Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Rival


__ADS_3

“Kalau masak jangan cemberut. Nanti masakannya jadi nggak enak.” Goda Sam yang menghampiri dapur.


“Apaan sih? Orang nggak cemberut ini lagi mikirin resepnya apa ya gue lupa.” Kata Afa mengeles.


“Emang mau masak apaan sih?” tanya Sam sambil duduk di kursi dekat dapur.


“Mie tek tek. Gue lagi pengen makan yang pedas.” Jawab Afa sambil mulai mempersiapkan bahan-bahan.


“hmmm, gimana ya? Gue Taunya telur ceplok.” Jawab Sam polos.


“Ih ngeselin.” Jawab Afa sambil tersenyum dan melempar daun sawi yang sedang dia pegang.


Afa pun melanjutkan memasak dengan ingatan yang seadanya. Terlihat Shane juga masih memasak mie instannya. Sam terus memandang Afa yang sedang masak. Sesekali Shane melirik ke arah Sam dan melihat Abangnya yang begitu serius memandang ke arah Afa. Kecemburuan itu semakin lama semakin menjadi.


Setelah selesai memasak mie instan Shane pergi ke meja makan untuk mulai memakan mie. Dari kejauhan Shane masih melihan Sam yang masih saja terus memandang Afa. Saat itu Afa tidak membalas pandangannya karena dia sedang cukup serius memasak makanan.


“Taraaaaa.” Kata Afa menyajikan masakannya kepada Sam.


“Yeay!” kata Sam sambil tepuk tangan dengan sangat gembira.


“Makan ah!” ajak Afa yang kemudian membawa makanannya ke meja makan.


Sam mengikuti Afa dari belakang sambil membawa piring dan sendok. Sesampainya di meja makan Afa menyimpan makanannya. Shane pun beranjak dari tempat duduknya. Sam dan Afa mengambil posisi bersebalahan.


“Lo mau ngapain?” tanya Afa yang melihat Sam langsung mengambil nasi.


“Mau makan lah gue lapar tau.” Jawab Sam sambil mulai mengambil lauk yang dibuat Afa.


“Jangan!” Afa memukul tangan Sam.

__ADS_1


“Aw! Kenapa sih?” kata Sam kesakitan sambil bertanya kepada Afa.


“Masakan gue nggak enak. Nanti Lo sakit perut. Gue pesanan makanannya online aja ya yang buat Lo.” Jawab Afa sambil mengambil telepon genggamnya.


“Apaan sih? Ini enak banget tau.” Jawab Sam yang tanpa Afa sadari sudah mengunyah makanan yang Afa masak.


“Tadi gue mau masakin buat kak Shane juga. Tapi dia ngebentak gue bilang “nggak usah!” jadi gue pikir orang mungkin masakan gue nggak cocok kali ya di lidah kalian.” Bisik Afa sambil sesekali melirik ke arah Shane yang sedang mencuci piring.


“Mana ada nggak enak. Mmmm masakan calon istri gue paling enak pokoknya.” Kata Sam yangs edikit berteriak lalu mulai menyantap makanannya lagi.


Shane yang mendengar ucapan Sam mulai terbakar api. Dia pun langsung mengambil piring dan sendok dari dapur. Shane menghampiri Afa dan Sam yang sedang makan berdua. Sesampainya di meja makan, Shane mengambil tempat duduk disamping kanan kiri Afa. Dia langsung mengambil nasi.


“Ngapain Lo kesini? Lo kan udah makan tadi.” Tanya Sam menatap marah ke arah Shane.


“Mienya kurang banyak tadi. Aku masih laper.” Jawab Shane yang kemudian mengambil lauknya.


“Kak, aku pesenin makanan aja ya kalau masih lapar. Yang ini nggak enak soalnya. Nanti kakak sakit perut.” Kata Afa yang mengambil piring Shane.


“Kalau emang nggak boleh bilang aja! Nggak usah sok mau pesan makanan segala untuk pengalihan!” Omel Shane sambil meninggalkan Afa dan Sam di meja makan.


Afa mulai diam kembali mendengar bentakan Shane lagi. Ini kedua kalinya Shane membentaknya hari ini. Padahal selama dia mengenal Shane, jangankan membentak, marah pun Shane tidak pernah. Melihat mimik wajah Afa yang menjadi sedih, Sam pun langsung menyenggol bahu Afa dengan bahunya.


“Makan! Biarin aja yang nggak doyan nggak usah dipaksa. Mungkin seleranya beda.” Sindir Sam yang sedikit berteriak.


Mendengar hal itu, Shane langsung berbalik badan dan kembali berjalan kearah Afa. Afa yang sedang mulai untuk makan kaget ketika sendok miliknya tiba-tiba diambil oleh Shane. Shane merebut paksa sendoknya dan langsung menyuapkan nasi beserta lauknya kedalam mulutnya. Afa yang melihat kejadian itu tercengang kaget. Setelah Shane menyuapkan makanan kedalam mulutnya, dia langsung berbalik badan kembali dan meninggalkan Sam dan Afa. Afa sungguh tidak mengerti dengan apa yang Shane pikirkan.


“Ah, kenyang.” Ucapan Sam memecahkan lamunan Afa.


Sekarang Afa tercengang untuk yang kedua kalinya karena melihat lauk yang dia masak sudah habis tidak tersisa sedikitpun.

__ADS_1


"Bang? Lo tau nggak kalau gue lapar?" tanya Afa sambil melihat ke arah piring yang sudah kosong.


"Makanan enak itu harus cepat dinikmati. Kalau nggak yan anti keburu habis dimakan kucing.” Jawab Shane sambil memegang gelas minumnya.


“Iya! Kucingnya Lo. Aaaahhhhh gue lapar.” Teriak Afa yang belum makan sedikitpun masakah yang dia masak.


Sam hanya tertawa melihat orang yang disukainya menangis seperti anak kecil. Mendengar hal itu, Shane langsung bergegas ke kamarnya untuk ganti baju dan mengambil kunci mobil. Masih dengan tawa bahagia, Sam benar-benar membuat Afa kesal kali ini. Afa menangis karena kesal terhadap Sam. Saking kesalnya dia tidak tahu lagi harus ngomong apa.


Tidak lama kemudian Shane turun dari lantai atas dengan pakaian yang sudah rapi. Shane menghampiri Afa yang masih menangis karena ditertawakan oleh Sam. Shane menarik paksa tangan Afa dan menyeretnya keluar rumah. Afa kaget melihat kejadian tersebut. Sam yang sedang tertawa buru-buru bangkit dari duduknya dan menarik tangan Afa.


“Lepasin!” Jawab Sam.


“Kamu yang lepasin! Akukan narik tangan dia duluan!” pinta Shane yang masih memegang pergelangan tangan Afa.


“Lo kayak gitu nyakitin Afa tau!” Jawab Sam sambil menarik lagi tangan Afa.


“Kamu juga nyakitin dia tau!” jawab Shane yang kembali menarik tangan Afa.


“Dipikir gue tambang apa?” Tanya Afa mencoba melepaskan diri.


“Kalau kalian ada masalah, beresin dulu aja. Tapi ingat jangan main kekerasan lagi! Gue pulang dulu! Mau nyari makan lapar.” Kata Afa sambil mengambil tas miliknya.


“Ayo kita makan diluar.” Kata Sam dan Shane berbarengan sambil mata masih menatap satu sama lain.


Afa melihat kearah mereka berdua. Afa mengerti tentu keduanya perlu waktu untuk berdua.


“Cieee, ngajakin makan aja sampai pada tegang gitu. Ya udah, kalian makan dulu gih diluar. Gue pulang ya.” Kata Afa yang menyangka mereka berdua saling mengajak makan satu sama lain karena keduanya masih saling bertatapan.


“Bukan Lo, tapi Afa.” Jawab keduanya berbarengan lagi.

__ADS_1


Afa yang sudah melangkahkan kaki menuju pintu seketika menjadi kaget. Sejenak Afa terdiam memproses informasi yang sudah dia tangkap. Ternyata mereka bukan saling mengajak makan diluar, tapi mereka berdua ingin mengajak Afa untuk makan diluar. Mungkin tatapan yang barusan Afa lihat adalah tatapan persaingan, bukan tatapan persaudaraan.


__ADS_2