
“Boleh. Kamu mau nginap di hotel aja nggak? Kebetulan ada propertyku disini. Kamu bisa nginap disana.” Tanya Shane yang kebetulan
“Ah kakak ngada-ngada aja. Di hotel kan hitungannya harian. Mahal kak. Aku kesini juga kan modal tabungan hasil aku ngajar.” Jawab Afa sambil tertawa.
“Fa. Masa sama pacar sendiri perhitungan? Nggak usah bayar Fa. Kamu tinggal tempati saja. Mau ya. Jadi aku juga nggak khawatir sama kamu. Aku bisa mantau kamu lewat semua staff aku deh.” Jawab Shane.
“Oh, jadi pacarku ini posesif?” Sindir Afa.
“Nggak gitu Fa, nggak. Jangan marah.” Jawab Shane memelas.
“Aku bercanda kak. Aku nggak mau repotin kakak tau.” Kata Afa.
“Nggak repotin. Mau ya. Kamarnya kan banyak, nggak akan semuanya selalu ada isinya juga. Kamu pindah besok saja.” Jawab Shane.
Afa terlihat berfikir. Disatu sisi dia tidak enak kalau menginap tanpa membayar, disisi lain dia tidak enak menolak niat baik kekasihnya.
“Fa! Mau ya?” Tanya Shane kembali.
“Ya sudah kalau begitu. Besok jam berapa aku harus mulai pindah?” Tanya Afa.
“Jam 10an saja, nanti aku jemput kamu.” Jawab Shane.
Afa menganggukkan kepalanya. Setelah itu Afa meminta untuk pulang karena hari sudah mulai larut malam sedangkan perjalanan menuju rumah Imel juga cukup jauh. Shane mengantar pulang Imel dan Afa.
“Jadi resmi jadian nih ya?” Tanya Imel yang duduk di kursi belakang Shane.
“Apaan sih Mel?” Jawab Afa yang terlihat malu.
__ADS_1
“Terima kasih ya Imel. Atas bantuannya semuanya jadi lancar.” Kata Shane sambil mengemudikan mobil yang dia sewa.
“Sama-sama kak. Demi sahabat gue ini apa sih yang nggak?” Kata Imel menggoda Afa.
“Lo katanya sibuk di kantor tapi ternyata sibuk ginian ya?” Tanya Afa yang melihat kea rah Imel.
“Hebat kan gue?” Kata Imel dengan sangat bangga.
Shane hanya terkekeh mendengar percakapan Afa dan Imel. Imel yang sudah kelelahan dan kekenyangan karena makan di warung pinggir pantai sepuasnya, akhirnya tertidur pulas. Shane memedang tangan Afa sesekali.
“Rasanya nggak mau pisah.” Kata Shane yang menggenggam erat tangan Afa.
“Rasanya aku lagi mimpi.” Jawab Afa sambil tersenyum.
“Mimpi? Kamu nggak mimpi sayangku.” Jawab Shane sambil mencubit manja pipi Afa.
Dua jam berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah Imel. Setelah mengantarkan mereka berdua pulang, Shane pun kembali ke hotelnya. Sesampainya di rumah, mereka mengganti pakaian. Berbeda dengan Imel yang langsung tertidur, Afa justru asik chat dengan Shane.
Jadi setelah Shane menutup telepon Afa, dia langsung memesan tiket pesawat untuk menemui Afa. Namun pesawat yang langsung menuju Yogyakarta dengan keberangkatan tercepat adalah dari Jakarta. Jadi, Shane pergi ke Jakarta menggunakan mobilnya lalu naik pesawat dari sana
Sampai Yogyakarta adalah sore hari. Sejak sebelum naik pesawat, Shane sudah berkomunikasi dengan Imel untuk mempersiapkan kejutan di salah satu pantai disana. Shane juga memesan gaun dan sepatu untuk Afa dari salah satu temannya yang memiliki butik.
Sesampainya di Yogyakarta, Shane langsung bertemu dengan orang dari jasa penyewaan mobil. Setelah itu mengambil baju di butik dan barulah mengantarkan baju itu ke kantor Imel. Jadi, gaun dan sepatu yang Afa gunakan bukanlah milik Imel, melainkan memang sudah dipersiapkan oleh Shane.
Saat ini Shane sendiri menginap di hotel miliknya. Dia akan kembali pada hari Senin setelah mengantarkan Afa pergi ke Kantornya. Shane juga berjanji akan menemui Afa setiap akhir pekan.
Setelah menceritakan semuanya, Shane dan Afa tidur karena hari sudah sangat malam. Sebelum tidur, Shane mengunggah di akun media sosialnya foto tangannya dan Afa dengan seikat bunga di bawahnya. “This is our fate.” caption Shane.
__ADS_1
Keesokan harinya setelah sarapan, Afa membantu Ibunya Imel dan berpamitan bahwa dia tidak akan menginap lagi disana. Afa juga mengucapkan banyak terima kasih kepada orang tua Imel karena sudah mau direpotkan berkali-kali. Sebelum pergi, seperti biasa Afa juga membantu Ibunya Imel untuk mencuci piring.
Tidak lama kemudian, Shane datang untuk menjemput Afa. Shane membawakan beberapa buah tangan yang sengaja dia bawa dari Bandung untuk orang tua Imel sebagai tanda terima kasih karena selama ini sudah menjaga Afa selama jauh dari rumah. Setelah berpamitan, Afa dan Shane pergi meninggalkan rumah Imel.
“Itu pacarnya yang kamu maksud?” Tanya Ayahnya Imel.
“Iya Pak. Pengusaha muda.” Jawab Imel.
“Kalau cari jodoh kayak gitu! Sudah tampan, mapan juga. Tapi jangan lupa harus setia juga.” Titah Ayahnya Imel. Imel hanya tertawa dan langsung meninggalkan Ayahnya yang masih berdiri di depan rumah.
Afa dan Shane yang sedang dalam perjalanan memutuskan untuk main ke salah satu pantai terlebih dahulu sebelum ke hotel. Sekitar 2 jam perjalanan mereka sampai. Mereka berjalan di pesisir pantai sambil menikmati semilir angin dan siang yang tidak terlalu terik.
“Kenapa kamu suka pantai?” Tanya Shane kepada Afa.
“Karena suara ombak akan memecahkan rasa sepiku.” Jawab Afa sambil menikmati air yang sesekali membasahi kakinya.
“Apakah selama ini kamu kesepian?” Tanya Shane kembali.
“Iya. Sejak kecil bukankah aku terlihat seperti itu?” Jawab Afa yang kemudian bertanya kembali.
“Tidak. Aku lihat kamu memiliki banyak teman. Dibandingkan dengan aku, aku justru memiliki sedikit teman.” Jawab Shane.
“Banyak teman bukan jaminan tidak akan kesepian. Aku hanya mencoba berbaur dan mengabaikan rasa sepiku. Tapi ketika pulang ke rumah, aku merasakannya lagi. Berbeda dengan di Pantai. Walaupun aku sendirian, rasa sepi itu tidak pernah datang.” Jawab Afa sambil sesekali memandang ke arah lautan.
“Fa, aku sayang kamu dan aku mencintaimu. Datanglah kapanpun kepadaku! Terlebih jika kamu merasakan sepi lagi. Aku mau merasakan semuanya bersama.” Kata Shane yang menggenggam tangan Afa dan menghentikan langkahnya.
“Selama ini kamu kemana saja? Kenapa kamu terlambat datang? Padahal kamu mengenalku lebih dulu dibanding dia.” Tanya Afa menahan air matanya.
__ADS_1
“Aku sudah menyukaimu sejak pertandingan pertama kita. Hanya saja, anak itu dengan berani menikungku duluan. Ditambah aku harus bersaing dengan Bang Sam. Rasanya sainganku sangat berat. Tapi melihatmu saat itu bersedih untuk orang yang sudah mengkhianatimu, bahkan kamu akan melakukan hal buruk yang bisa mencelakai dirimu, itu membuatku sangat ketakutan. Saat itu, seolah aku ingin terus memelukmu dan menahanmu untuk tetap disampingku agar tidak ada lagi orang yang bisa menyakitimu.” Jawab Shane menjelaskan.
“Dari situ keberanianku muncul untuk berhadapan dengan mereka. Maaf membuatmu menunggu. Sekarang jangan sedih ya.” Lanjut Shane yang menghapus tetesan air mata yang tidak dapat Afa bendung lagi.