
Mereka kembali ke hotel sore hari. Shane menunjukkan kamar Afa yang bersebelahan dengan Shane. Shane membuka pintu kamar Afa dan mereka masuk ke dalam.
“Bagaimana? Apakah ini cukup nyaman Fa?” Tanya Shane.
“Apa ini tidak berlebihan? Ini amat sangat terlalu mewah. Memangnya nggak bisa kamar yang paling kecil saja?” Tanya Afa yang merasa tidak enak karena kamarnya sangat lengkap dan mewah.
“Fa. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kekasihku. Tolong terima ya.” Kata Shane yang memegang kedua tangan Afa.
“Terima kasih ya.” Jawab Afa yang tersenyum walaupun masih merasa tidak enak.
“Ya udah, aku balik dulu ya. Nanti kalau butuh apa-apa telepon aku aja ya.” Jawab Shane yang kemudian keluar dari kamar Afa dan masuk ke kamarnya.
Afa menutup pintunya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil mendengatkan lagu pada telepon genggamnya dengan menggunakan earphone. Dia memejamkan mata dengan pikiran yang kosong. Hingga akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.
Shane membunyikan bel kamar Afa. Berkali-kali menekannya namun tidak ada jawaban. Shane mencoba menghubungi Afa namun hasilnya juga sama. Sudah hampir 2 jam Shane sejak pertama kali Shane membunyikan bel namun Afa tak kunjung membukakannya pintu. Akhirnya Shane mencoba menghubungi Afa melalui telepon yang ada di kamar Afa.
Afa terbangun karena suara telepon berbunyi sangat nyaring. Dia langsung berjalan kea rah sumber suara itu. Dengan mata yang masih sedikit ngantuk Afa menjawab panggilan tersebut. “Hallo!”
“Sayang? Kamu baik-baik saja?” Tanya Shane yang merasa khawatir.
“Kakak?” Jawab Afa yang kaget karena ternyata yang melakukan panggilan dengannya adalah Shane.
“Iya Fa. Bisa ketemu sekarang? Aku tunggu di depan kamar kamu ya.” Kata Shane yang langsung menutup teleponnya dan bergegas keluar kamarnya untuk menemui Afa.
Afa yang saat itu masih dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar langsung melangkahkan kakinya ke depan pintu kamarnya. Dia membuka pintunya sambil mengucek kelopak matanya. Dia tersenyum saat melihat Shane sudah berada tepat di hadapannya. Afa langsung memeluk Shane sambil memejamkan matanya.
“F… Fa?” Panggil Shane dengan gugup.
“Ehmmm.” Afa hanya mendeham.
“Jantung kakak dag dig dug.” Lanjut Afa sambil tersenyum dan masih memejamkan mata.
__ADS_1
“Afa!” Teriak Shane.
Afa mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Shane yang masih samar dimatanya. Dia tersenyum sambil tangan yang masih memeluk Shane. Afa kembali menempelkan telinganya di dada Shane. “Iya Kak?”
“Kamu mabuk ya?” tanya Shane yang melepaskan pelukan Afa dan melihat wajah Afa karena khawatir melihat tingkah pacarnya.
“Nggak. Aku cuma ngantuk. Kakak kenapa kesini?” Jawab Afa dengan mata yang mulai terbuka lebar.
“Kamu tidur dari tadi?” Tanya Shane menahan tawa. Afa hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Aku nggak tahu sih mau ngajak kamu makan malam atau makan larut malam. Soalnya ini sudah jam 9 malam. Kamu lapar nggak?” Tanya Shane.
Seketika Afa langsung membuka kelopak matanya lebar-lebar. Dia langsung berlari ke kasur dan mengambil telepon genggam miliknya. Dia melihat jelas bahwa itu jam 08.55 PM. Dia menepuk keningnya dan melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Shane.
Afa kembali ke depan pintu kamarnya dan menemui Shane kembali. “Kak. Maaf. Tadi aku ketiduran.”
“Iya sayang nggak apa-apa. Tadi aku khawatir aja sama kamu. Aku kira kamu kenapa di dalam.” Jawab Shane sambil mengelus kepala Afa dan menahan tawa.
“Ya udah kamu mandi dulu sana. Aku tunggu disana ya.” Jawab Shane yang kemudian menunjuk ke arah sofa di dekan pintu masuk. Afa hanya mengangguk dan langsung bergegas mengambil handuk dan beberapa pakaian ke dalam kamar mandi.
Setengah jam kemudian Afa sudah selesai mandi dan sudah mengenakan pakaiannya yang lain. Afa menghampiri Shane di sofa namun Shane tidak ada disana. Pandangan Afa teralihkan saat melihat pintu menuju balkon terbuka. Dia melihat Shane sedang berdiri memandang langit.
“Kak!” Panggil Afa yang kini sudah berada di sampingnya.
“Eh, Fa. Sudah selesai?” Tanya Shane yang kager melihat Afa.
“Sudah. Kenapa kakak disini? Dingin nanti sakit.” Jawab Afa.
“Lagi lihat langit aja Fa. Indah ya, bintangnya banyak.” Jawab Shane sambil melihat ke atas.
“Kakak lagi sedih ya?” Tanya Afa yang melihat raut wajah Shane yang terlihat sedang merasakan kesedihan.
__ADS_1
“Terlihat ya?” Tanya Shane sambil menundukkan kepalanya.
“Lagi ada masalah kak?” Tanya Afa yang melihat kea rah Shane.
“Nggak ada. Cuma sedih aja sebentar lagi mau jauhan sama kamu. Padahal malam ini aku mau dinner romantis sama kamu untuk perpisahan kita besok. Tapi kamunya tidur dan tempatnya sudah tutup jam segini.” Jawab Shane yang kembali melihat ke arah langit.
“Kak! Maafin aku.” Kata Afa yang memegang lengan Shane.
“Nggak apa-apa Fa. Kamu belum makan malam. Cari makan dulu yuk!” Jawab Shane yang kemudian mengajak Afa untuk makan.
Afa hanya mengangguk. Afa kemudian mengambil tasnya dan mengikuti langkah Shane keluar dari kamar. Mereka menuju lift yang mengarah ke parkiran.
Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil. Shane mulai melajukan mobilnya namun masih ada kesedihan di wajahnya. Selama dalam perjalanan Shane juga hanya diam dan mereka tidak membicarakan apapun.
Tidak lama kemudian mereka sampai di salah satu Kawasan yang dikenal sebagai wisata belanja. Disana terdapat banyak sekali penjual makanan, pakaian dan berbagai macam buah tangan yang khas. Shane dan Afa keluar dari mobil dan berjalan kaki.
“Afa nggak apa-apa kan kalau makan di tempat kayak gini?” Tanya Shane.
“Nggak kebalik kak? Memangnya kakak nggak apa-apa makan di tempat kayak gini?” Tanya Afa kembali sambil menahan tawa. Shane hanya tersenyum sambil menggandeng tangan Afa.
“Kalau kita beli makan disini habis itu kita pulang ke hotel gimana? Kita makan di kamar.” Tanya Afa kepada Shane.
“Makan di kamar?” Tanya Shane kaget.
“Iya. Aku mau menghabiskan banyak waktu bareng kakak. Malam ini, aku nggak akan tidur. Aku mau nemenin kakak. Terserah kalau kakak mau tidur, tapi aku nggak akan melewatkan satu detik pun tanpa kakak. Boleh?” Tanya Afa kembali.
Shane sangat kaget mendengar pernyataan Afa. Ada rasa bahagia karena Afa tidak ingin melewatkan satu detik pun tanpanya. Tapi ada rasa sedih karena itu tidak akan berlangsung lama.
“Yang sudah berlalu nggak akan bisa terulang. Yang belum terjadi, akan aku isi dengan bersama kakak. Boleh?” Tanya Afa lagi.
Shane tersenyum dan mengangguk mendengar permintaan kekasihnya. Setelah itu mereka mencari makanan untuk dibawa pulang. Lalu mereka kembali ke hotel.
__ADS_1