
“Lo kalau sudah cinta sama orang pasti selalu diperjuangkan. Segitunya lo nyari Shane malam-malam gini Fa. Gue percaya lo akan bisa jagain Shane. Cuma, memang seharusnya lo benar-benar lepas dari Artha biar nggak jadi duri di hubungan lo.” Gumam Sam dalam hati.
“Gue percaya ko, lo nggak akan ngapa-ngapain sama dia. Nanti kalau ketemu Shane, lo jelaskan saja semuanya. Dia pasti ngerti. Mungkin sekarang dia memang lagi kalut aja pikirannya.” Jawab Sam menenangkan.
“Tapi tadi sebelum gue pergi, gue udah jujur sama nyokap kalau gue udah putus. Memang terlambat, seharusnya gue bisa langsung jujur saat kejadian.” Kata Afa menundukkan kepalanya.
“Cuma lo tahu sendiri kalau gue nggak begitu dekat sama nyokap gue. Jangankan untuk mengerti dan memahami perasaan gue saat itu. Untuk meyakini bahwa itu bukan ulah gue aja kayaknya nggak akan mungkin. Andai gue punya orang tua yang bisa mendengarkan keluh kesah gue kaya lo sama Mami.” Pikir Afa dalam hati.
“Setiap orang itu pasti melakukan kesalahan Fa. Sebagai manusia, tinggal kitanya aja mau saling memaafkan atau nggak. Bukannya mau menggurui ya Fa. Lo salah sih menurut gue karena lo main jalan gitu aja, sama mantan lo pula. Tapi Artha juga salah, seharusnya dia nggak memanfaatkan keadaan buat bisa jalan sama lo. Maksudnya, nyokapnya kan juga udah tahu kalian udah putus, harusnya Artha ngalah buat nggak semobil sama lo, setidaknya bisa meminimalisir kemungkinan negative aja dan Shane. Maafin dia ya. Dia baru pertama kali pacaran, pertama kali memiliki dunianya sendiri lah ibaratnya. Jadi mungkin dia belum bisa untuk langsung bertindak saat memiliki masalah dan malah pergi nggak ada kabar kayak gini. Gue harap lo juga bisa ngerti posisi dia ya Fa.” Jelas Sam yang mencoba untuk menenangkan Afa.
Afa hanya diam dan mencoba mencerna setiap perkataan Sam. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya mereka sampai di resto tempat Afa dan Shane pernah makan malam. Afa dan Sam mencari ke sekeliling resto dan ternyata benar, mereka menemukan Shane. Namun Afa tidak bisa langsung membicarakan hal penting itu karena Shane sedang bersama Rena. Afa dan Sam menghampiri Shane dan Rena.
“Rena… Apa kabar?” Sapa Sam dengan gaya bahawanya yang friendly.
“Hai Sam. Kabar gue baik.” Jawab Rena yang langsung berdiri dan berpelukan dengan Sam dan cium pipi kanan dan kiri.
“Lagi ngapain nih berduaan aja? Kalau mau ketemuan tuh ajak gue dong!” Kata Sam dengan sangat santai.
“Oh, ini Shane minta temenin gue makan malam katanya di rumah suntuk. Duduk Sam! Hai Fa! Lo berdua ngapain kesini? Sering makan disini juga?” Tanya Rena sambil duduk kembali.
Afa hanya tersenyum dan langsung mengambil posisi duduk di berhadap-hadapan dengan Shane dan di samping Sam karena di samping Shane ada Rena.
“Gue emang sengaja lagi nyariin Shane. Ada kali 2 jam gue sama Afa muter-muter nyari ini bocah.” Jawab Sam.
“Loh, kenapa nggak chat aja?” Tanya Rena.
“Tadi sih udah, Cuma nggak aktif. Jadi gue pikir mungkin ponselnya Shane digondol jambret kali. Makanya gue cari manual deh pakai insting.” Kata Sam.
__ADS_1
“Emangnya ada apa nyariin Shane? Urgent banget ya?” Tanya Rena dengan tatapan sedikit mengejek.
“Dompetnya Afa ketinggalan di mobil Shane. Tadi dia perlu banget soalnya harus upload tugas kuliah pakai Nomer Induk Mahasiswanya, cuma kan dia nggak hafal. Pas mau ambil di dompet, dia baru inget dompet dia mungkin ketinggalan di mobil Shane.” Jawab Sam dengan lugas.
“Rena, gue kangen banget sama lo. Ke Mall yuk! Temenin gue beli sepatu. Kalau lo yang pilih pasti bagus deh.” Rengek Sam yang sebenarnya ingin membiarkan Afa dan Shane berdua.
“Tapi gue lagi sama Shane.” Jawab Rena.
“Shane, gue pinjam Rena dulu ya! Tenang aja, nanti gue balikin ke rumahnya langsung.” Kata Sam yang langsung menarik paksa tangan Rena.
“Fa, gue pamit ya. Nanti kalau mau pulang dan nggak ada yang antar, lo telepon gue ya.” Kata Sam yang sudah mulai berjalan meninggalkan Afa.
Shane masih sibuk dengan telepon genggam yang baru dia nyalakan. Dia membaca semua pesan masuk dan melihat ada 60 panggilan tidak terjawab dari Afa.
“Kak. Aku bisa jelasin semuanya.” Kata Afa sambil mencoba menggenggam tangan Shane. Shane menepis tangan Afa tanda dia tidak ingin disentuh oleh Afa.
“Tadi itu waktu aku sampai rumah tiba-tiba sudah ada Artha sama keluarganya di rumah dan aku nggak bisa nolak untuk nggak ikut jalan sama mereka walaupun sudah aku coba untuk bilang nggak mau. Aku nggak ngapa-ngapain sama Artha kak.” Kata Afa menjelaskan. Shane masih tidak merespon. Dia masih memainkan telepon genggam miliknya.
“Kak, aku nggak bohong sama kakak. Aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia kak. Mereka maksa aku tadi. Aku nggak bisa apa-apa karena Ibuku kan belum tahun kalau aku sama dia sudah putus.” Afa kembali menjelaskan kepada Shane, namun Shane masih diam dengan pandangan yang kesana kesini seolah tidak ingin menatap mata Afa.
“Aku harus jelaskan ke kakak gimana lagi kak?” Tanya Afa kembali.
Shane berdiri dari tempat duduknya. Dia memberikan dompet milik Afa dengan cara sedikit melemparnya ke atas meja. Setelah itu Shane langsung pergi meninggalkan Afa. Afa berjalan mengikuti Shane dari belakang. Sampai akhirnya tiba di parkiran dan Shane langsung masuk kedalam mobilnya. Afa mencoba membuka pintu sebelahnya namun terkunci dari dalam. Shane langsung melajukan mobilnya tanpa mengajak Afa.
“Kak!” Teriak Afa.
Afa langsung melihat telepon genggam miliknya. Terlihat baterainya sudah sisa 1%. Dia mencoba menelepon Sam untuk meminta dijemput.
__ADS_1
“Hallo!” Jawab Sam.
“Bang, gue…” belum sempat meminta tolong, telepon Afa langsung terputus.
“Afa! Bodoh!” Umpat Afa dalam hati.
Afa kembali kedalam resto dan bertanya kepada staff disana apakah bisa meminjam pengisi daya karena Afa sudah kehabisan daya. Staffnya memperbolehkannya meminjam pengisi daya, namun setalah di cek satu per satu tidak ada satupun pengisi daya yang cocok dengan ponsel milik Afa.
Afa berjalan meninggalkan resto berharap ada pengemudi ojeg yang sedang lewat dan tidak membawa penumpang. Jalanannya cukup gelap karena itu cukup jauh dari pusat kota. Afa terus berjalan ditengah udara dingin yang menusuk tubuhnya.
“Aku mau bahagia aja sesulit ini kak. Aku tahu aku salah. Mungkin memang benar kalau kakak terlalu sempurna untuk aku miliki. Jadi aku nggak pantas untuk disamping kakak.” Pikir Afa dalam hati.
Ada air mata yang ingin menetes. Ada rasa lelah juga di hatinya. Namun dia juga kecewa dengan dirinya sendiri yang seharusnya bisa lebih tegas kepada keluarganya Artha.
*** Di Mobil Shane ***
“Lo dimana? Dari tadi di telepon nggak dijawab.” Sam mengomel.
“Di jalan.” Jawab Shane singkat.
“Afa dimana?” Tanya Sam kembali.
“Nggak tahu. Tadi gue tinggal di resto.” Jawab Shane santai.
“Lo gimana sih ninggalin cewek lo sendiri di atas gunung? Balik lagi! Cari dia!” Suruh Sam.
“Kenapa? Bukannya lo mau jemput dia?” Tanya Shane.
__ADS_1
“Buset dah. Gue punya adik juara lomba banyak tapi goblok banget soal cinta. Yang gitu aja dianggap serius. Udah tahu gue lagi main di mall sama Rena. Tadi Afa nelepon gue Cuma keputus. Gue takut dia kenapa-kenapa. Makanya jadi cowok pinter dikin kenapa Shane?” Omel Sam.
Shane langsung menutup telepon Sam dan memutar balikkan mobilnya. Shane mencoba menelepon Afa, namun memang benar ponselnya tidak aktif.