Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Gabut


__ADS_3

Seperti biasa Afa turun di depan gang rumahnya. Setelah itu Afa langsung masuk kedalam gang dan Sam pun pergi menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, Afa langsung masuk ke dalam kamarnya dan mandi. Ibunya hari ini tidak ada di rumah karena sedang bekerja.


Setelah selesai mandi, Afa pun melihat telepon genggam miliknya untuk mengecek semua isi pesan yang belum sempat dia baca. Seperti dugaan Afa, benar bahwa pesan dari Artha memang paling mendominasi diantara yang lainnya. Setiap harinya Artha bisa mengirim lebih dari 30 pesan. Itu membuat Afa sedikit malas jika harus membaca pesannya dari awal.


Tiba-tiba telepon genggam milik Afa berbunyi. Kali ini, Mamanya Artha yang melakukan panggilan.


“Hallo Sayang.” Kata Mamanya Artha di seberang sana.


“Hallo, iya Ma. Kenapa?” tanya Afa yang sebenarnya malas untuk menjawab.


“Sayang ko kata Mas dikirim pesan nggak balas?” tanyanya kembali.


“Mulai hari ini aku magang, jadi nggak sempat pegang telepon. Lagi pula, Artha sudah bukan siapa-siapa. Aku juga punya hak untuk membalasnya atau nggak.” Jawab Afa yang semakin malas melakukan panggilan telepon.


“Afa berubah ya sekarang? Mama sedih Afa jadi kayak gini. Mama Cuma mau kasih tahu aja kalau Mas sakit sekarang dia dirawat di rumah sakit.” Kata Mamanya Artha denga suara seperti sedang menangis.


“Kalau gitu mama telepon saja Deby untuk merawatnya atau kalau ada apa-apa telepon dokter biar bisa diperiksa agar cepat sembuh. Kalau telepon aku, sepertinya nggak ada gunanya.” Ujar Afa.


“Memang Afa nggak bisa maafin Mas? Mas lagi sakit tahu, masa Afa tega giniin Mas?” Suara tangisan Mamanya Artha semakin menjadi.


“Mah, udah aku bilang berapa kali sih kalau aku sudah memafkan Artha. Terus yang kalian mau lagi dari aku apa? Kan maaf juga sudah aku kasih. Jarang ada orang yang bisa memaafkan kesalahan fatal kayak dia.” Kata Afa yang mulai naik darah.


“Afa kembali lagi seperti dulu.” Kata Mamanya Artha dengan suara yang lirih.


“Beras sudah jadi bubur nggak akan bisa balik lagi jadi beras. Hati aku sudah memaafkan kalian semua terutama Artha. Tapi untuk seperti dulu aku nggak bisa. Sungguh, kenapa kalian sangat egois? Kalian nangis-nangis sampai ngemis dihadapanku seperti ini seolah aku adalah antagonis. Padahal aku disini juga punya hak untuk menentukan pilihan hidupku seperti apa? Setelah Artha sakiti aku seperti ini, seharusnya aku boleh memilih mau dengan siapa selanjutnya. Mama juga perempuan, seharusnya tahu bahwa hati wanita itu sangat rapuh. Ketika sudah hancur, itu tidak akan bisa kembali. Tapi kenapa kalian semua sangat egois seperti menganggap aku ini adalah burung didalam sangkar yang bisa kalian permainkan sesuka hati. Memangnya sejak awal salah aku dimana?” Tanya Afa yang akhirnya meneteskan air matanya.

__ADS_1


“Mama tahu Afa capek, tapi mama juga nggak tega lihat anak laki-laki mama menderita.” Jawab Mamanya Artha.


“Kalau begitu anggap saja itu adalah hasil dari apa yang sudah dia tanam.” Kata Afa.


“Apa Mama harus bersujud dihadapan Afa dulu agar Afa mau kembali sama Mas?” Tanya Mamanya Artha kembali.


“Bersujud dihadapan Tuhan. Aku bukan Tuhan.” Jawab Afa singkat.


Seketika semuanya menjadi hening. Mamanya Artha mendadak membisu. Afa juga sudah tidak tahan dengan pertengkaran yang setiap hari selalu dia alami.


“Ma. Jika Mama hanya datang untuk membujukku, maka lebih baik Mama tidak perlu datang. Hasilnya adalah percuma. Sudah dulu ya Ma. Aku harap Mama jangan datang lagi hanya untuk menanyakan hal yang jawabannya sudah pasti sama.” Kata Afa yang kemudian menutup teleponnya.


“Aku benci kenapa dulu aku mengenal kalian semua. Jangan pernah bilang bahwa kamu menganggapku sebagai anakmu kalau untuk berlaku adik saja kamu tidak bisa. Semua yang kamu bilang hanya omong kosong kan? Semuanya hanya janji manis.” Umpat Afa dalam hati.


Afa tidak bisa mengatakan apapun saat itu. Dia hanya melamun karena kenangan indahnya kembali terputar ulang di ingatannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa semua kenangannya masih memiliki arti baginya. Namun memang pengalaman pahit itu yang mencoba memaksanya untuk berfikir rasional dan menolak untuk jatuh di lubang yang sama dua kali.


“Aku baik-baik saja. Kenapa Kak?” Balas Afa kepada Shane.


“Nggak, mungkin cuma perasaan kakak saja yang terlalu khawatir. Kakak merasa kamu lagi kesusahan. Tapi syukur kalau kamu baik-baik saja.” Jawab Shane.


Afa tersenyum membaca pesan dari Shane. Dia cukup merasa tenang saat masih ada orang yang peduli kepadanya walaupun dia tidak menceritakan apapun kepada orang lain. Seolah Shane memang tahu situasi yang sebenarnya terjadi.


“Ada acara nggak kak malam ini?” Balas Afa yang bertanya kepada Shane.


“Nggak Fa, kenapa? Mau diantar ke suatu tempat sama sang supir tampan ini?” Balas Shane.


“Sungguh percaya diri sekali ya anda. Hahaha. Makan diluar yuk! Lagi suntuk nih kak.” Balas Afa sambil menahan tawa karena melihat tingkah Shane yang terlalu percaya diri.

__ADS_1


“Boleh. Nanti aku jemput jam berapa?” Balas Shane.


“Jam 7 malam saja. Pakai jaket ya kak biar nggak dingin.” Balas Afa lagi.


“Wah, wah, wah, siap kalau begitu.” Balas Shane.


Afa pun membaringkan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya masih kosong. Sesekali dia teringat tentang mantan tunangannya itu. Tapi sesekali dia mengingat Sam dan Shane yang selalu ada disampingnya dan memberi dukungan agar tetap kuat.


“Daripada melamun terus, mending aku siap-siap. Lapar juga belum makan.” Kata Afa yang langsung bergegas berganti pakaian.


Sekitar pukul 7 malam, Shane sudah menjemput Afa di depan rumahnya. Ternyata malam ini Shane tidak menggunakan mobilnya lagi.


“Motor lagi?” Tanya Afa yang melihat Shane sudah berada di depan rumahnya.


“Mau ganti mobil?” tanya Shane.


“Nggak ko. Cuma aneh aja kalau liat kakak pakai motor. Jarang-jarang soalnya.” Kata Afa yang langsung memakai helm.


“Jadi kita mau kemana sekarang?.” Tanya Shane sambil tersenyum.


“Nggak tahu. Lapar tapi lagi nggak mau makan. Jalan dulu aja deh! Kita putar-putar Jakarta, Ancol, Monas.” Jawab Afa sambil tersenyum dan dengan nada menyanyikan lagu.


Shane melajukan motornya walaupun belum tahu kemana tujuannya. Shane melihat Afa melalui kaca spion. Afa terlihat sedang menikmati perjalanannya. Dia melihat ke kanan dan sesekali ke kiri. Sesekali juga dia melihat Afa tersenyum lalu senyumnya memudar. Entah apa yang sedang Afa pikirkan. Shane pun tidak menanyakan apapun kepada Afa. Selama hampir satu jam, mereka hanya keliling Kota Bandung.


“Aku mau bawa kamu ke suatu tempat. Kamu mau?” Tanya Shane sedikit berteriak.


“Terserah! Aku ikut aja.” Jawab Afa yang juga sedikit berteriak.

__ADS_1


__ADS_2