
Afa akhirnya berhenti menangis. Setelah sekian lama akhirnya Shane bisa membuatnya tertawa kembali. Mereka pun akhirnya bisa menikmati makan malam yang disajikan oleh para pelayan Resto.
“Kak. Ko kakak bisa milih tempat ini sih? Ini kan sepi tahu.” Kata Afa sambil menikmati hidangan yang disajikan.
“Oh atau jangan-jangan?” Afa tiba-tiba tercengang dan tidak melanjutkan kalimatnya.
“Kenapa Fa?” tanya Shane yang juga sedang menikmati hidangannya.
“Jangan bilang kakak pesan 1 resto ini cuma buat kejutan aja?” tanya Afa bisik-bisik seolah ada yang memperhatikan.
Shane hanya tersenyum dan mengangguk. Mulutnya masih mengunyah makanan yang lezat itu.
“Hah? Serius?” tanya Afa kaget.
“Iya Afa. Kakak sengaja biar bisa bikin kehebohan kayak tadi. Kalau ada pengunjung lain kan nggak enak nanti merasa terganggu.” Jawab Shane dengan santai.
Afa meletakkan sendok dan garpu yang sedang dia gunakan. Dia begitu tak mengira bahwa Shane bisa seromantis ini. Sejak dulu yang Afa tahu, Shane hanyalah seorang kutu buku yang sulit untuk didekati.
“Kenapa Fa?” tanya Shane bingung.
“Kakak romantis kayak gini ko masih jomblo sih?” tanya Afa yang terharu namun juga meledek Shane.
“Kata siapa kakak jomblo?” tanya Shane sambil kembali makan.
“Hah? Kakak punya pacar? Siapa?” tanya Afa penasaran.
“Kepo kamu. Udah lanjut aja makannya!” jawab Shane yang membiarkan Afa mati penasaran.
“Kaaakkkkk! Ko gitu sih sama Afa?” kata Afa yang sedikit manja.
“Nggak ada Fa. Kakak single.” Jawab Shane.
“Jomblo berarti.” Jawab Afa yang kembali memakan hidangan tersebut.
“Single Fa, bukan jomblo.” Kata Shane sambil tersenyum.
Tiba-tiba telepon genggam Afa berbunyi tanda ada pesan masuk dari seseorang. Afa pun melihat telepon genggamnya dan membaca pesan tersebut.
__ADS_1
“Hai Fa. Lagi apa nih? Masih sama teman nggak?” tanya Faris.
Afa hanya mengabaikan pesan dari Faris dan melanjutkan makan malamnya. Shane ingin sekali bertanya itu pesan dari siapa. Hanya saja Shane takut jika terlalu ikut campur urusannya, Afa akan merasa tidak senang.
Setelah semua makanan habis disantap, Shane dan Afa memutuskan untuk pulang. Di tempat parkir, Shane memakaikan helm untuk Afa. Setelah itu pun naik ke motornya dan Shane pun melajukan motornya.
“Terima Kasih untuk hari ini Shane. Terima kasih walaupun terima kasih aja nggak cukup. Aku… Bahagia.” Kata Afa sambil memeluk Shane dari belakang. Suaranya menggelegar di awal kalimat. Namun perlahan memudar.
Tetesan air mata kembali jatuh, bahkan kini membasahi punggung Shane. Shane sangat kaget saat Afa memeluknya dari belakang. Ada rasa yang berbeda. Dia gugup dan membeku bagai patung. Tapi kemudian Shane merasakan Afa sedang bersedih.
Shane menggenggam tangan kiri Afa yang kini melingkar di pinggangnya. Semakin kuat sampai Afa dapat merasakannya. Afa membalasnya dan menggenggam tangan Shane dengan tangan kanannya. Air matanya semakin deras. Afa merasakan rasa takut yang luar biasa. Perasaan itu sangat sulit untuk dijelaskan.
1 jam berlalu. Kini Afa dan Shane sudah berada di depan rumah Afa. Shane mengantarnya langsung ke dalam gang rumahnya.
“Kak, terima kasih ya untuk hari ini. Maaf aku nggak bisa ajak kakak ke dalam.” Kata Afa sambil mengembalikan helmnya.
“Sama-sama Fa. Iya nggak apa-apa. Kamu langsung istirahat ya Fa.” Kata Shane sambil menerima helm yang Afa berikan.
“Iya. Kakak hati-hati di jalan ya. Kabari kalau sudah sampai.” Jawab Afa.
Afa pun langsung masuk ke dalam rumah.
“Teman Bu.” Jawab Afa santai.
“Benar cuma teman? Ingat! Kamu sudah punya Artha, Fa.” Kata Ibunya yang sedikit ketus.
“orang cuma teman apa hubungannya sama Artha?” jawab Afa kesal.
“Ya nggak enak Fa sama Artha. Nanti dikira kamu cewek murahan.” Jawab Ibunya jengkel.
“Yang ada juga dia yang murahan.” Kata Afa dengan suara yang hampir tidak terdengar. Afa langsung masuk ke dalam kamar. Setelah Afa mandi untuk membersihkan badannya.
Selesai mandi, Afa melihat telepon genggamnya. Ternyata ada banyak pesan.
“Fa, Mas minta maaf. Mohon Afa bisa memikirkan lagi hubungan kita untuk kedepannya.” Pesan dari Artha dibuka dan dibalasnya oleh Afa “Nggak ada yang perlu dipikirin lagi Mas!”
“Afa! Lo dimana? Main yuk!” Pesan dari Sam yang sejak pukul 5 menghubunginya akan tetapi tidak sempat dibaca oleh Afa dan tertutup oleh pesan yang lainnya.
__ADS_1
“Sorry gue baru baca.” Balas Afa untuk pesan dari Sam.
“Cuma di read doang Fa?” Tanya Faris.
“Ah, maaf. Tadi lagi di jalan, ini baru sampai rumah.” Balas Afa kepada Faris.
“Aku baru sampai rumah nih. Kamu pasti langsung tidur ya Fa?” pesan dari Shane tiba-tiba muncul.
“Nggak kak, aku masih nungguin kabar dari kakak dulu. Baru selesai mandi juga kak.” Balas Afa dengan sangat cepat.
“Ya udah istirahat Fa! Aku juga mau mandi dulu. Night Fa.” Balas Shane.
“night too kak.” Jawab Afa.
Afa merapikan rambutnya dan menyiapkan surat-surat untuk permohonan magang. Dia berencana untuk mengajukan permohonan Magang di perusahaan yang dipimppin oleh Shane. Itu adalah perusahaan milik Ayahnya Shane. Shane menjabat sebagai CEO di perusahaan tersebut. Afa memang sudah sempat meminta ijin ke Shane, tapi entah Shane masih ingat atau tidak.
Sebenarnya perkuliahan baru akan dimulai 2 minggu lagi. Tapi waktu 2 minggu saat ini akan Afa gunakan secara maksimal untuk mencari tempat magang.
Tidak terasa 1 jam sudah berlalu. Afa memutuskan untuk berselancar dulu di media sosialnya sebelum tidur. Dia melihat ke bawah dan ternyata ada unggahan Shane berupa potongan Video dan Photo saat di tempat dinner tadi. “Just the two of Us.” Captionnya Shane. Shane menandai Afa dalam unggahan tersebut.
Afa tersenyum melihatnya. Afa pun berkomentar di unggahan Shane “to be honest, a lot of people”
*** Di kamar Shane ***
Shane tersenyum melihat komentar Afa.
“and tears” Shane pun membalas komentar Afa.
“Kenapa belum tidur Fa?” Shane mengirimkan pesan via WhatsApp.
“karena ada yang lain di senyummu yang membuat lidahku gugup tak bergerak.” Balas Afa.
Shane tersenyum menyeringai. Dia tahu itu adalah penggalan lirik sebuah lagu.
“Ada Pelangi di bola matamu dan memaksa diri tuk bilang aku sayang padamu.” Balas Shane.
Afa membaca isi pesannya tapi tidak membalasnya. 5 menit bahkan 10 menit berlalu. Hati Shane kini gelisah.
__ADS_1
“Ada yang salah sama balasannya? Atau Afa mungkin risih dan menganggap ini mengganggu? Ko nggak dibalas ya? Ko Cuma dibaca aja ya? Ah, mungkin Afa marah? Apa aku terlalu cepat? Apa Afa nggak suka aku langsung ke intinya? Aku harus bilang apa? Ini kan Cuma lagu.” Banyak pertanyaan dibenak Shane yang tidak terpecahkan hanya karena Afa tidak membalas pesannya.