Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Memaafkan


__ADS_3

Sekitar 10 menit kemudian Shane menemukan Afa yang sedang berjalan tidak terlalu jauh dari tempat dia meninggalkan Afa. “Masuk!” Perintah Shane.


Afa membuka pintu mobil dan masuk lalu duduk di kursi depan disamping Shane. Shane langsung mengemudikan kembali mobilnya. Shane masih fokus dengan kemudinya.


“Kak. Maaf! Aku sama Artha…”


“Apa kamu masih cinta sama dia?” Tanya Shane yang memotong pembicaraan Afa.


“Nggak lah kak. Aku udah nggak suka sama dia malahan.” Jawab Afa tegas.


“Terus kenapa kamu nggak bisa tegas dengan mereka? Tolak mereka dan bilang bahwa kamu sudah menjadi milikku.” Jawab Shane dengan mata yang masih fokus ke jalanan.


“Sebelumnya aku minta maaf ya kak sudah buat kakak kecewa. Pada saat itu aku belum jujur sama Ibuku kalau kami sudah putus. Aku sudah mencoba menolaknya, tapi maaf mungkin aku memang kurang tegas karena aku juga nggak enak sama Adiknya yang sudah jauh-jauh datang. Aku yang salah kak. Maaf.” Jawab Afa menundukan kepalanya.


“Kamu menjaga hati orang lain tapi nggak memikirkan hatiku, Fa.” Shane melirik ke arah Afa.


“Maaf kak. Aku tahu maaf saja nggak bisa bantu kakak untuk menghilangkan rasa kecewa yang saat ini sedang kakak rasakan. Namun, saat ini aku hanya bisa minta maaf, kak.” Afa masih menundukkan kepala.


“Tolong kenalkan aku kepada keluargamu. Agar mereka tahu bahwa kamu adalah milikku. Dengan begitu, aku bisa menetapkan batasan ketika mereka datang kembali.” Shane menepikan lalu menghentikan mobilnya.


Afa memindahkan pandangannya ke arah Shane. Dia melihat ada kekhawatiran di wajah Shane. Sekilas ada rasa sedih yang terlukis di wajahnya.


“Aku akan segera kenalkan kakak dengan keluargaku.” Jawab Afa.


“Fa, aku begini biar nggak ada lagi kesalahpahaman diantara kita. Agar tidak ada lagi yang mengganggumu. Aku ingin hubungan kita tetap baik-baik saja.” Shane menggenggam tangan Afa.


“Afa ngerti kak. Maaf kak, sudah buat kakak kecewa. Secepatnya Afa akan bawa kakak ke rumah. Maafin aku kak untuk hari ini.” Afa menahan air matanya.


“Aku sudah memaafkanmu. Aku hanya khawatir hatimu kembali melunak saat kamu kembali bersamanya.” Shane mengelus rambut Afa.


“Nggak! Itu nggak akan terjadi. Aku sayangnya sama kakak.” Afa meyakinkan Shane.


“Ya sudah, sekarang aku antar kamu dulu. Sudah malam, kamu juga pasti lelah.” Shane kembali melajukan mobilnya.


“Kak. Aku pulangnya ke kostan Imel soalnya aku ada janji mau bantuin tugas dia.” Afa memberitahukan Shane.


“Baiklah, aku antar kamu kesana. Kamu jangan sampai terlalu lelah.” Kata Shane.

__ADS_1


Shane mengantarkan Afa ke kostan Imel. Sesampainya disana Shane langsung membukakan pintu mobil untuk Afa. Afa langsung keluar dari dalam mobil.


“Kak. Terima kasih dan maaf untuk semuanya.” Kata Afa.


“Fa. Udah jangan dibahas lagi. Kamu harus tahu kalau aku sayang kamu. Apapun kesalahanmu, aku akan selalu berlapang untuk memaafkanmu.” Jawab Shane yang kembali mengelus rambut Afa.


Setelah itu Shane kembali masuk kedalam mobilnya lalu mengemudikan mobilnya untuk pulang. Afa melambaikan tangannya melepaskan kepergian Shane. Tanpa Afa ketahui ada yang mengintip dari balik jendela salah satu kamar. Afa masuk ke dalam kostan Imel dan langsung berjalan menuju kamar Imel.


“Kamu harus tahu kalau aku sayang kamu.” Ledek Imel yang sedari tadi mengintip Afa dari balik jendela kamarnya.


“Imel! Apaan sih?” Afa kaget.


“Romantis ya?” Tanya Imel.


“Biasa aja.” Afa malu-malu.


“Dia punya kakak kan?” Tanya Imel kembali.


“Ada.” Jawab Afa singkat.


“Bang Sam? Nggak ada romantis-romantisnya dia. Tapi nanti gue kenalin deh ya kalau ada waktu.” Jawab Afa.


Setelah itu Afa langsung membantu Imel mengerjakan tugasnya. Mereka juga saling bercerita satu sama lain. Imel yang penasaran kenapa Afa bisa kenal Shane, dengan sangat antusias mendengarkan semua cerita yang Afa ceritakan.


Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam dan kantuk mulai menguasai mata mereka. Afa dan Imel memutuskan untuk beristirahat dan akan meneruskan tugasnya kembali esok hari.


Sebelum tidur, Afa memeriksa telepon genggam miliknya. Ada pesan yang dikirimkan oleh Shane. Shane mengucapkan selamat tidur karena dia sudah sangat lelah. Afa membelasnya dan langsung mengambil posisi tidur di samping Imel.


Keesokan paginya Afa terbangun pukul 5 pagi. Dia langsung pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, dia langsung mengecek telepon genggam miliknya. Terlihat sudah ada sebuah pesan yang sedang menunggu dibalas oleh Afa.


“Selamat pagi, sayang. Hari ini kita olahraga bareng yuk!”


“Ini sih masih terlalu pagi untuk selamat pagi. Hehehe. Oke kak. Olahraga di tempat biasa kan?” Balas Afa.


“Iya. Nanti aku jemput ya Fa.” Balas Shane.


“Kalau Bang Sam ikut kira-kira mau nggak ya?” Tanya Afa.

__ADS_1


“Sam? Kenapa harus sama bang Sam?” Balas Shane kembali.


“Jangan salah paham dulu dong. Imel minta dikenalin sama Bang Sam. Makanya kira-kira dia mau nggak ya? Kalau sekiranya mau, nanti aku bangunin Imel biar aku ajak dia sekalian.” Afa menjelaskan kepada Shane agar tidak ada salah paham.


“Minta dikenalin? Serius? Memangnya kenapa?” Tanya Shane yang keheranan.


“Katanya mau punya pacar yang romantic kayak kakak.” Balas Afa.


“Baiklah! Aku mengerti, nanti aku kabari lagi ya. Aku mau siap-siap dulu.” Balasan Shane mengakhiri percakapan mereka melalui pesan singkat.


Tidak lama kemudian Shane mengirimkan pesan bahwa Sam mau pergi bersamanya dan mereka akan menjemput Afa sekitar 30 menit lagi. Afa bergegas membangunkan Imel yang masih nyenyak dalam mimpinya.


“Mel! Mel! Bangun Mel!” Afa menepuk-nepuk Pundak Imel.


“Mmmmm, ini libur Fa.” Jawab Imel membalikan badannya ke arah yang berlawanan.


“Olahraga yuk Mel!” Kata Afa.


“Males. Lo sendiri aja deh.” Imel kemudian menutup telinganya dengan bantal.


“Oh, ya udah deh kalau gitu. Soalnya tadi gue udah nelpon Shane suruh bawa abangnya soalnya …”


“Oke, gue mandi dulu.” Imel memotong kalimat Afa dan langsung bergegas masuk ke kamar mandi.


“Mel. 30 menit lagi mereka sampai. Jangan lama-lama ya mandinya.” Teriak Afa.


“Oke!” Jawab Imel sambil teriak.


10 menit kemudian Imel menyelesaikan mandinya. Dia terlihat sangat buru-buru dan langsung bergegas memakai pakaian dan mengikat rambutnya. Tak lupa dia memakai make up.


“Mel. Kita mau olahraga, bukan mau party.” Kata Afa yang melihat Imel dari kaca.


“Emang gue tebal banget ya Fa make up nya?” Tanya Imel.


“Menurut gue sih gitu. Tapi kalau lo nyaman ya nggak apa-apa sih.” Jawab Afa yang merasa tidak enak.


“Habisnya kulit gue gelap, nanti gue jadi yang paling gelap diantara yang lain gimana?” Imel meraasa tidak percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2