
“Kamu yakin mau ngenalin mereka berdua?” Tanya Shane sambil istirahat setelah berlari.
“Imel yang minta. Jodoh atau bukan itu lain ceritanya.” Afa meminum air mineral.
Dari kejauhan terlihat Imel dan Sam yang sedang berjalan mengelilingi lapangan. Imel sesekali melihat ke arah Sam secara diam-diam. Dia mengagumi wajah tampan Sam yang terlihat penuh perawatan kulit.
“Gue udah sering dengar tentang lo dari Afa. Jadi sedikit banyak gue udah tahu lo ko.” Jawab Sam dengan pandangan lurus ke depan.
“Oh gitu. Kalian dekat banget ya?” Tanya Imel gugup.
“Banget. Afa itu dunianya gue. Apapun akan gue lakukan untuk lihat dia bahagia.” Jawab Sam.
“Gimana mau dekatin Abangnya kalau Abangnya aja masih nggak bisa move on dari lo Fa?” Gumam Imel dalam hati.
“Lo nggak niat untuk mencari yang lain? Afa udah bahagia loh sama adik lo.” Tanya Imel.
“Belum. Sebelum Afa benar-benar jadi milik orang lain, gue akan terus berusaha menjaganya. Mungkin nanti setelah gue pastikan bahwa dia benar-benar bahagia dengan pilihannya dan pilihannya memang layak.” Sam tersenyum pahit.
“Apa yang membuat lo suka sama Afa sampai segitunya?” Imel penasaran.
“Setia. Nggak semua wanita bisa setia seperti dia dan bisa menerima semua kekurangan prianya.” Mata Sam berbinar ketika menceritakan itu.
“Ya gimana nggak setia kalau cowoknya macam Shane. Udah ganteng, kaya, pintar pula. Gue juga setia kalau dapat yang begitu.” Pikir Imel dalam hati.
“Ini mantannya Afa.” Sam menunjukkan foto Artha dan Afa saat masih SMA.
“Hah? Serius?” Tanya Imel tidak percaya melihat foto mantannya Afa.
Sam menganggukkan kepalanya. “Sama model beginian, LDR pula. Tapi dia setia. Padahal banyak yang bully dia. Tapi dia tetap setia.”
“Dia putus karena apa?” Tanya Imel penasaran.
“Cowoknya selingkuh.” Sam tidak menjelaskan secara rinci.
“Ah masa? Cowoknya nggak ganteng ko. Nggak good looking juga. Masa iya selingkuh?” Tanya Imel yang masih tidak percaya.
__ADS_1
“Iya. Cowoknya ngaku ko.” Jawab Sam.
“Tapi itu sudah berlalu. Semoga Shane adalah yang terakhir ya.” Lanjut Sam.
“Tapi lo masih ngarep. Gimana sih?” Gumam Imel kembali dalam hati.
Imel dan Sam mendekati Shane dan Afa. Sam duduk disamping Afa, sedangkan Imel duduk disamping Sam.
“Cape Mel?” Tanya Afa. Imel hanya mengangguk sambil menelan air mineral yang diberikan oleh Sam. Setelah itu Sam dan Shane mengantarkan Afa dan Imel kembali ke kostnya Imel.
Sesampainya di kostan Imel, mereka berdua istirahat sejenak dan langsung sarapan. Imel tidak banyak menceritakan obrolannya dengan Sam walaupun Afa selalu menggodanya untuk bercerita. Imel fokus dengan sarapan dan menikmati makanannya.
“Lo emang nggak suka sama Sam?” Tanya Imel tiba-tiba.
“Suka sebagai cewek ke cowoknya? Nggak.” Afa mengunyah makanannya.
“Tapi kelihatannya dia cinta mati sama lo tau.” Imel sedikit murung.
“Terus gue harus putusin adiknya dan membahagiakan Abangnya? Bukankah itu sama aja menyakiti 4 hati sekaligus?” Tanya Afa.
“Iya. Gue nyakitin Shane yang udah jelas-jelas dia pacar gue sekarang. Gue nyakitin Sam yang hidup sama dia padahal nggak ada perasaan apapun. Gue nyakitin diri gue sendiri karena memilih orang yang nggak gue cinta dan gue nyakitin lo yang naksir sama dia.” Ledek Afa.
“Ih! Gue Cuma mengagumi aja. Bukan kayak yang cinta sama dia juga nggak. Kan gue baru kenal dia.” Imel salah tingkah.
“Kalau boleh milih sih gue juga inginnya dia move on, Mel. Gue nggak tega lihat dia stuck sama perasaannya, tapi gimana lagi? Gimana mau move on padahal niatnya aja nggak ada?” Tanya Afa.
Setelah selesai sarapan, Imel dan Afa kembali mengerjakan tugasnya. Afa juga sudah meminta ijin untuk tidak membalas pesan Shane dulu karena dia ingin fokus membantu Imel menyelesaikan tugasnya. Imel juga sangat fokus dengan tugas-tugasnya.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Tuganya juga sudah selesai mereka kerjakan. Afa dan Imel merebahkan badannya di atas kasur. Afa mengecek telepon genggam miliknya dan hanya ada pesan “Semangat ya.” dari Shane. Afa tersenyum membaca pesan tersebut.
“Terima Kasih Kakak. Sekarang aku udah selesai. Sebentar lagi aku mau pulang ke rumah.” Balas Afa.
“Jam berapa? Aku siap-siap duku ya untuk jemput kamu.” Balas Shane.
“Setengah 1 aku pulang kak.” Afa membalas pesan Shane.
__ADS_1
“Baiklah! Tunggu disana ya! Jangan kemana-mana sampai aku jemput kamu.” Afa tersenyum membaca pesan dari Shane.
Afa melihat Imel masih melamun disampingnya. Afa langsung menyenggol bahu Imel untuk menyadarkan Imel. “Hei! Jangan bengong terus!”
“Sam itu gimana orangnya?” Tanya Imel.
Afa tersenyum yang melihat temannya kasmaran. “Kenali lebih dalam, jangan dengarkan apa kata orang. Apa yang gue lihat dan gue rasakah tentang dia, belum tentu akan sama dimata lo.”
“Udah ah! Gue mau siap-siap. Bentar lagi gue cabut. Nunggu dijemput dulu.” Lanjut Afa sambil membereskan barang-barangnya.
“Thanks ya udah bantuin tugas gue.” Kata Imel yang terbangun dari kasur.
“Kayak sama siapa aja Mel.” Jawab Afa.
Beberapa menit kemudian, Shane sudah sampai di depan kostan Imel. Afa langsung keluar dari kamar Imel dan berpamitan pulang. Shane menjemput Afa dengan sepeda motornya kali ini. Afa hanya tersenyum setiap kali melihat Shane menggunakan sepeda motornya.
“Kamu beda kalau aku jemput pakai motor.” Kata Shane memakaikan helm kepada Afa.
”Soalnya tingkat kegantengan kakak nambah 500% kalau kakak pakai motor.” Afa langsung duduk dibelakang Shane.
Setelah itu Shane melajukan motornya meninggalkan kostan Imel. Dalam perjalanan Afa menceritakan tentang tugas-tugasnya yang tadi dia kerjakan. Shane adalah pendengar yang baik. Sesekali dia merespon dengan cara memberikan masukan untuk Afa. Afa juga menerima masukannya dan baginya itu adalah pengetahuan yang baru.
Sebelum pulang ke rumah Afa, mereka mampir dulu ke sebuah café untuk makan siang. Café itu masih ada dipusat kota dekat kantor Shane. Shane memang sudah sering kesana walaupun tidak setiap hari. Shane dan Afa memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu makanan dan minumannya disajikan, mereka juga mengobrol tentang kejelasan hubungan mereka.
“Fa, jadi kapan kamu mau kenalin aku ke Ibu kamu?” Tanya Shane dengan tatapan yang dalam.
“Besok aja gimana? Makan malam di rumah aku.” Jawab Afa dengan sangat tegas.
“Be.. Besok?” Shane gugup.
“Iya, kenapa?” Afa bingung.
“Nggak apa-apa. Aku cuma kaget aja ternyata secepat itu dan aku belum siapkan apapun untuk Ibu kamu.” Jawab Shane.
“Kakak ke rumah aku kan mau aku kenalin ke Ibu, bukan mau lamaran. Apa yang harus dipersiapkan?” Afa masih kebingungan.
__ADS_1