
*** Di Rumah Sam dan Shane ***
Sam, Shane dan Maminya makan malam seperti biasa. Kali ini Shane datang terlambat sampai harus dipanggil Bibi dulu karena keasikan melakukan panggilan bersama Afa. Di meja makan sudah menunggu Sam dan Mami.
“Maaf Shane telat Mam, Bang.” Kata Shane yang langsung mengambil posisi.
“Ya sudah, sekarang kita mulai berdoa ya. Sam yang pimpin ya.” Kata Maminya.
Setelah Sam memimpin doa, akhirnya mereka semua menyantap makanannya. Beberapa kali Telepon genggam milik Shane menyala. Semua orang tahu karena semua telepon genggam juga disimpan di atas meja.
“Siapa Shane? Kayaknya penting?” Tanya Mami.
“Nggak Mam. Pemberitahuan grup SMA.” Jawab Shane yang masih menyantap makanannya.
“Oh iya, kamu sama Afa bagaimana?” Tanya Mami.
“Maksud Mami?” Shane berbalik bertanya.
“Mami lihat di media sosialmu. Itu juga teman Mami yang heboh katanya kamu punya pacar. Itu Afa bukan?” Tanya Maminya ke intinya.
Sam menatap tajam ke arah Shane. Shane tentu menyadari arti tatapan Abangnya itu. Shane meletakkan sendok dan garpu yang dia pegang.
“Iya Mam. Itu Afa. Shane pacarana sama Afa.” Jawab Shane dengan penuh ketegangan.
Maminya yang sudah melihat Sam sangat marah langsung menepuk tangan Sam. Sam mencoba untuk meredam amarahnya. Mami juga mencoba untuk tidak memihak siapapun.
__ADS_1
“Wah, selamat ya Shane. Kamu serius sama dia? Bukannya apa-apa. Kamu kan juga tahu kita ini berbeda kepercayaan dengan dia.” Kata Mami yang juga meletakkan sendok dan garpunya di atas piring.
“Shane akan diskusikan itu nanti kalaul waktunya sudah tepat Mam.” Jawab Shane.
“Mami percaya sama kamu Shane. Mami duluan ya ke ruang kerja.” Kata Mami yang langsung berdiri dan meninggalkan meja makan.
Kini hanya ada Shane dan Sam di meja makan. Mereka duduk berseberangan. Mereka berdua saling menatap tajam.
“Dimana Afa?” Tanya Sam dengan penuh amarah.
“Afa lagi nggak bisa ketemu kamu dulu bang. Mungkin sebaiknya mulai saat ini kalian memang menjaga jarak.” Jawab Shane dengan penuh ketenangan.
“Kenapa? Karena sekarang lo merasa dia milik lo ya? Jadi lo melarang dia berhubungan sama gue?” Tanya Sam dengan senyum kesalnya.
“Nggak. Karena dia merasa direndahkan sama kamu bang. Daripada dibilang sana sini, lebih baik dia jaga jarak sama kamu.” Jawab Shane.
“Fa. Maaf kalau gue bikin lo kecewa dan lo merasa direndahkan. Gue nggak ada maksud untuk itu. Gue hanya ingin lo menetapkan pilihan lo dan jangan sampai hati gue dan Shane digantung. Sekarang gue sudah tahu kalau lo sama Shane jadian. Jadi, selamat ya. Gue nggak berharap lebih dari maaf lo. Saat ini, yang gue butuhkan hanya maaf lo aja ko. Biar kalau suatu hari nanti kita ketemu lagi, kita bisa saling sapa seperti sebelumnya. Tolong jaga Shane ya. Bagaimana pun juga dia adik gue satu-satunya. Gue tahu pada akhirnya gue akan kalah lagi. Tapi gue nggak pernah menyesal pernah dan masih menyukai lo. Semoga bersama Shane, lo nggak akan merasa kecewa lagi seperti sebelumnya. Gue turut bahagia untuk kalian. Sekali lagi, gue minta maaf untuk kekasaran dan kelancangan gue yang sudah buat lo sangat kecewa.”
Setelah mengirimkan pesan itu kepada Afa, Sam langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan rumah. Dia hendak pergi ke salah satu club malam. Sam meminta Eric untuk menemaninya minum.
Sesampainya di club malam, Sam langsung disambut oleh Eric yang sudah lebih dulu sampai. Eric memang biasa ke tempat itu hampir tiap malam. Jadi saat Sam meminta Eric untuk menemaninya sudah pasti itu bukan sebuah kesengajaan, namun memang karena Eric sudah ada disana.
“Jadi kenapa nih Bos?” Tanya Eric yang sedang diampit oleh 2 wanita.
“Dia jadian sama Shane.” Jawab Sam yang langsung meneguk minuman yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Gue bilang juga apa? Perempuan kayak dia memang pasti milih laki-laki yang terlihat anak baik-baik.” Jawab Eric yang menuangkan kembali minuman ke gelas Sam.
“Apa bedanya gue sama Shane? Kenapa sejak dulu Shane selalu menang dari gue? Gue nggak pernah iri sama kesuksesan dia, asset dia, prestasi dia, tapi kali ini, gue cuma butuh Afa. Kenapa itu juga sulit?” Umpat Sam yang meneguk lagi minuman yang dituangkan Eric.
“Apa spesialnya anak itu? Bukan apa-apa, pergaulan dia juga biasa saja. Cuma memang dia pintar, gue bisa akui itu. Selebihnya kayaknya nggak ada. Lagian kalian dari lingkungan berbeda, kenapa harus berebut sih?” Tanya Eric yang kesal karena sahabatnya sejak dulu gagal move on dari Afa.
“Kalau lo sedikit aja lebih dekat sama dia. Gue yakin, lo juga akan jatuh cinta sama dia.” Jawab Sam.
“Ya sudah, sekarang lo senang-senang saja. Mau pilih yang mana?” Tanya Eric.
“Lo aja sana. Gue nggak nafsu sama model begitu.” Jawab Sam yang terus menghabiskan banyak minuman.
“Sudah! Jangan minum kebanyakan! Besok lo ada meeting.” Kata Eric yang mengingatkan Sam.
Sam hanya tersenyum dan terus meneguk minumannya. Dia tidak peduli dengan pekerjaannya saat ini. Dia hanya memikirkan Afa yang tidak pernah melirik ke arahnya.
“Dasar bodoh! Banyak wanita yang suka sama lo, tapi yang lo lirik cuma anak itu. Kapan lo akan sadar kalau cinta lo itu nggak akan pernah terbalaskan.” Gumam Eric dalam hati.
“Apa yang harus gue lakukan untuk meluluhkan hati lo yang beku itu. Kalau Shane bisa kenapa gue nggak Fa? Kenapa nggak pernah ada sedikit celah untuk gue agar bisa masuk ke hati lo yang dingin itu? Apa yang lo lihat dari Shane dan nggak gue miliki?” Pikir Sam dalam hati.
Eric sangat kesal melihat sahabatnya terus menyiksa dirinya sendiri. Eric kemudian mengirimkan pesan kepada Afa.
"Selamat ya atas hubungan lo sama Shane. Tapi tanpa lo sadari, ada hati yang telah lo patahkan disini. Orang yang selalu menunggu lo setiap hari dan orang yang selalu membicarakan lo tiap detik. Semoga orang ini bisa melewati semuanya sama seperti sebelumnya.”
Eric kemudian mengirimkan foto Sam yang sudah benar-benar mabuk. Sam tergeletak di atas sofa dengan pakaian yang sangat berantakan.
__ADS_1
Sebelumnya memang Sam pernah patah hati saat Afa pertama kali pacaran dengan Artha. Namun saat itu Sam selalu meyakini bahwa itu hanya cinta monyet dan suatu hari nanti Afa akan mencintainya. Tapi saat ini berbeda. Sudah jelas Afa bukan lagi anak kecil yang dulu dia kenal. Cintanya juga pasti akan berjalan ke arah yang lebih serius bersama Shane. Bahagia dan kecewa kini bercampur di dalam hati Sam.