
Keesokan harinya setelah Afa mengirimkan berkas permohonan magang, Afa mendapatkan telepon dari perusahaan tersebut yang menyatakan Afa sudah bisa bekerja mulai hari Senin minggu depan. Afa sangat gembira akhirnya dia tidak perlu mencari tempat yang baru lagi.
“Imel! Thank you. Berkat lo gue jadi bisa dapat tempat magang nih.” Afa mengirimkan pesan kepada Imel.
“Wah, syukur kalau gitu. Bukan berkat gue ko. Memang kebetulan disini lagi butuh aja soalnya ada yang lagi cuti juga, jadi bisa sedikit bantu-bantu. Faris juga keterima loh disini. Dia hari Senin mulai kerja. Lo kapan?” Balas Imel dengan sangat antusias.
“Sama Mel. Senin minggu depan.” Balas Afa.
“Ya udah kalian bareng saja kesininya! Si Faris katanya mau pakai motor tuh.” Balas Imel.
“Nggak ah, nanti gue cape malah sakit terus nggak bisa masuk kerja. Gue mau pakai kereta aja. Kira-kira kalau hari ini atau besok gue kesananya ngerepotin lo nggak Mel? Memang masih lama menuju Senin, Cuma gue udah nggak sabar mau kesana.” Balas Afa yang sangat antusias ingin cepat pergi.
“Boleh. Kesini aja! Pintu rumah gue selalu terbuka untuk lo.” Balas Imel dengan sangat senang.
“Thank you so much Imelku.” Balas Afa dengan sangat senang
Setelah berbalas pesan dengan Imel, Afa langsung mendatangi Ibunya yang sedang berada di depan rumah.
“Bu, Afa diterima magang tapi di Yogyakarta Bu.” Kata Afa memberi kabar ke Ibunya.
“Terus kamu nanti kost disana dong?” Tanya Ibunya kaget.
“Nggak, rencana mau numpang di rumah Imel Bu. Tadinya memang mau kost, tapi kata Imel katanya nggak usah kost, di rumahnya aja katanya.” Jawab Afa.
“Kamu ini merepotkan orang lain saja.” Jawab Ibunya yang sedikit keberatan kalau Afa harus numpang di rumah Imel.
“Ya habis gimana lagi bu? Tapi memang betul kan bu, kalau nginep di rumah Imel lumayan biaya kostnya bisa dikasih ke Ibunya Imel kan bu, lumayan.” Jawab Afa.
__ADS_1
“Terserah kamu saja. Ngomong baik-baik sama orang tuanya. Jangan ngerepotin terus. Kalau lapar kamu masak sendiri. Jangan melulu minta dimasakin. Memang kamu rencana pergi kapan?” Kata Ibunya sambil mengingatkan Afa.
“Siap Bu. Afa pergi nanti sore pakai kereta.” Jawab Afa yang sebenarnya belum pesan tiket sama sekali.
“Ya sudah kamu siap-siap sana.” Kata Ibunya yang menyuruh Afa mempersiapkan semuanya.
“Iya Bu.” Jawab Afa yang kemudian kembali ke kamarnya.
Afa mengecek tiket keberangkatan pada sebuah aplikasi di telepon genggam miliknya. Ternyata memang ada keberangkatan sore menuju Yogyakarta. Afa langsung memesan tiket keretanya dan langsung mengabari Imel bahwa dia akan berangkat nanti sore.
“Serius Fa? Wah nggak sabar ketemu lagi kita.” Balas Imel yang mengetahui Afa akan berangkat sore ini.
“Iya Mel. Maaf ya kalau merepotkan terus.” Balas Afa.
“Nggak lah. Barusan gue ngabarin Faris kalau lo berangkat hari ini pakai kereta. Katanya dia mau bareng. Menurut lo gimana? Soalnya dia nanyain nomer lo nggak aktif. Jadi gue bilang mungkin habis daya.” Balas Imel menyampaikan pesan Faris.
Setelah itu Afa melanjutkan untuk bersiap-siap. Dia membawa beberapa pakaian tidur dan pakaian untuk kerja. Tak lupa memasukan peralatan mandi dan juga laptop untuk mengerjakan laporan selama diluar kota.
Sambil menunggu waktu, Afa merebahkan badannya di atas kasur yang sebentar lagi akan dia tinggalkan. Dia memeluk guling sambil pikirannya mulai mengawang. Dia kembali teringat tentang masalahnya dengan Sam.
Andai tidak ada kejadian itu mungkin saat ini dia masih magang di bengkel milik Sam. Mungkin kemarin juga dia tidak akan melewatkan makan siang dengan Shane. Afa sedikit merasa bersalah karena meninggalkan Shane tanpa memberi kabar sedikitpun. Namun jika dia hanya meninggalkan salah satunya, pasti itu terkesan tidak adil. Alhasil Afa memutuskan untuk menjaga jarak dengan keduanya.
Tidak terasa hari sudah menjelang sore. Dia berpamitan kepada Ibunya untuk pergi. Setelah itu dia memesan ojeg online untuk menuju stasiun kereta api.
Pengemudi ojeg menurunkan Afa di depan gerbang stasiun kereta api karena ojeg online dilarang masuk ke dalam. Setelah memberikan helm kepada pengemudi tersebut, Afa langsung melangkahkan kakinya masuk menuju stasiun.
“Afa!” teriak seseorang yang suaranya tidak asing di telinga Afa.
__ADS_1
“Kakak?” Tanya Afa yang kaget karena Shane kini ada dihadapannya.
“Mau kemana?” Tanya Shane yang terengah karena mengejar Afa.
“Mau pergi kak.” Jawab Afa sedikit gugup.
“Kenapa tiba-tiba menghilang? Aku bingung cari kamu kemana. Semua akun kamu kenapa hilang?” Tanya Shane dengan wajah yang terlihat lelah.
“Kak, keretaku sudah mau pergi. Kita bahas nanti ya.” Jawab Afa yang kemudian membalikan badannya dan hendak melangkahkan kaki menuju mesin untuk mencetak tiket.
“Jangan pergi dulu! Tunggu!” Shane menahan tangan Afa agar Afa tidak pergi dulu. Afa melihat wajah Shane yang kini terlihat sedih.
“Tolong kasih tahu dulu salah aku apa sampai kamu menghindar seperti ini.” Lanjut Shane dengan wajah memelas.
“Kakak nggak salah apa-apa, tapi aku harus cepat-cepat masuk kak.” Jawab Afa mencoba menghindari Shane.
Shane melepaskan tangan Afa dan langsung mengambil telepon genggam milik Afa. Dia mengaktifkan Bluetooth dan mengirimkan sebuah file dari telepon genggam miliknya. Setelah itu Shane mengembalikan telepon genggam milik Afa.
“Hati-hati di jalan ya Fa.” Kata Shane yang tersenyum lalu kemudian berbalik dan meninggalkan Afa. Dibenak Shane masih banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Namun melihat Afa yang selalu menghindarinya, Shane mengerti bahwa Afa tidak ingin diganggu olehnya.
Afa memperhatikan Shane yang berjalan menuju mobilnya. Mobilnya tidak jauh terpakir dari pintu masuk stasiun. Lalu Afa langsung pergi ke mesin pencetakan tiket. Keretanya baru akan berangkat sekitar 45 menit lagi. Memang benar tadi Afa hanya ingin menghindari Shane makanya dia beralasan keretanya akan segera pergi.
Afa melihat kembali telepon genggam milikinya. Dia hendak memberi kabar kepada Imel, namun perhatiannya tertuju pada pemberitahuan yang belum terhapus di layar telepon genggam miliknya. Yaitu pengiriman 1 file berhasil. Afa lalu membukanya.
Ternyata itu adalah sebuah lagu. Afa langsung mendengarkan lagu tersebut untuk beberapa detik. Setelah mendengarkan lagu tersebut, Afa langsung bergegas keluar dari dalam stasiun dan melihat mobil Shane yang mulai berjalan meninggalkan parkiran.
“Kakak!” Teriak Afa ketika dia hanya beberapa meter dari mobil Shane.
__ADS_1
“Kak!” Teriak Afa kembali mengetuk pintu mobil Shane yang masih melaju.