Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Queen


__ADS_3

Afa kembali dari toilet dan langsung duduk di tempatnya. Imel dan Faris tidak berbicara apapun dihadapa Afa. Setelah waktu makan siang hampir habis, Afa menyempatkan untuk menelepon Shane terlebih dahulu di luar kantor.


Shane : Hallo Sayang.


Afa : Hallo Kak. Sudah sampai mana?


Shane : Aku sudah di rumah. Baru selesai mandi habis ini mau ke kantor. Kamu sudah makan siang?


Afa : Sudah. Tadi aku makan bareng Imel. Terima kasih ya. Kakak makan siang dulu dong sebelum kerja.


Shane : Iya sayang, sama-sama. Iya habis ini aku makan siang dulu ya.


Afa : Ya sudah kalau gitu, hati-hati di jalan ya. Aku mulai kerja lagi. Dah kakak.


Shane : Dah sayang. I love you.


Afa : I love you too.


Setelah itu Afa kembali ke ruangannya dan mengerjakan tugas-tugasnya. Hingga tidak terasa jam kerja pun berakhir. Afa membereskan semua barangnya dan dia keluar ruangan bersama Faris dan Imel.


“Balik sama siapa Fa?” Tanya Imel kepada Afa.


“Mau pesan ojeg.” Jawab Afa.


“Sama aku saja mau nggak? Kebetulan aku juga lagi nggak buru-buru.” Tawar Faris kepada Afa.


“Nggak usah deh Ris. Nanti malah ngerepotin lagi.” Jawab Afa yang merasa tidak enak.


“Nggak apa-apa Fa. Kamu tinggal di hotel Star kan? Kebetulan Kostan ku searah sama tempat kamu.” Jawab Faris yang tetap menawarkan tumpangan kepada Afa.


“Bareng aja sana! Lumayan hemat ongkos Fa.” Kata Imel yang menyuruh Afa menumpang kepada Faris.


Tiba-tiba telepon genggam milik Afa bergetar. Afa melihat layar telepon genggam miliknya. Terlihat ada nama Shane tertulis jelas disana. Afa meminta ijin kepada Imel dan Faris untuk menjawab telepon tersebut. Afa sedikit menjauh dari mereka berdua sebelum menjawab panggilan dari Shane.


Afa : Hallo.


Shane : Selamat sore sayang. Sudah pulang kerja? Kamu pakai apa pulangnya?


Afa : Sore kak. Aku mau pesan ojeg online kak. Tapi temanku Faris ngajak pulang bareng. Katanya kostannya searah sama hotel kak. Menurut kakak gimana?


Shane : Faris?


Afa : Yang waktu itu berangkat kesini bareng aku kak. Kakak lihat dia di stasiun.


Shane : Oh dia. Kalau kamu pakai ojeg saja gimana?

__ADS_1


Afa : Oke kalau gitu kak. Aku juga udah mau pesan ko. Cuma tadi dia memang nawarin sampai 2 kali. Jadi aku tanya kakak dulu kira-kira boleh nggak kalau aku bareng dia? Tapi karena kesayanganku ini bilang pakai ojeg saja, ya sudah, aku jadi semakin yakin untuk menolak tumpangannya.


Shane : Sayang, kamu nggak nanya kenapa aku suruh pakai ojeg?


Afa : Nggak.


Shane : Kenapa?


Afa : Soalnya alasannya pasti kakak cemburu.


Shane : Siapa bilang?


Afa : Aku yang bilang barusan memang kakak nggak dengar?


Shane : Ih kamu ini. Ya sudah pulangnya hati-hati ya. Nanti kabari aku kalau kamu sudah sampai hotel.


Afa : Siap kak. Kakak pulangnya hati-hati ya. Dah kakak.


Shane : Dah sayang.


Setelah itu Afa kembali mendekati Imel dan Faris. Terlihat Faris yang masih menunggu jawaban dari Afa.


“Ris, duluan aja deh. Soalnya aku mau main dulu ke rumah Imel.” Kata Afa.


“Lo ma uke rumah gue?” Tanya Imel.


“Nggak, gue Cuma nggak enak sama Faris kalau nolak terus.” Jawab Afa sambil memesan ojeg online.


“Lagian kenapa ditolak?” Tanya Imel kembali.


“Orang gue maunya pakai ojeg.” Jawab Afa meledek.


“Cowok lo posesif ya?” Tanya Imel penasaran.


“Nggak. Sok tau ah. Duluan ya Mel.” Kata Afa yang kemudian meninggalkan Imel karena pengemudi ojeg sudah datang.


Afa diantarkan oleh ojeg online menuju hotel. Sesampainya di hotel, Afa langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia menempelkan kartu aksesnya. Suasana hening menyeruak. Ada rasa sedih dihatinya. Baru adi pagi Shane masih ada di kamar itu bersamanya. Sekarang Shane sudah kembali.


Ada rasa penyesalan kenapa dia harus magang di kota yang jauh. Jika tahu dia dan Shane akan seperti ini, Afa tentu tidak ingin jauh-jauh dari Shane. Afa membuka baju kerjanya dan langsung berendam di bathtub. Sambil mendengarkan lagu-lagu dan memejamkan mata, Afa seolah mengingat kebersamaannya dengan Shane secara nyata.


Suara dering panggilan masuk memecahkan lamunan Afa. Sam kembali menelepon Afa namun Afa masih enggan untuk menjawab panggilan masuk dari Sam. Tidak berselang lama, ada panggilan masuk kembali. Kali ini dari Shane yang melakukan panggilan video.


Shane : Hallo


Afa : Hallo kak. Sudah di rumah?

__ADS_1


Shane : Sudah. Kamu lagi apa sayang? Ko cuma keningnya yang kelihatan?


Afa : Aku lagi berendam kak.


Shane : Ya ampun sayang. Ya udah matikan dulu saja nanti aku telepon lagi.


Afa : Nggak usah kak. Tunggu sebentar. Kameranya aku matikan dulu ya. Aku mau pakai baju dulu sebentar.


Shane : Oke kalau gitu.


Afa langsung mematikan kamera di telepon genggam miliknya. Dia bergegas mengeringkan badannya dengan handuk lalu langsung memakai pakaiannya. Tidak sampai 5 menit Afa langsung mengambil telepon genggamnya kembali dan menyalakan kameranya lagi. Kini Afa memperlihatkan wajahnya secara utuh tanpa ada yang dia tutupi karena dia sudah mengenakan pakaian yang lengkap.


Afa : Kak!


Shane : Hai sayang. Sudah selesai?


Afa : Sudah kak.


Shane : Kamu ini, kalau memang lagi mandi atau lagi melakukan kegiatan lain ya nggak usah dijawab dulu juga nggak apa-apa. Aku kan jadi malu kayak lagi ngintipin anak gadis.


Afa : Kakak ini ada-ada aja. Kameranya juga aku matikan kak.


Shane : Iya iya. Gimana kerjanya hari ini?


Afa : nggak gimana-gimana. Disini ramah-ramah. Beda kayak waktu aku di bengkel. Seniorku agak galak.


Shane : Syukurlah kalau gitu. Fa, besok kamu pergi sama pulangnya diantar supir hotel ya. Nanti kakak bilang sama manager disana.


Afa : Apaan sih kak? Aku kan bisa pakai ojeg.


Shane : Nggak apa-apa Fa, jadi kamu nggak perlu nolak ajakan anak itu terus.


Afa : Faris?


Shane : Iya.


Afa : Nggak apa-apa kak. Aku bisa nolak 1.000 kali ko demi menjaga perasaan pacarku ini.


Shane : Sayang, aku jadi meleleh.


Afa : Kakak lebay.


Setelah itu Afa dan Shane terus melakukan panggilan cukup lama. Hampir 2 jam sampai akhirnya mereka mengakhiri pembicaraan mereka karena harus segera makan malam. Shane juga sudah meminta staffnya untuk mengantarkan makan malam ke kamar Afa. Jadi Afa tidak perlu repot-repot mencari makan keluar dari hotel.


Afa merasa diperlakukan seperti ratu saat ini. Bagaimana tidak? Shane hampir memperhatikan semua hal yang Afa butuhkan selama berada jauh darinya. Mulai dari tempat tinggal, makan, sampai kendaraan untuk Afa sehari-hari. Afa benar-benar beruntung.

__ADS_1


__ADS_2