Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Last Night


__ADS_3

Sesampainya di Hotel, Afa mengajak Shane makan di kamarnya. Shane dan Afa masuk ke dalam kamar. Shane hendak menelepon karyawannya untuk meminta peralatan makan, namun Afa menghentikannya.


“Aku bawa piring sama sendok sendiri. Tadinya ini jaga-jaga kalau aku kost jadi nggak usah beli perabotan.” Kata Afa yang kemudian mengeluarkan piring di dalam tas nya.


“Sebentar ya. Aku cuci dulu piringnya.” Lanjut Afa yang kemudian berjalan menuju wastafel di dalam kamar mandinya.


Shane memeluk Afa dari belakang saat Afa sedang mencuci piringnya. “Kamu bilang nggak mau sedetik pun tanpa aku. Tapi kamu justru meninggalkanku sendirian di sofa.”


“Manja.” Kata Afa sambil tersenyum dan melihat kekasihnya lewat cermin di hadapannya.


“Apakah dulu Artha juga pernah memelukmu seperti ini? Aku cemburu.” Kata Shane yang masih memeluk Afa dari belakang dan membenampan wajahnya di punggung Afa.


Afa mencuci tangannya lalu mengeringkannya dengan tissue yang ada disampingnya. Afa kemudian membalikkan badannya. Kini matanya berhadapan langsung dengan mata Shane. Afa tersenyum saat kekasihnya masih menunjukan wajah sedihnya. Afa memegang wajah Shane dengan kedua tangannya.


“Nggak pernah. Kamu yang pertama.” Jawab Afa yang menudian melingkarkan tangannya di leher Shane. Afa memeluk Shane dengan sangat erat. Pelukan Shane lebih erat dari Afa.


“Entah kenapa aku selalu takut kalau ini adalah hari terakhir kita.” Kata Shane yang semakin erat memeluk Afa.


“Aku malah selalu menganggap ini hari terakhirku.” Jawab Afa.


Shane melepaskan pelukannya dan menatap wajah Afa sambil bertanya “Ko gitu?”


“Biar aku bisa menghargai setiap detik yang akan kita lewati kedepannya.” Jawab Afa yang kemudian memeluk Shane kembali. Shane membalas pelukannya. Shane merasa semakin takut pergi meninggalkan Afa.


“Udah yuk! Kalau kita pelukan terus, kapan kita mau makan?” Tanya Afa yang kemudian dibarengi Shane yang melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Afa membawa piring yang sudah dia cuci lalu membawanya ke ruang depan. Afa membuka makanan yang tadi sudah mereka beli lalu menyalakan TV. Mereka mulai menyantapnya seusai berdoa sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.


Setelah selesai makan, Afa langsung membawa piringnya kembali ke wastafel dan hendak mencucinya. Namun Shane merebutnya dan dia mengatakan bahwa dia saja yang mencucinya. Afa hanya tersenyum dan melihat kekasihnya mencuci piring.


“Kamu ngantuk nggak Fa? Tidur sana!” Kata Shane yang sudah selesai mencuci piringnya.


“Nggak. Aku kan udah janji nemenin kakak. Kakak, yang harusnya tidur itu kakak karena besok kan harus balik ke Jakarta ngambil mobil, habis itu kakak harus balik ke Bandung.” Jawab Afa yang mulai berjalan keluar kamar mandi.


"Kamu kan udah janji mau nemenin kakak. Tapi ko malah nyuruh aku tidur sih?” Tanya Shane yang terlihat kesal dan dengat wajah yang terlihat sangat lelah.


“Ini sudah hampir tengah malam. Aku Cuma nggak mau kakak kelelahan terus jatuh sakit saat aku nggak ada disamping kakak. Jadi kakak tidur dulu ya. Aku tetap tepati janji aku ko kak. Aku temenin kakak.” Kata Afa yang menarik Shane ke atas kasur.


“Tidur disini! Aku temenin kakak ya sampai kakak bangun besok.” Lanjut Afa yang mendorong badan Shane sampai tertidur di atas kasurnya.


Shane menarik tangan Afa hingga tubuhnya hampir menindih tubuh Shane. Afa menahan dengan tangannya agar tubuhnya tidak terjatuh.


“Kamu tahu bahwa aku adalah laki-laki normal? Aku bisa melakukan apa yang laki-laki normal lakukan saat seorang wanita menyuruh tidur di kamarnya.” Kata Shane dengan jarak wajah yang sangat berdekatan.


“Ya udah kalau gitu cepat tidur! Ngapain Tarik tanganku segala sih?” Tanya Afa dengan sangat tenang.


Shane langsung melepaskan genggamannya dan menahan tawa melihat respon kekasihnya yang terlihat biasa saja. Afa bangkit dari posisinya dan mengambil selimut lalu menyelimuti Shane. “Haruskah aku tidur memakai celana jeans? Memangnya aku nggak boleh ke kamarku dulu dan ngambil piyama?” Tanya Shane yang sudah diselimuti oleh Afa.


Afa menepuk keningnya dan membuka kembali selimut Shane. Dia menarik tangan Shane dan Shane pun terbangun. Afa kemudian mendorong Shane menuju pintu. Afa membuka pintu kamarnya dan Shane didorong keluar.


“Cepat ambil piyamanya.” Kata Afa yang kemudian menutup pintunya. Afa mengganti pakaiannya dengan baju tidur dan tidak lama kemudian ada suara bel berbunyi. Afa membuka pintu kamarnya dan melihat Shane masih berdiri di depan pintu dengan pakaian yang sama.

__ADS_1


“Kenapa belum ganti baju?” Tanya Afa.


“Kartu aksesku didalam. Gimana aku bisa masuk kamar?” Jawab Shane. Afa kemudian melihat disekeliling dan melihat ada kunci mobil, kartu akses dan telepon genggam milik Shane di atas meja di dekat sofa. Afa langsung mengambil semuanya dan memberikannya kepada Shane.


“Nih, Jangan lama-lama!” Kata Afa yang kemudian menutup kembali pintu kamarnya. Seketika lampu dan semua perangkat elektroniknya mati. Afa langsung membuka pintu kamarnya lagi dan melihat Shane akan melangkah ke arah kamarnya.


Shane tersenyum dan menunjukan kartu akses kamar Afa. Afa menahan tawanya dan menutup pintu kamarnya dari luar lalu berlari mengejar Shane yang berlari ke arah kamarnya. Shane membuka pintunya dan masuk ke dalam kamarnya. Afa mengejarnya lalu berebut kartu akses miliknya.


“Ih! Iseng aja kartuku dicabut! Pantas aja langsung mati semua.” Kata Afa yang kesal namun sambil menahan tawanya. Pintu kamar Shane ditutup oleh Afa agar penghuni lain tidak terganggu oleh suara berisiknya.


“Habisnya aku ditinggal-tinggal mulu sih." Jawab Shane sambil tertawa dan tetap menahan kartu akses Afa.


“Ih! Balikin! Nanti kan ketemu lagi. Aku cuma suruh kakak ganti baju kan nggak akan lama.” Kata Afa yang tetap kembali mencoba meraih kartu akses miliknya yang saat ini masih dipegang Shane.


“Temenin.” Kata Shane dengan sangat manja dan memasukkan kartu akses milik Afa ke celana belakangnya.


“Apaan sih kak?” Tanya Afa yang salah tingkah.


“Maksud aku temenin aku ganti baju. Aku juga pakai celana pendek ko. Jadi ini bukan pelanggaran kan? Kan kamu juga sering lihat aku pakai celana pendek. Nggak masalah kan kalau aku ganti baju depan kamu dannnn….”


“Iya udah sana cepat ganti baju! Ini sudah malam tau. Besok bisa bangun kesiangan kalau nggak cepat langsung tidur.” Belum selesai Shane berbicara, Afa sudah memotongnya yang kemudian duduk di pojok kasur kamar Shane.


Shane langsung bergegas mengganti pakaian yang dia gunakan dengan piyama untuk tidur. Setelah selesai menggantung pakaiannya, Shane mendekati Afa. “Sudah selesai.” Kata Shane sambil tersenyum.


“Sekarang makan kartu akses kamar Afa?” Tanya Afa sambil telapak tangannya menghadap ke atas untuk meminta kartu aksesnya.

__ADS_1


__ADS_2