Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Yang Pertama


__ADS_3

“Memangnya kamu buru-buru mau kembali ke kamarmu?” Tanya Shane sambil berlutut di hadapan Afa yang sedang duduk di pojok kasur.


“Kak, kakak itu harus istirahat.” Jawab Afa sambil memegang kembali wajah Shane yan kini ada lebih rendah darinya.


“Aku nggak ngantuk tahu.” Jawab Shane lalu berdiri.


Afa langsung menyusul Shane berdiri dan memeluk Shane. Shane membalas pelukannya dan berkata “Kenapa hari ini berlalu begitu cepat? Rasanya baru beberapa detik yang lalu aku datang ke Kota ini.”


“Aku nggak mau kehilangan kamu. Berjanjilah untuk tetap setia selama kamu jauh dari aku.” Pinta Shane yang masih memeluk Afa.


Afa melepaskan pelukannya begitu pun Shane. “Aku nggak bisa berjanji untuk itu. Aku ingin memberikan bukti kesetiaanku, bukan janji. Kakak hanya perlu tahu bahwa kakak adalah satu-satunya.”


“Kamu sungguh pandai berkata. Apakah kamu demikian kepada Artha?” Tanya Shane dengan wajah yang murung.


“Sudahi tentang Artha. Aku juga telah menyudahinya. Kenapa pacarku ini selalu mengungkit si pengkhianat itu?” Tanya Afa yang terlihat sedikit kesal.


“Kamu adalah yang pertama dalam hidupku. Tapi aku bukan. Bagaimana bisa aku tidak cemburu?” Tanya Shane yang masih melingkarkan tangannya di pinggang Afa.


“Kamu juga yang pertama aku sukai dalam hidupku. Namun memang bukan yang pertama yang menjalani kisah bersamaku. Tapi saat ini, kamu adalah satu-satunya. Berhentilah cemburu pada masa laluku. Kamu ini adalah masa depanku yang akan aku perjuangkan.” Jawab Afa yang mendongakkan wajahnya ke arah Shane sambil menyentuh wajah Shane dengan kedua tangannya.


Shane tersenyum dan menggapai tangan Afa. Shane menurunkan tangan Afa dan perlahan Shane mendekatkan wajahnya ke arah wajah Afa. Bibirnya mendarat di bibir Afa. Afa yang kaget langsung mendorong Shane.


“Maaf. Aku terbawa suasana.” Kata Shane yang kaget melihat ekspresi wajah Afa yang mengeryitkan alisnya. Shane mendekati Afa kembali dan memeluknya lagi. “Maaf.” Kata Shane dengan pelukannya yang semakin erat.


Jantung Afa berdetak sangat kencang. Dia tidak menyangka kalau ciuman pertamanya telah diambil oleh Shane. Dia juga tidak menyangka bahwa Shane akan melakukannya. Walaupun Afa dan Artha sudah berpacaran lama, mereka memang belum pernah berciuman sama sekali. Selain jarak juga jarang mempertemukan mereka, mereka juga memang jarang membahas hal romantis dan lebih sering berprtualang saat bertemu.


“Berapa banyak wanita yang sudah kakak cium seperti itu? Aku yang keberapa?” Tanya Afa dengan nada yang ketus sambil melihat ke arah lain di sisi ruangan.

__ADS_1


“Baru kamu Fa. Yang pertama dan aku ingin menjadikan yang terakhir.” Jawab Shane sambil melepaskan pelukannya.


Wajah Afa memerah dan jantungnya semakin berdetak kencang. Afa memeluk Shane dan merasakan bahwa jantung Shane berdetak sangat kencang seperti dirinya.


“Jantung kakak mau loncat keluar kak.” Kata Afa yang masih memeluk Shane.


“Fa. Kamu nggak lagi marah kan?” Tanya Shane yang membalas pelukan Afa.


“Nggak, aku cuma kaget aja.” Jawab Afa sambil tersenyum namun enggan melihat ke arah Shane.


“Aku nggak akan seperti itu lagi tanpa persetujuan kamu. Maaf atas kelancanganku.” Kata Shane yang masih memeluk Afa.


“Sudah! Tidur sana! Mau tidur di kamarku atau di kamar kakak saja? Aku temani kakak sesuai janji aku.” Kata Afa yang melepaskan pelukannya.


“Aku disini saja. Kamu aku antar dulu ke kamarmu ya. Kamu juga perlu tidur.” Jawab Shane. Shane kemudian mengantarkan Afa ke kamarnya.


“Rasanya aku nggak rela kakak pergi gitu saja. Sekarang malah aku yang lemah dan nggak mau kakak pergi.” Kata Afa sambil menundukan kepalanya.


“Besok aku akan mengantarmu. Akhir pekan kan kita bisa bareng lagi.” Jawab Shane sambil menggenggam tangan Afa.


“Aku sayang sama kakak.” Kata Afa sambil mendongakan kepalanya dan menatap mata Shane.


“Fa…”


Kali ini Afa yang berinisitif mengecup bibir Shane yang kemudian memejamkan mata. Shane menarik pinggang Afa saat Afa hendak menjauhkan bibirnya. Kini bibir Shane menyerang bibir Afa. Mereka sudah tidak lagi mengecup. Kali ini mereka berciuman dengan penuh gairah. Afa melingkarkan tangannya di leher Shane dan Shane memeluk pinggang Afa semakin erat. Bibirnya saling terpaut bergantian sampai nafas keduanya terengah.


Hampir setengah jam mereka saling melakukannya. Jantungnya berdetak begitu sangat kencang. Wajah mereka memerah satu sama lain. Mereka saling menatap dengan senyuman mengembang di wajahnya.

__ADS_1


“Apakah Artha…”


Belum selesai Shane melanjutkan kalimatnya Afa kembali menyerang Bibir Shane tanpa ampun. “Berhentilah menyebut Namanya! Kakak adalah yang pertama.”


Shane tersenyum lalu memeluk Afa dengan sangat erat. Dia merasa bahagia mendengar bahwa Afa pertama kali mencium pria dan itu adalah dirinya. Afa juga tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Setelah itu Shane memutuskan tidur di kamar Afa. Afa tidur di kasur sedangkan Shane tidur di sofa.


Afa memainkan telepon genggamnya sebelum tidur. Dia melihat Sam meneleponnya berkali-kali. Afa juga melihat pesan Sam namun enggan untuk membacanya. Entah sampai kapan Afa akan menjaga jarak dengan Sam karena kejadian terakhir itu.


Afa membuka media sosialnya dan melihat unggahan Shane saat mereka sedang di pantai. Afa hanya tersenyum melihatnya. Tiba-tiba ada pesan masuk dari Shane “Senyum-senyum terus. Bukannya tidur.”


“Kakak juga tidur dong.” Teriak Afa kepada Shane yang berada di ruang depan dan terpisah oleh sekat dinding dengan TV ditengahnya.


Shane hanya tersenyum lalu memejamkan matanya. Afa mematikan layar telepon genggamnya dan menarik selimut miliknya karena jam sudah menunjukan pukul 2 malam.


Afa terbangun pukul 5 pagi dan mendapati Shane sedang tertidur di Sofa. “Kak. Pindah Yuk!”


Shane yang baru setengah sadar mengikuti Afa yang menuntunnya ke kasur. Afa langsung menyelimuti kekasihnya sedangkan dia langsung ke kamar mandi. Sekitar 1 jam kemudian Afa selesai mandi dan sudah berpakaian rapi.


Afa melihat layar teleponnya menyala dan dia mendekatinya. Ternyata itu adalah panggilan masuk dari Sam namun Afa enggan untuk menjawab panggilannya. Dia membiarkannya sehingga membuat Shane terbangun.


“Siapa yang telepon pagi-pagi?” Kata Shane yang masih dalam keadaan mengantuk dan melihat ke arah telepon genggam milik Afa.


Afa mengambil telepon genggamnya dan menolak panggilan masuk tersebut. “Duh, maaf ya. gara-gara telepon itu jadi kebangun ya kak. Kakak tidur lagi saja.”


“Ini jam berapa ya?” Tanya Shane sambil mengucek kelopak matanya.


“Jam 6 Kak.” Jawab Afa.

__ADS_1


“Fa. Aku nggak ngapa-ngapain kan semalam? Ko aku ada disini sih?” Tanya Shane yang kaget mendapati dirinya bukan di sofa melainkan sedang berda di kasur.


__ADS_2