Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Pertengkaran


__ADS_3

“Tok tok tok.” Bunyi ketukan pintu yang diketuk oleh Eric. Eric tidak menunggu perintah, setelah mengetuk pintu dia langsung membuka pintunya. Ternyata di dalamnya sudah ada Sam yang sedang duduk di depan meja kerjanya.


“Kenapa Ric?” tanya Sam.


“Nih, adik Lo.” Jawab Eric sambil memberikan berkas yang diberikan oleh Afa.


“Shane?” Tanya Sam kebingungan.


“Bukan!” jawab Eric sambil mengambil posisi duduk di hadapan Sam.


Sam yang merasa bingung langsung membuka map yang diberikan oleh Eric.


“Afa?” tanya Sam kaget.


“Iya. Tadi dia datang kesini nanyain HRDnya siapa. Lucu banget deh dia.” Jawab Eric sambil menahan tawa.


“Magang? Kenapa nggak langsung ke gue?” tanya Sam keheranan.


“Nah itu gue udah nyuruh. Tapi katanya dia nggak mau lewat orang dalam. Jadi tadi dia nyari HRDnya.” Jawab Eric yang tetap menahan tawa.


“Terima aja! Lumayan buat bantuin gue. Jadi gue bisa liburan dulu deh.” Jawab Eric dengan santai.


“Nggak usah Lo bilang juga gue bakalan terima. Terus sekarang dia dimana?” tanya Sam penasaran.


“Udah gue suruh pulang. Gue bilang nanti kalau emang keterima, HRDnya nelepon dia.” Jawab Eric.


“Ini anak ajaib ya? Nyari tempat magang segitu pemiliknya dia kenal tapi nggak minta tolong langsung. Aneh memang. Definisi mempersulit diri sendiri.” Jawab Sam sambil tersenyum.


“Iya, gue juga heran. Tadi sih katanya dia udah ke perusahaannya Shane, tapi ditolak.” Jawab Eric bercerita.


“Sama Shane? Tumben?” tanya Sam keheranan kembali.


“Nggak. Sama HRDnya katanya. Dia juga sama nggak menghubungi Shane dulu.” Jawab Eric


“Bagus kalau gitu. Rejeki gue berarti bisa dekat sama dia tiap hari.” Jawab Sam kegirangan.

__ADS_1


“Otak Lo Sam, Afa mulu. Sampai kapan sih Lo ngarepin dia? Kayak nggak ada cewek lain aja.” Jawab Eric sedikit kesal.


“Cewek banyak, tapi yang ajaib kelakuannya kayak dia kan jarang.” Jawab Sam ambil menggoyang-goyangkan kursi yang didudukinya.


“Dia kan semalam abis dinner sama Shane. Romantis lagi.” Jawab Eric memanasi Sam.


“Iya gue tau. Gue kecolongan garis start sama Shane. Tapi nggak apa-apa. Habis ini kan dia sama gue terus.” Jawab Sam tersenyum licik.


“kerja yang benar! Jangan pacaran mulu otak Lo.” Jawab Eric yang kemudian beranjak dari kursinya.


“Eh nanti bilangin Cintya suruh nelepon Afa ya. Bilang dia diterima.” Teriak Sam yang melihat Eric pergi meninggalkan ruangannya.


Eric hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju atau iya. Eric dan Shane sudah berteman sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Mereka bersahabat dan sekolah di sekolah menengah Atas juga berkuliah di kampus yang sama. Hanya saja saat kuliah jurusannya berbeda. Setelah lulus, Sam memutuskan untuk membangun bisnisnya sendiri. Dengan bermodalkan pinjaman dari Ayahnya, akhirnya Sam berhasil membangun bengkelnya. Sam merekrut Eric karena selain Sam merasa bahwa mereka sahabat, Sam juga melihat potensi Eric yang tidak bisa dia sia-siakan. Akhirnya mereka berdua membangun usaha ini dari nol.


“Cintya, ada anak yang mau magang. Tolong telepon dia dan bilang dia bisa mulai magang besok. Ini nomor teleponnya. Namanya Afa.” Perintah Eric sambil memperlihatkan layar telepon genggamnya.


“Berkasnya mana Pak Eric? Perlu saya kasih ke Pak Tony nggak?” tanya Cintya yang merupakan bagian Front Office di bengkel Sam.


“Sudah saya kasih langsung ke Ko Sam. Bilang besok Afa suruh nemuin saya langsung di ruangan jam 8 pagi.” Jawab Eric.


Afa baru saja sampai di rumahnya. Dia langsung turun dan memberikan helm yang dia gunakan. Dia bergegas masuk dan menuju kamarnya.


Belum masuk ke dalam kamar, Afa mendapatkan telepon dari nomor yang tidak dikenal lagi.


“Hallo.” Jawab Afa.


“Hallo selamat pagi dengan Mba Afa?” tanya Cintya.


“Iya betul, maaf ini dengan siapa ya?” tanya Afa.


“Saya Cintya dari Auto On mau memberi tahukan bahwa Mba Afa diterima magang disini. Mba bisa bekerja mulai besok. Tapi sebelum bekerja, Mba harus ketemu dulu dengan Bapak Eric di ruangannya besok jam 8 pagi.” Jawab Cintya menjelaskan.


“Baik Mba Cintya terima kasih atas informasinya. Besok saya akan hadir tepat waktu.” Jawab Afa dengan senyum yang mengembang.


Setelah itu dia menutup teleponnya. Afa sangat senang karena tidak perlu mencari tempat untuk magang lagi. Afa pun langsung mengirim pesan kepada Eric.

__ADS_1


“Bang, gue diterima magang ditempatnya Bang Sam sama Bang Eric. Besok gue traktir makan siang ya. Thank you bang.”


“Iya sama-sama. Selamat ya. Wah, asik dong bisa hemat uang makan.” Balas Eric.


Afa hanya membalas dengan emoticon tersenyum. Dia langsung mempersiapkan baju yang akan dia kenakan besok.


Telepon genggam Afa berbunyi kembali menandakan ada telepon masuk. Afa meilihat layar telepon genggamnya. Ternyata itu adalah telepon dari Shane.


“Hallo Kak.” Jawab Afa yang masih menyiapkan baju untuk besok.


“Hallo Fa. Lagi ngapain? Kakak ganggu nggak?” tanya Shane.


“Nggak ganggu ko kak. Kenapa kak?” tanya Afa.


“Ngg nggg nggak apa-apa sih Fa. Afa marah ya sama Kakak?” tanya Shane gugup.


“Nggak kak. Ko kakak bisa mikir gitu?” tanya Afa bingung.


“Soalnya Afa nggak balas pesan kakak semalam.” Jawab Shane yang masih gugup.


“Oh ya ampun. Semalam itu si Artha nelpon, jadi pas udah dibaca belum sempat balas. Pas mau balas aku lihat jam ternyata udah malam banget. Aku takut ganggu kakak tidur. Jadi belum aku balas deh. Tadi pagi mau aku balas eh malah lupa gara-gara sibuk nyari tempat magang. Maaf ya kak.” Jawab Afa menjelaskan secara detail.


“Iya nggak apa-apa Fa. Aku cuma takut kamu marah aja. Afa nyari tempat magang kemana tadi? Katanya mau magang di perusahaan kakak? Ko malah nyari sih?” tanya Shane sedikit kecewa.


“Tadi Afa ketempat kakak. Tapi katanya lagi nggak terima untuk magang. Terus Afa nyoba masukin ke bengkelnya Bang Sam. Akhirnya Afa diterima.” Jawab Afa dengan perasaan sangat senang.


“Afa ke kantor? Ko nggak kasih tahu kakak dulu? Tadi yang bilang nggak terima magang siapa?” tanya Shane yang sedikit marah.


“Tadi tuh Afa kesana ngasih berkas permohonan ke Mba di Front Office terus kata dia nanti dia sampaikan ke HRDnya. Terus abis itu Afa pulang. Pas di rumah ada telepon dari Mba Mega kalau nggak salah. Nah dia kasih tau Afa katanya perusahaannya lagi nggak terima karyawan magang. Gitu kak ceritanya.” Afa menceritakan dengan detail.


“Harusnya Afa telepon kakak dong Fa. Kenapa harus ke HRD segala sih? Kan Afa juga tahu kakak siapa disana?” Jawab Shane sangat kesal.


“Hehe, Afa kan nggak mau ngerepotin kakak. Kalau memang perusahaan kakak lagi nggak terima untuk magang ya nggak apa-apa kak. Kan Afa juga bisa cari ditempat lain.” Jawab Afa santai.


“Ya tapi kan Fa kenapa ke kakak nggak tapi ke Sam malah minta tolong? Memang Afa nggak anggap kakak?” tanya Shane yang benar-benar merasa kecewa.

__ADS_1


“Ko jadi gini sih?” tanya Afa dalam hati.


__ADS_2