon.
“Apa gue nggak terlalu mencolok warna putih gini?” Kata Afa yang ragu dengan baju yang ditawarkan Imel.
“Nggak. Temanya maroon putih. Kebetulan gue pake maroon jadi lo yang pake putih. Lagi pula gue nggak ada baju lagi.” Jawab Imel sambil merapikan rambutnya.
Afa langsung menata rambutnya dan memberi sedikit riasan pada wajahnya. Setelah itu mengenakan gaun yang diberikan oleh Imel. Dia juga memakai flat shoes.
Setelah selesai, Imel dan Afa pamit ke Ayah dan Ibunya Imel untuk pergi ke pesta. Mereka pergi menggunakan mobil yang sudah Imel pesan sebelumnya. Setelah selesai berpamitan, mereka langsung masuk ke dalam mobil karena mobilnya sudah menunggu di depan rumah Imel.
“Sudah siap semuanya ya mbak? Nggak ada yang tertinggal?” Tanya supir mobil tersebut.
“Sudah Pak. Nggak ada yang tertinggal ko.” Jawab Imel.
Setelah itu mobilnya melaju menuju kota tujuan. Imel dan Afa duduk di kursi di belakang supir tersebut. Imel dan Afa sama-sama sibuk memainkan telepon genggamnya.
“Jadi gimana Fa? Yang diharapkan datang nggak Fa?” Tanya Imel dengan menahan tawa.
“Apaan sih? Siapa juga yang ngarep?” Afa tersipu malu.
__ADS_1
“Berarti tadi itu Cuma bercanda ya Fa? Cuma lo aja yang ngarep.” Imel meledek Afa lagi.
“Au ah.” Jawab Afa singkat yang tersipu malu dan kesal.
Setelah lebih dari 2 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah pantai. Terlihat ada hiasan-hiasan di sekitar pantai, namun sepi. Tidak seperti pesta pada umumnya.
“Ini acaranya udah selesai kali Mel? Soalnya Sepi.” Kata Afa yang memang sejak tadi di jalan selalu bertanya kapan sampai dan kenapa jauh.
“Lagian udah jam 7 lebih Mel.” Kata Afa yang merasa kedinginan.
“Orang acaranya mulai jam 7 ko Fa. Kesana dulu yuk!” Ajak Imel yang mengarah ke red carpet di pinggir pantai.
Ketika Afa dan Imel berjalan dan Afa sedang berbisik-bisik mempertanyakan masalah pesta. Imel tiba-tiba melambatkan langkahnya lalu bersembunyi dibalik pohon.
“Sepi ya Mel. Serius ini tempatnya?” Tanya Afa sambil menoleh ke arah sampingnya.
Afa terkejut karena tidak ada siapa-siapa disampingnya. Afa baru menyadari bahwa sejak tadi dia bicara sendirian. Afa langsung berbalik badan dan berlari kembali ke arah parkiran.
Namun tiba-tiba ada suara kembang api yang pecah di langit. Afa seketika langsung menoleh kembali ke arah sebelumnya. Betapa kagetnya Afa karena di ujung red carpet tersebut ada lampu yang menyala bertuliskan “Will You be My Lover?” di atas pasir pantai.
“Aaaaa!” Teriak Afa yang kaget dan belum menyadari bahwa dia menabrak bunga.
“Fa!” Panggil Shane.
Afa membuka matanya dan melihat bahwa Shane sedang berada tepat di hadapannya dan sedang membawa seikat besar bunga.
“Kakak? Kakak ngapain disini? Ayo pergi dari sini! Ini acara temannya Imel, tapi nggak tau orang-orangnya pada kemana.” Kata Afa yang langsung menarik pergelangan tangan Shane.
“Fa. Ini buat kamu.” Kata Shane yang menahan tangan Afa.
Afa terdiam dan kembali melihat ke arah Shane. Shane menarik tangan Afa dan membawanya berjalan ke ujung red carpet. Shane memberikan bunga yang dia bawa lalu mengatakan “Will you be my lover?”
__ADS_1
“I… wish… but…” Kata Afa terbata.
“I’m not perfect.” Lanjut Afa sambil menundukan kepalanya.
“Sempurna bukan milik kita namun kau selalu ada untukku lengkapi hidupku dengan indah.” Shane bernyanyi di hadapan Afa. Afa tersenyum, dia tahu lagu itu. Shane menggenggam tangan Afa. Dia menatap tajam ke arah Afa karena menunggu jawaban.
“Aku harap kakak nggak menyesal sudah mengatakan itu.” Kata Afa yang menatap balik Shane.
“Nggak. Fa, apapun jawabannya aku akan terima. Yang terpenting sekarang kamu harus tahu kalau aku sayang kamu.” Shane menjelaskan.
“Aku mau kak.” Jawab Afa sambil mengangguk.
“Serius Fa?” Tanya Shane yang masih tidak percaya.
“Iya kak, tapi… Maaf, mungkin aku akan banyak kekurangan dan mungkin kakak akan berhadapan dengan masa laluku yang buruk. Jadi, bersabarlah.” Kata Afa yang seolah ingin Shane tahu kalau Artha masih sering mengganggu hidupnya.
“Kita lewati bersama semuanya ya Fa. Terima kasih sudah memberikan kesempatan yang tak terduga ini.” Kata Shane yang langsung memeluk Afa.
“Aku mohon, jangan pergi lagi. Jangan pernah pergi!” Lanjut Shane yang memeluk semakin erat.
Afa membalas pelukan Shane. Kini keduanya sudah saling melepas beban yang selama ini ada di pikirannya. Imel yang melihat itu hanya merekam moment bahagia mereka.
“Jadi sayang? Mulai detik ini kamu aku panggil sayang ya.” Kata Shane yang terlihat sedikit canggung.
“Kak, itu agak aneh sih.” Jawab Afa sambil sedikit tertawa.
Setelah itu mereka duduk di pasir dan menatap pantai. Sedangkan Imel dia memilih untuk makan di warung pinggir pantai. Perlahan banyak orang mulai berdatangan dan semua dekorasi dibenahi. Saat itu Shane memang sudah berkoordinasi untuk beberapa jam mengadakan acara disana, jadi saat Afa datang memang tidak ada orang selain orang-orang yang berjualan disana dan orang-orang yang terlibat dalam rencana itu.
“Kenapa kakak pilih tempat ini?” Tanya Afa sambil melihat deburan ombak.
“Karena ini pantai dan kamu suka pantai. Jadi aku memilih pantai dan kebetulan pantai ini yang paling di rekomendasikan oleh Imel.” Jawab Shane sambil menatap Afa.
__ADS_1
“Jadi kalian sudah sekongkol sejak kapan?” Tanya Afa yang kesal.
“Tadi pagi setelah video call dan sosial media kamu sudah terbuka kembali. Jadi aku langsung cari Imel dan begini hasilnya.” Jawab Shane sambil terus tersenyum.