
Afa melihat kesana-kesini untuk mencari sumber suara itu. Akhirnya dia menemukan seseorang yang melambaikan tangannya. Afa mendekatinya dan ternyata itu Shane.
“Wah, aku kira pakai mobil. Pantesan aku cari-cari dari tadi nggak ada.” Kata Afa yang terkesima melihat Shane memakai motor sportnya.
“Afa mau kita jalan pakai mobil? Aku ganti dulu ke rumah.” Kata Shane merasa tidak enak.
“Nggak, aku cuma bingung tadi nyarinya taunya kakak pakai motor. Udah nggak apa-apa, pakai motor aja.Lebih enak malah nggak macet kak. Nggak masalah kali kak kita mau pakai apa juga.” Jawab Afa sambil tersenyum.
Shane memberikan helm ke Afa dan Afa pun memakainya. Afa kemudian naik ke motor Shane. Setelah itu Shane pun melajukan motornya.
“Kita mau kemana kak?” tanya Afa sedikit membungkukkan badannya.
“Mau ke suatu tempat yang indah.” Jawan Shane sedikit berteriak.
“Kakak!” Panggil Afa.
“Kita mau kesuatu tempat yang indah Fa.” Kata Shane mengulang jawabannya.
“Bukan! Aku manggil kakak. Yang tadi itu aku udah dengar ko.” Kata Afa.
“Oh, iya kenapa Fa?” tanya Shane.
“Kakak tingkat kegantengannya nambah 100% hari ini.” Kata Afa yang memuji Shane.
“Apa Fa?” Tanya Shane pura-pura tidak mendengar.
“Kakak jalan yang benar nanti takut nabrak.” Kata Afa mengalihkan pembicaraan.
“Iya Fa, ini kakak juga benar dan hati-hati.” Kata Shane yang sebenarnya wajahnya sudah memerah.
Shane melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Setelah 1 jam berlalu akhirnya dia sampai di suatu tempat yang indah. Setelah memarkirkan motornya, Afa dan Shane masuk ke dalam restoran itu.
Di tempat itu bisa melihat kelap kelip lampu kota. Sama seperti hari kemarin Shane dan Sam dinner. Hanya saja saat ini ditempat itu benar-benar sepi. Tidak ada satu orang pun selain staff restaurant dan mereka berdua. Mereka duduk di meja paling ujung yang bisa melihat jelas pemandangan seisi kota.
__ADS_1
“Kak, ini tempatnya enak sih kak. Tapi ko sepi gini ya kak?” tanya Afa penasaran.
“Afa takut?” tanya Shane.
“Sedikit kak. Masa resto sebesar dan secantik ini nggak ada yang datang sih kak? Apa nggak sebaiknya kita pindah aja kak?” tanya Afa yang sedikit merinding.
“Kakak suka tempat ini. Kita disini aja ya.” Kata Shane menenangkan Afa.
Afa hanya mengangguk karena tidak bisa melakukan apapun. Tidak lama kemudian para pelayan resto datang dan membawakan kue ulang tahun. Disaat Afa sedang terpaku ke kue ulang tahun, tiba-tiba dari arah belakangnya ada kembang api yang indah di langit. Kemudian ada alunan lagu Happy Birthdays terdengar dari kejauhan yang perlahan semakin mendekat.
“Selamat ulang tahun Fa. Maaf baru sekarang.” Kata Shane sambil memberikan seikat bunga dan kotan kado.
Ini bukan pertama kalinya Afa mendapatkan sebuah kejutan. Dihari ulang tahunnya pun Shane dan keluarganya juga teman-temannya memberikan kejutan ulang tahun saat pagi hari. Tapi ini adalah pertama kalinya Afa mendapatkan kejutan hanya dari 1 orang saja dan lagi ditempat yang begitu romantis. Afa ingin menangis tapi menahannya karena malu dengan pelayan resto yang sedari tadi berdiri. Ada juga yang melihat dari kejauhan.
“Tiup dulu lilinnya dong.” Suruh Shane kepada Afa.
Afa pun meniup lilinnya langsung tanpa berdoa atau membuat permohonan apapun. Pelayan resto itu pun langsung menyimpan kue ulang tahunnya di meja dan meninggalkan mereka berdua.
“Untuk apa membuat permintaan kalau permintaanku sudah ada disini.” Kata Afa yang akhirnya tidak dapat menahan air matanya.
Shane langsung memeluknya dan Afa pun membalasnya. Tangisannya menjadi bertambah kencang. Ada rasa sedih saat itu, karena ditahun sebelumnya biasanya Artha dan Mamanya lah yang membuat banyak kejutan. Tapi ada rasa bahagia karena masih ada orang yang peduli terhadapnya dimasa tersulitnya seperti sekarang.
“Fa.” Lirih Shane.
“Kakak jahat! Aku pake baju kayak gini, sedangkan kakak rapi gini. Pantes aja tadi aku perhatikan kakak lebih tampan 100% dari biasanya.” Kata Afa yang masih menangis.
“Kamu ini ada-ada aja. Aku kayak biasanya ko.” Jawab Shane yang masih pura-pura tidak tahu apa-apa.
“Mau buka kado dulu atau mau makan malam dulu Fa?” tanya Shane yang masih melihat Afa menghapus air matanya.
“Mau buka kado dulu.” Jawab Afa manja.
Akhirnya Afa pun membuka kadonya perlahan. Awalnya Afa merasa heran kenapa setelah dibuka ada kotak perhiasan kecil. Afa pikir mungkin hanya boxnya saja. Tapi setelah dibuka itu berisi kalung dengan liontin huruf A.
__ADS_1
“Ah!” Afa pun menutup kotaknya dan menyimpannya di atas meja. Dia meneteskan air mata lagi.
“Itu bohongan ya?” tanya Afa sambil masih mengusap air matanya.
“Bohongan gimana?” tanya Shane bingung.
“Itu bohongan kan bukan buat aku?” tanya Afa meyakinkan.
“itu buat Afa. Kalau bukan buat Afa kenapa dikasih ke Afa?” kata Shane meyakinkan.
Air mata Afa mengalir lebih deras. Shane pun berdiri mendekati Afa. Dia mengambil kotak perhiasannya dan mengambil kalung di dalamnya. Shane memakaikan kalung itu di leher Afa.
“Tolong selalu ingat bahwa aku akan selalu ada bersamamu. Jangan sampai melakukan hal konyol yang dapat membahayakan dirimu sendiri ya Fa.” Kata Shane setelah memakaikan kalungnya.
Afa berbalik dan memeluk Shane. Dia tidak mengucapkan satu kata pun. Hanya tangisan dan suara ingus yang terdengar.
“Sudah jangan sedih terus. Malu atuh diliat yang lain.” Kata Shane menggunakan logat Sundanya.
Afa sedikit tertawa mendengar Shane. Shane memang tidak pernah menggunakan logat Bahasa daerah walaupun Maminya sangat kental dengan logat Jawa.
“Nah gitu dong ketawa jangan sedih terus kayak gitu.” Kata Shane sambil mengelus punggung Afa.
“Ini bukan sedih tau. Ini tangisan bahagia. Nggak peka nih kakak.” Kata Afa yang masih berusaha menghapus air matanya.
Air matanya masih mengalir deras. Entah kenapa seperti tidak ada habisnya. Sama seperti kebahagiaan dia malam ini yang tiada habisnya.
Dalam hatinya, Afa masih saja mengucap syukur atas kebahagiaan dia hari ini. Jika saat itu Shane dan Sam tidak menyelamatnya, mungkin Afa sudah jadi setan gentayangan yang mati penasaran. Mungkin Afa juga tidak akan merasakan kebahagiaan yang saat ini sedang dia rasakan.
“Fa? Sampai kapan mau nangisnya?” tanya Shane yang masih melihat Afa menghapus air matanya.
“Nggak tahu nih kak. Air matanya keluar terus. Apa mungkin bendungannya bocor ya kak? Aku harus ke dokter mata deh kak kayaknya.” Kata Afa sambil menundukkan wajah karena malu melihat Shane.
Shane tahu bahwa Afa bukanlah wanita yang mudah menangis. Jika dia menangis pasti ada 2 hal terjadi di hidupnya. Yang pertama dia sangat sedih atau yang kedua dia sangat bahagia.
__ADS_1