
“Hi Mel. Mohon maaf banget ngerepotin lo untuk yang kesekian kalinya. Ini akun sosial media gue untuk sementara waktu. Kalau lo nggak keberatan, tolong kasih kabar ke gue ya kalau ada info kampus. Soalnya nomer gue nggak akan bisa dihubungi untuk sementara waktu.”
Afa menyadari bahwa memutuskan alat komunikasi bukanlah hal yang baik untuk menyelesaikan masalah yang ada. Hanya saja terkadang untuk sejenak di butuh ruang. Dari permasalahan yang tidak menemukan jalan keluar, dari perdebatan yang selalu menemui titik buntu dan dari hubungan yang belum jelas.
Menjadi wanita bukanlah hal yang mudah. Mau menjaga jarak dibilang sok alim, kalau terlalu open dibilang nggak punya harga diri. Sama seperti saat ini.
Dahulu jauh sebelum Sam mengatakan dia menyukai Afa, semua masih baik-baik saja. Mereka makan siang bertiga atau sesekali malah hanya berdua. Misalnya hanya Afa dan Sam atau hanya Afa dan Shane. Itu bukanlah masalah bagi mereka. Seperti layaknya teman tanpa rasa yang lebih. Mereka tertawa bersama dan bahkan bersantai dengan duduk saling berdampingan.
Rasa cinta terkadang memberi jarak. Yang dekat malah menjauh dan yang jauh malah mendekat. Memang mungkin jarak juga menumbuhkan cinta yang baru. Seperti Artha yang menemukan Deby atau seperti Shane menemukan Afa.
Siapa sangka dia menyukai Afa? Setelah bertahun-tahun lamanya menjadi sahabat. Sekarang cintanya malah terjerat.
Afa pernah merespon dengan sebuah penolakan, tapi Sam tetap menunggunya. Disaat Afa sudah bukan milik siapa-siapa, Sam malah membelenggu kebabasan Afa dengan kalimat “Siang sama abangnya, malam sama adiknya” seolah sedang menghinanya.
Maka dari itu, Afa putuskan untuk memberi jarak agar mereka sama-sama mengerti tentang arti kebersamaan ini. Tidak hanya Sam, tapi Shane juga. Biar jarak yang menyadarkan hati mereka masing-masing agar tahu di Pelabuhan yang mana mereka harus singgah untuk menetap.
Pagi itu Afa pergi ke bengkel dengan menggunakan ojeg online. Ketika dia keluar dari gang rumahnya, dia melihat dengan ekor matanya ada mobil Sam yang sedang terpakir. Tapi Afa tidak mempedulikannya dengan tidak melihat ke arahnya secara terang-terangan.
Terdengar suara klakson mobil yang menyerbu telinga Afa. Tapi dia masih tidak mempedulikannya.
“Jalan aja Pak yang cepat. Nggak usah pedulikan mobil dibelakang.” Kata Afa kepada pengemudi ojeg itu.
Sam memang tidak menyalip motor yang sedang ditumpangi Afa. Namun suara klakson memang sangat berisik dan sangat mengganggu pengguna jalan yang lainnya. Hingga akhirnya Afa sampai di bengkel Sam dan memberikan helm yang dia kenakan kepada pengemudi ojeg tersebut.
“Terima kasih pak.” Kata Afa yang kemudian berjalan menuju Pos Satpam.
Sam memarkirkan mobilnya terlebih dahulu dan berjalan cepat menuju ke arah Afa.
__ADS_1
“Ikut gue!” kata Sam sambil menarik lengan Afa dengan sangat kencang. Afa mencoba melepaskan namun tenaga Sam memang sangat kuat.
“Sam!” Panggil Eric yang berlari mendekati mereka berdua. Eric tentu paham situasi seperti ini.
“Permisi Pak.” Kata Afa yang menundukan kepala kemudian hendak meninggalkan Sam dan Eric.
“Mau kemana lo? Ikut gue sekarang!” Kata Sam yang menangkap tangan Afa kembali.
“Ada apaan sih? Nggak enak kalau karyawan lain lihat.” Kata Eric sedikit berbisik.
“Belum pada datang kan? Ayo ikut ke ruangan gue sekarang!” Kata Sam yang langsung menarik paksa tangan Afa.
“Baik-baik Sam! Bukan gitu caranya!.” Kata Eric yang mendorong Sam agar melepaskan genggamannya.
“Lo nggak usah ikut campur!” Kata Sam yang emosinya semakin memuncak.
“Gue nggak bisa nggak ikut campur kalau sikap lo kayak gini sama cewek!” teriak Eric yang juga terpancing emosi.
“Sam!” Teriak Eric. Sam tidak mempedulikannya dan terus berjalan kea rah ruangannya.
“Ikut gue ya Fa, ke ruangan.” Pinta Eric. Afa hanya mengangguk dan mengikuti Eric.
Sesampainya di ruangan Eric, Eric bertanya mengenai permasalahan Afa dan Sam. Afa tidak menjawabnya karena dia tidak ingin membahas masalah pribadi di kantor. Eric beberapa kali menanyakan perihal keputusan Sam dan Sam tetap pada pendiriannya untuk memberhentikan Afa sebagai karyawan magang.
“Nggak apa-apa bang kalau mau pecat gue. Tapi gue minta jangan buat laporan yang nggak-nggak ke kampus ya. Nanti gue bisa nyari tempat magang yang baru ko.” Kata Afa kepada Eric.
“Fa, maaf ya. Soalnya power gue nggak sekuat Sam disini.” Kata Eric yang merasa tidak enak.
__ADS_1
“Nggak apa-apa bang. Kalau begitu gue permisi ya. Gue mau nyari tempat magang lagi.” Kata Afa yang kemudian pamit dan meninggalkan ruangan Eric.
Ada rasa sedih yang mendorong air matanya keluar. Namun ada kekuatan untuk tegar yang menahan air matanya jatuh. Ada rasa kecewa yang menggebu di dadanya. Ada rasa marah yang ingin dia curahkan. Namun dia memang bukan siapa-siapa dan tidak bisa apa-apa untuk saat ini.
Afa memesan ojeg online untuk pulang ke rumahnya lagi. Selama dalam perjalanan dia menatap jalanan dengan pandangan kosong. Dia bingung harus mencari tempat untuk magang kemana lagi. sedangkan proses penerimaan biasanya membutuhkan waktu setidaknya paling cepat biasanya adalah satu minggu.
Sesampainya di depan rumah Afa langsung masuk ke dalam rumahnya. Dia disambut oleh Ibunya yang kebetulan sedang masak di dapur kala itu.
“Eh, kamu Fa. Kirain siapa pagi-pagi buka pintu. Ko sudah pulang?” tanya Ibunya.
“Afa mau cari tempat magang baru Bu. Soalnya di perusahaan yang ini ternyata nggak menemukan masalah yang bisa dikaji.” Jawab Afa sambil membuka sepatu dan kaos kaki.
“Oh gitu. Untung kamu baru sehari ya disana. Jadi bisa cepat-cepat cari yang baru. Ya sudah, Ibu balik ke dapur dulu. Tanggung lagi masak.” Jawab Ibunya yang kemudian pergi kembali ke dapur.
Afa langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia hendak mempersiapkan berkas untuk mencari tempat magang kembali. Dia masih berfikir untuk mencari tempat magang dimana.
“Oke Fa.” Balasan pesan dari Imel muncul di layar telepon genggam milik Afa.
“Mel, punya rekomendasi tempat untuk magang nggak? Soalnya di tempat gue sebelumnya ternyata nggak ada yang bisa gue kaji.” Afa langsung membalas pesan Imel kembali.
“Di tempat gue saja mau nggak? Nanti gue bilang Bapak gue. Ini memang masih kecil, tapi siapa tahu lo bisa nemu sesuatu. Cuma masalahnya, gue diluar kota. Si faris juga baru masukin Senin kemarin tuh.” Balas Imel.
“Boleh deh Mel. Nanti kirimkan alamat dan nama perusahaannya ya!” Balas Afa yang merasa sangat senang karena ada peluang baru.
“Serius lo mau kesini? Jauh tau! Kalau gue sih kan sekalian mudik.” Jawab Imel.
“Serius lah. Nggak apa-apa kalau demi kuliah. Nanti gue bisa kost kan disana.” Balas Afa kembali.
__ADS_1
“Ya ampun nggak usah kost segala. Nginep aja di rumah gue. Nanti sekamar sama gue. Itung-itung healing toh? Lo nanti kirim berkas via email saja. Biar lo nggak usah jauh-jauh kesini dulu. Kalau memang nanti bisa masuk kesini, baru lo datang. Jadi nggak buang-buang waktu dan ongkos.” Balas Imel kembali.
“Wah, terima kasih banyak ya Mel. Lo sungguh berjasa buat gue.” Balas Afa dengan sangat antusias.