
Pagi ini Imel dan Ayahnya sudah pergi ke kantor. Afa yang belum mulai bekerja dan seperti biasa, dia masih bantu-bantu Ibunya Imel mencuci piring bekas sarapan pagi ini. Afa juga membantu menyapu dan mengepel lantai rumah. Ini adalah hari Sabtu pertama Afa tidak berada di rumahnya.
“Nda usah ndo. Tamu ko malah beres-beres?” Kata Ibunya Imel yang sedang merapikan dapur.
“Nggak apa-apa bu. Bete juga kalau saya diam aja.” Jawab Afa yang masih mengepel lantai.
“Kenal Imel sejak masuh kuliah ya?” Tanya Ibunya Imel.
“Iya Bu. Cuma saya jarang sekelas sama Imel 3 Tahun terakhir. Kalau tahun pertama memang pasti ketemu setiap hari. Tapi habis itu kan kelas bisa pilih sendiri, nah kebetulan saya nggak bareng Imel semua. Paling 1 pelajaran yang bareng.” Kata Afa yang menjelaskan kedekatannya.
“Oh gitu. Imel nda nakal toh disana?” Tanya Ibunya Imel kembali.
“Nggak Bu. Walaupun saya jarang ketemu di kampus tapi saya sering ko ke kostan Imel dan saya juga lihat Imel nggak aneh-aneh ko disana.” Jawab Afa agar Ibunya Imel tidak khawatirl.
“Syukur kalau gitu. Ibu yo berat melepas Imel kuliah di luar kota. Tapi mau gimana lagi, anaknya dapat maunya disana.” Ibunya Imel terlihat khawatrir.
“Pasti Bu. Saya mau kuliah ke Jakarta aja sama Ibu saya nggak dibolehin. Mungkin alasannya sama. Tapi bedanya saya nurut aja lah. Habis kalau Ibu saya galak kalau saya nggak nurut.” Jawab Afa sambil tersenyum.
“Seorang Ibu galak juga mungkin karena takut anaknya kenapa-kenapa. Imel ini memang bandel, jadi Ibu ya sebagai orang tua hanya bisa mendoakan saja.” Jawab Ibunya Imel.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Afa langsung mengambil telepon genggam miliknya dan duduk di teras rumah. Udaranya sejuk dengan banyak orang yang berlalu lalang. Dia kembali teringan Shane yang dia tinggalkan begitu saja tanpa penjelasan.
Afa langsung masuk ke kamar Imel dan mengaktifkan kartu miliknya yang sudah hampir seminggu ini sengaja dia nonaktifkan. Setelah telepon genggamnya kembali menyala, terlihat banyak sekali pemberitahuan. Ada beberapa pesan yang tidak dapat dibuka.
“Kalau memang gue menyinggung perasaan lo, gue minta maaf.” Itu adalah pesan terakhir dari Sam.
Artha dan mamanya juga mengirimkan banyak pesan, namun Afa tidak langsung membacanya. Afa justru membuka pesan terakhir dari Shane. “Rindu itu ternyata berat ya Fa.”
Afa tersenyum membacanya. Dia tidak percaya Shane yang dia kenal kutu buku juga bisa seperti itu. Pasalnya dulu Shane adalah tipe orang yang cuek.
“Sini aku bantu tanggung rindunya agar beratnya sama rata.” Balas Afa kepada Shane.
Tidak lama kemudian telepon genggam milik Afa berbunyi. Dia melihat ada sebuah panggilan dari Shane. Berbeda dari biasanya, hari ini Shane melakukan video call.
“Hai.” Kata Afa yang terlihat malu-malu.
“Aku kira kamu akan menghilang lebih lama dari ini.” Jawab Shane di seberang sana.
“Apakah kamu menginginkannya? Aku bisa lebih lama itu.” Jawab Afa sambil tersenyum.
__ADS_1
“Jangan!” Teriak Shane.
“Karena rindu itu berat?” Tanya Afa.
“Iya.” Jawab Shane dengan suara yang lirih.
“Maaf. Aku membuatmu menunggu terlalu lama. Walaupun menurut teori aku hanya pergi beberapa hari saja.” Jelas Afa.
“Aku bahkan bisa menunggu lebih lama dari ini.” Jawab Shane yang tersipu malu.
“Baiklah, aku akan pergi 1.000 tahun lagi.” Jawab Afa yang menutup kameranya.
“Jangan!” Teriak Shane lagi.
“Kenapa?” Tanya Afa yang masih menutup kamera.
“Karena kamu sudah ada disini, maka jangan buang-buang waktu lagi! Jangan pergi lagi!” Pinta Shane.
Afa menahan tawanya sedangkan Shane terus tersenyum karena sangat merasa senang sudah ada Afa saat ini. Mereka mengobrol sampai hampir 1 jam. Shane juga meminta maaf atas perlakuan Sam yang sebenarnya baru dia ketahui saat pulang dari stasiun sore itu.
“Sekarang kamu dimana?” Tanya Shane.
“Kamu pasti kesulitan ya sampai harus magang disana?” Tanya Shane yang merasa sedih karena dia tidak bisa melakukan apapun untuk Afa.
“Nggak juga. Anggap saja ini liburan.” Jawab Afa yang terlihat bahagia.
“Laki-laki itu?” Tanya Shane yang tidak memperjelas pertanyaannya.
“Faris? Teman sekampusku yang mau magang disini juga.” Jawab Afa menjelaskan kepada Shane.
“Aku kira pacar baru.” Ledek Shane.
“Kalau punya pacar aku pasti cerita ko.” Kata Afa yang kini sedang terbaring di tempat tidurnya.
“Boleh nggak aku kesana sekarang?” Tanya Shane dengan sedikit ragu.
“Sekarang? Memang kakak nggak sibuk?” Tanya Afa kembali tanpa menjawab pertanyaan Shane.
“Ada yang lebih penting dari sebuah kesibukan.” Jawab Shane.
__ADS_1
“Apa?” Tanya Afa singkat.
“Melepas rindu yang sudah menggunung sebelum Meletus dan menjadi abu.” Jawab Shane.
“Oke. Aku tunggu ya.” Kata Afa yang menahan tawanya karena dia tahu Shane tidaki mungkin akan menemuinya hari ini juga.
Setelah itu Shane mematikan teleponnya. Afa hanya tersenyum membayangkan jika Shane benar-benar ada disini. Setelah itu dia kembali ke luar dan membantu Ibunya Imel untuk menyiapkan bahan masakan untuk makan malam nanti.
Tidak terasa hari sudah menjelang sore. Imel dan Ayahnya juga sudah pulang dari kantor. Mereka langsung masuk kedalam dengan disambut oleh Ibunya Imel dan juga Afa.
Afa mengikuti Imel ke dalam kamar. Imel bercerita bahwa Faris tadi menanyakan Afa, namun karena di kantor memang sedang sangat sibuk jadi Imel tidak membaca pesannya dan baru dibaca saat dalam perjalanan pulang.
“Tadi gue udah aktifin lagi nomer gue Mel.” Kata Afa sambil melihat temannya sedang ganti baju.
"Udah baikan sama ehem ehem?” Tanya Imel yang sedikit meledek.
“Nggak. Mungkin gue harus jujur kali ya sama dia biar nggak ada salah paham diantara kami?” Tanya Afa sambil memeluk guling.
“Jujur saja! Masalah hasil ya sudah lihat nanti saja.” Jawab Imel dengan santai.
“Dia mau kesini hari ini.” Kata Afa.
“Sampainya nanti malam berarti?” Tanya Imel memastikan.
“Kayaknya deh. Soalnya kalau kereta kan ada sore, kalau dia kesini pakai mobil paling jam 9 atau jam 10an baru sampai.” Jawab Afa yang sebenarnya juga tidak tahu kapan Shane akan sampai dan apakah memang benar Shane akan menemuinya hari ini.
“Lo nggak nanya memang dia kesini pakai apa?” Tanya Imel yang merasa aneh dengam Afa.
“Nggak. Kan tadi kaya bercanda gitu. Jadi gue nggak nanya banyak.” Jawab Afa.
“Oh, dianya bercanda ke lo kalau dia mau kesini?” Tanya Imel sambil tersenyum menahan tawa.
“Iya, dia emang nggak bilang bercanda cuma menurut gue, kalau dilihat dari bahasanya ya paling itu bercanda.” Jawab Afa menjelaskan.
“Iya, Bahasa dia bercanda. Gue ngerti ko. Tapi lo nya yang nganggap serius kan?” Tanya Imel yang meledek Afa.
“Apaan sih?” Afa melempar guling yang sedang dia peluk.
“Iya gue ngerti. Lo nya ngarep gitu kan?” Kata Imel yang langsung berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1