Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Big Problem 2


__ADS_3

Layar telepon genggam milik Afa menyala. Tanda ada pemberitahuan pesan masuk. Afa melihat dan langsung membuka pesan masuk tersebut.


“Aku nungguin kamu dari tadi di depan gang. Pesan aku juga nggak dibaca-baca. Ternyata lagi senang-senang sama mantan ya? Pantas aja aku nggak boleh ke rumah. Ternyata lagi selingkuh sama mantannya di Rumah.”


Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Shane.


“Kakak ada dimana sekarang?” Tanya Afa sambil tengok kanan kiri depan belakang mencari mobil Shane.


“Kak. Ini nggak seperti yang kakak bayangkan. Aku bisa jelasin semuanya kak.” Afa kembali mengirimkan pesan untuk Shane.


Shane tidak membalasnya. Kini Afa terlihat sangat gelisah namun dia tidak bisa melakukan apapun. Dia terus mengirimi pesan kepada Shane namun dibaca pun juga tidak.


“Kenapa Fa? Nyari Shane ya?” Tanya Artha yang melihat Afa gelisah.


Afa mengeryitkan dahinya. Dia tidak tahu kenapa Artha justru tahu kegelisahan hatinya adalah karena Shane. Afa tidak menjawab apapun karena memang sedang malas berurusan dengan Artha.


“Tadi aku lihat ada mobil Sport parkir di pinggir jalan nggak jauh dari gang rumah kamu, cuma memang agak ketutup sama mobil box pas kita lewat barusan. Tapi aku juga nggak yakin itu Shane.” Kata Artha yang masih melajukan mobilnya.


“Warna apa?” Tanya Afa singkat.


“Hitam.” Jawab Artha.


“Apa mungkin itu mobilnya Shane? Ya ampun Afa! Bodoh sekali bukannya buka ponsel daritadi sih?” Umpat Afa dalam hati.


“Perlu aku bantu jelasin ke Shane tentang hal ini?” Tanya Artha kembali.


“Nggak.” Jawab Afa singkat.

__ADS_1


“Kalau gitu kamu jangan jutek terus dong! Kita kan mau jalan-jalan, masa muka kamu ditekuk gitu sih? Aku kan juga nggak ngapa-ngapain Fa.” Kata Artha yang sesekali mencuri pandang ke arah Afa.


“Fa.” Panggil Artha.


“Apa?!” Tanya Afa membentak.


“Biasa aja bisa kali Fa?” Tanya Artha kembali.


“Lo pikir kalau cowok gue ngambek gue bisa bersikap biasa aja? Ini semua gara-gara lo! Gue masih berbaik hati nggak kasih tahu nyokap gue tentang kelakuan lo yang busuk itu! Tapi udah dikasih hati malah minta jantung. Nggak gue bongkar aibnya malah seenak jidat tanpa tahu malu datang ke rumah gue. Bisa nggak sih lo nggak usah nyusahin gue?” Omel Afa yang kesal dengan kehadiran Artha.


“Nyusahin gimana sih Fa? Aku kan datang hanya untuk menyambung tali persaudaraan.” Jawab Artha.


“Heh! Gue nggak pernah mau punya saudara kayak lo!” Jawab Afa yang masih kesal.


“Terus aku harus gimana Fa? Ini semua yang mau juga Mama, bukan aku.” Jelas Artha.


“Ya harusnya lo sebagai anak tegas dong untuk nggak mengganggu hidup gue lagi! Gue udah jelasin sama nyokap lo dan lo juga! Kenapa sih nggak ada yang tahu diri diantara kalian?” Jawab Afa yang semakin bertambah kesal.


Afa tidak peduli dengan perkataan Artha. Saat ini yang ada di pikirannya hanya Shane, Shane dan Shane. Berkali-kali Afa mengirimi Shane pesan lagi, namun justru sekarang telepon genggamnya tidak aktif.


Tidak terasa di sore hari akhirnya mereka semua pulang. Artha dan keluargnya juga langsung pamit pulang ke Jakarta. Afa masih terus menggenggam telepon genggam miliknya berharap ada balasan dari Shane.


Afa masuk ke dalam kamar dan langsung membersihkan diri. Setelah selesai mengganti pakaiannya dia langsung merebahkan badannya di atas kasur. Afa kembali melihat pesan-pesan yang dikirimkan oleh Shane.


“Fa. Ini dompet kamu ketinggalan.”


“Fa. Kakak balik lagi nih, kakak tunggu di depan gang ya.”

__ADS_1


“Aku sudah setengah jam nunggu, mau aku antar aja langsung ke rumah kamu atau gimana?”


Dan yang terakhir adalah “Aku nungguin kamu dari tadi di depan gang. Pesan aku juga nggak dibaca-baca. Ternyata lagi senang-senang sama mantan ya? Pantas aja aku nggak boleh ke rumah. Ternyata lagi selingkuh sama mantannya di Rumah.”


Afa tidak tahu harus berbuat apa. Jika dia mencari Shane ke rumahnya, ada kemungkinan dia akan bertemu Sam juga. Tapi, jika dia hanya diam saja dan tidak langsung menjelaskan kepada Shane, masalahnya tidak akan selesai. Akhirnya setelah berpikir panjang lebar, Afa memutuskan untuk menemui Shane di rumahnya.


“Bu, Afa mau pergi dulu.” Kata Afa pamit kepada Ibunya.


“Kamu mau kemana? Baru juga di rumah sudah mau pergi lagi.” Tanya Ibunya Afa yang sedikit kesal karena anaknya tidak mau diam di rumah.


“Bu. Afa sama Artha itu sebenarnya udah putus. Afa lagi dekat dengan seseorang sekarang dan orang itu tadi lihat Afa jalan sama Artha. Afa mau cari orang itu dulu, Afa nggak mau dia salah paham.” Jawab Afa yang ketakutan.


“Loh? Kenapa kamu bisa putus sama Artha? Kamu kan sudah merencanakan pernikahan dengan Artha. Semua keluarga juga tahu kamu sudah dilamar. Mau di simpan dimana muka Ibu depan keluarga yang lain Fa?” Ibunya Afa membombardir Afa dengan banyak pertanyaan.


“Ya karena Artha udah mutusin Afa bu. Afa bisa apa?” Jawab Afa kembali.


“Kenapa Afa mutusin kamu kenapa? Karena kamu dekat dengan laki-laki lain? Fa! Kelakuan Bapakmu yang jelek nggak usah ditiru!” Ibunya Afa mulai naik darah.


“Bu. Jangan samakan Afa dengan Bapak. Afa nggak pernah sekalipun selingkuh Bu!” Jawab Afa yang kesal karena Ibunya menyamakan perilakunya dengan mantan suaminya.


“Ya terus kalian kenapa bisa putus? Kalau bukan hal besar nggak mungkin kalian bisa putus Fa.” Tanya Ibunya Afa yang memaksa Afa untuk jujur.


“Ya karena kita beda prinsip. Udah itu aja dan yang mutusin juga Artha ko. Bukan Afa. Yang mulai duluan juga Artha.” Jawab Afa yang tetap tidak memberitahukan titik permasalahannya.


“Terus sekarang kamu malam-malam mau cari laki-laki itu? Kalau dia laki-laki, harusnya dia nggak akan biarin anak gadis keluar sendiri malam-malam. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik di rumah kan bisa?” Jawab Ibunya Afa yang secara tidak langsung tidak memberi ijin Afa untuk bisa keluar rumah.


Afa hanya bisa diam mendengar penjelasan Ibunya. Akhirnya Afa kembali ke kamarnya. Dia sudah tahu jika jujur dengan Ibunya perihal hubungannya dengan Artha pasti akan semakin runyam. Namun memang cepat atau lambat Afa harus jujur.

__ADS_1


Ibunya adalah orang tua yang masih berfikir kolot. Ibunya Afa bukan tipe seorang Ibu yang lemah lembut, melainkan sosok Ibu yang tegas. Jika menurutnya menyalahi aturan ya berarti salah.


“Aku harus gimana? Aku nggak mungkin debat sama Ibu untuk maksa Ibu ngijinin aku nyari Shane. Tapi kalau nggak dijelaskan sekarang, masalah ini pasti akan terus berlarut.” Kata Afa dalam hati.


__ADS_2