
“Sebenarnya gue nggak peduli lo akan berakhir dengan gue atau Shane. Yang terpenting bagi gue adalah lo bahagia . Tapi yang paling gue takutkan adalah ketika bukan salah satu dari kita yang lo pilih dan ternyata lo memilih orang yang salah lagi. Fa, untuk merelakan Shane disana nemenin lo adalah bukti betapa gue mencintai lo dan gue nggak bisa egois hanya karena cinta. Gue nggak ingin lo merasa terbebani karena perasaan gue yang mungkin nggak akan pernah terbalas oleh lo.” Gumam Sam dalam hati sambil melangkahkan kakinya menjauhi ruangan rawat Afa.
“Sam!” Panggil Mami yang melihat Sam menuju pintu keluar.
“Afa sama siapa?” Tanya Mami.
“Sama Shane, dia yang akan jagain Afa malam ini.” Jawab Sam yang terlihat sedih.
“Kalau gitu kamu harus kuat ya.” Jawab Mami yang seolah mengerti kesedihan anaknya.
“Apaan sih Mam? Kuat apaan? Memang Sam petinju?” Jawab Sam sambil menggerakan tangannya seperti sedang meninju.
“Kamu ini Sam, mirip sekali Papimu. Lain di hati lain di mulut.” Jawan Mami sambil mengacak rambut Sam.
“Mami kangen ya sama Papi? Nanti kita ketemu saat perayaan Thanks Giving ya Mam.” Kata Sam memeluk Maminya.
“Iya sayang nanti kita kumpul ya. Ini bukan karena Mami yang kangen loh ya. Tapi karena anak-anak Mami ini harus selalu dekat dengan Papinya.” Jawab Mami mengalihkan pembicaraan sambil melepaskan pelukan Sam.
“Mami bisa aja. Ya sudah Sam pulang ya Mam. Titip Afa, soalnya besok pagi harus Sam jemput untuk berangkat kerja.” Kata Sam.
“Loh? Kenapa nggak istirahat aja Afa? Memang kerja dimana? Di tempat bimbelnya?” Tanya Mami kaget.
“Bukan Mam. Di tempat Sam. Dia magang di tempat Sam dan besok adalah hari pertamanya magang. Jadi katanya dia nggak mau sampai bolos.” Jawab Sam.
__ADS_1
“Wah, kamu bos yang sangat kejam Sam.” Sindir Mami sambil memukul pelan lengan Sam.
“Sam nggak kejam Mam. Dia sendiri yang ingin tetap masuk kerja.” Jawab Sam sambil memeluk Maminya kembali.
“Iya, iya Mami ngerti. Dia memang anak yang rajin ya Sam. Jarang-jarang loh Sam perempuan kayak gitu. Masih kuliah saja sudah cari uang sendiri walaupun orang tuanya berkecukupan. Nanti cari calon istri yang begitu ya Sam.” Pinta Mami kepada Sam.
“Kalau Afa saja gimana?” Tanya Sam iseng.
“Afa kan sudah Mami anggap anak sendiri, masa nanti berubah jadi mantu? Canggung kali Sam. Lagi pula Sam, kita nggak seiman sama Afa. Jadi, kalau bisa sih jangan Afa ya. Cari yang lain saja.” Jawab Maminya.
“Tapi Sam maunya Afa.” Jawab Afa yang lemas mendengar jawaban Maminya.
“Sam beneran suka sama Afa?” Tanya Mami menegaskan.
“Do’a Mami pokoknya selalu yang terbaik untuk anak-anak Mami. Tapi Mami sih berharap kamu dapat jodoh yang seiman sama kita.” Jawab Mami.
“Kita lihat saja nanti kedepannya seperti apa ya Mam. Soalnya Afa juga nggak pernah respon sama Sam. Beda kalau sama Shane. Dia bahkan rela sampai nggak makan demi nungguin Shane pulang kerja untuk minta maaf sama Shane. Rela hujan-hujanan pula. Mungkin hati Afa sudah buat Shane Mam.” Jawab Sam yang memperlihatkan wajah kecewanya.
“Sam. Wanita di dunia ini banyak dan bukan hanya Afa saja. Jadi, Mami harap kamu bisa dengan yang lain jika bukan dengan Afa dan Shane juga begitu, jika bukan dengan Afa, semoga Shane bisa bahagia dengan yang lain. Mami yakin, Afa juga berharap kalian semua bahagia.” Kata Mami menenangkan Sam yang terlihat sangat kecewa.
“Iya Mam, Aamiin. Terima Kasih ya Mami selalu support Sam dan Shane. Mami cinta pertama Sam pokoknya.” Jawab Sam yang memeluk erat Maminya dan mengusap-usap punggungnya.
“Sam pamit pulang dulu ya Mam.” Pamit Sam yang kemudian meninggalkan rumah sakit untuk menuju ke rumahnya menggunakan mobilnya.
__ADS_1
*** Di Ruangan Afa ***
“Fa, Kakak benar-benar minta maaf sudah membuat Afa seperti ini. Maaf atas keegoisan dan sifat kekanak-kanakan kakak, kamu jadi harus berada disini, saat ini.” Kata Shane dengan penuh rasa bersalah.
“Nggak apa-apa kak. Tapi Afa nggak ngerti kenapa kakak bisa semarah itu. Padahal Afa sama-sama nggak menghubungi Bang Sam biar bisa kerja disana. Tapi kalau memang itu salah, Afa minta maaf.” Jawab Afa.
“Kakak cemburu kamu disana. Kamu akan menghabiskan waktu lebih lama bersama Bang Sam daripada sama Kakak.” Jawab Shane sambil menundukan kepalanya.
“Untuk apa cemburu? Aku kan nggak pacaran sama Bang Sam. Lagi pula, waktu SMP kita sering banget jalan bareng. Memang kakak nggak bosan apa ketemu aku mulu?” Tanya Afa sambil terkekeh.
“Nggak pernah bosan. Cinta datang karena terbiasa Fa. Kamu tahu kalau Bang Sam suka sama kamu sejak dulu dan nggak berubah. Siapa tahu kamu magang disana jadi terbiasa sama Bang Sam dan akhirnya kalian bisa pacaran.” Jawab Shane.
“Iya juga ya? Kenapa nggak kepikiran? Mungkin kalau setiap hari bersama aku bisa buka hati aku untuk Bang Sam.” Kata Afa menggoda Shane.
“Ya jangan Fa! Jangan sampai sama Bang Sam.” Teriak Shane yang kemudian suaranya memelan.
“Memangnya kenapa nggak boleh sama Bang Sam? Padahal Bang Sam sudah suka sama aku sejak lama. Dia juga belum pernah pacaran jadi mungkin dia belum bisa move on dari aku. Terus aku juga sudah berteman lama sama dia, jadi aku tahu tuh jeleknya Bang Sam kayak apa dan lagi kayaknya Bang Sam tipe seperti pangeran ya? Maju terus pantang mundur.” Kata Afa yang mengarahkan pandangannya ke langit-langit ruangan seperti sedang membayangkan sesuatu.
“Memang Bang Sam sesempurna itu ya Fa dimata kamu?” Tanya Shane kecewa.
“Lebih. Dia laki-laki terhebat yang pernah aku temui. Dulu waktu sama Artha aku sering banget cerita ini itu ke dia. Bahagianya aku ceritakan, sedihnya apalagi. Walaupun dia suka sama aku, tapi dia bisa bijak ngasih nasihat seolah dia nggak ada perasaan apapun. Dia hebat bisa mengubur perasaannya demi dengar curhatan aku. Padahal, kalau aku ada di posisi dia, aku pasti nggak akan tahan.” Jawab Afa dengan tatapan kosong karena sedang teringat masa lalunya bersama Sam.
“Itu yang sedang aku rasakan saat ini Fa. Mendengar wanita yang aku cintai menceritakan kehebatan laki-laki lain.” Gumam Shane dalam hati.
__ADS_1
“Terus kenapa kamu nggak bisa terima dia saat sudah putus dari Artha?” Tanya Shane memastikan.