
Shane menghentikan mobilnya dan menurunkan kaca mobilnya. “Afa? Kenapa lari-lari?” Tanya Shane terkejut.
Shane langsung memarkirkan kembali mobilnya di tempat yang berbeda lalu menghampiri Afa yang masih terengah.
“Kakak. Ngirim lagu ini?” Tanya Afa terengah karena habis berlari.
“Iya, buat Afa. Kalau suatu waktu ingat aku, dengerin lagu itu ya.” Jawab Shane dengan wajah sedihnya.
“Kenapa?” Tanya Afa sambil mengatur nafas.
“Kenapa apanya Fa?” Tanya Shane bingung.
“Kenapa lagu ini?” Tanya Afa kembali.
“Soalnya lagu itu sesuai sama isi hati aku. Kalau Afa mau pergi silahkan. Aku juga nggak akan maksa kamu ko Fa untuk tetap disini. Aku… cukup sadar diri Fa.” Jawab Shane yang kemudian suaranya melemah dan dia menundukan kepalanya.
“Sadar diri?” Afa masih bingung dengan pernyataan Shane.
“Fa, nanti ketinggalan kereta loh.” Kali ini Shane yang mengalihkan pembicaraan.
“Katakan apa yang ingin kakak katakan!” Afa mencoba mencari maksud Shane.
“Jaga diri dimana pun kamu berada. Aku akan selalu nunggu penjelasan dari kamu tentang kejadian sejak kemarin sampai kamu siap bercerita.” Jawab Shane penuh pengharapan.
Afa tersenyum lalu meninggalkan Shane tanpa mengatakan apapun. Dibenak Afa banyak hal yang masih ingin dia tanyakan. Namun dihatinya ada harapan besar yang dia rasa itu tidak terjadi.
Shane menatap kepergian Afa dengan sendu. Dia tahu bahwa dia tidak bisa melakukan apapun untuk meminta Afa kembali. Sejujurnya banyak juga pertanyaan dibenak Shane. Salah satunya adalah dia ingin menanyakan alasan Afa menghindarinya. Namun seperti yang Shane bilang sebelumnya, dia cukup sadar diri.
“Fa!” Panggil seseorang.
Afa melihat kedepan dan ternyata itu adalah Faris. “Hai!” Afa pun menyapanya.
“Wah, habis perpisahan sama cowoknya ya?” Tanya Faris yang sedari tadi melihat Afa dan Shane berdua.
__ADS_1
“Wah ada-ada aja. Sejak kapan disini?” Tanya Afa.
“Sejak kamu lari-lari ngejar mobil itu yang kayak lagi ngejar maling.” Faris sedikit tertawa.
“Masa iya? Padahal aku larinya juga pelan kayak lagi ngejar kupu-kupu loh.” Timbal Afa yang juga tersenyum.
“Ya udah masuk yuk!” Ajak Faris yang kemudian melakukan check in ke petugas stasiun.
Shane terlihat sedih dan bahagia melihat kepergian Afa bersama seorang pria yang bahkan dia tidak tahu itu siapa. Shane bahagia karena dia melihat Afa sudah tidak memikirkan mantan tunangannya. Namun Shane juga sedih karena pria yang disampingnya itu bukan dia.
Biasanya Shane selalu mengetahui orang-orang yang ada disekitar Afa karena biasanya Afa selalu bercerita walaupun itu hanya hal kecil saja. Dia tahu bahwa hubungan dia dengan Afa belakangan ini sudah tidak baik-baik saja. Mungkin hal itu juga yang membuat Afa menjaga jarak darinya seperti saat ini.
Akhirnya Shane masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan stasiun. Dengan wajah lelah karena memikirkan Afa semalaman sampai tidak bisa tidur dan dengan hati yang kacau. Shane pun menghela nafas panjang dan mencoba fokus untuk mengendarai mobilnya.
“Fa!” tegur Faris.
Afa yang saat itu sudah duduk di kursi tunggu malah melihat kereta yang sedang berjajar dengan tatapan kosong. Lamunannya buyar karena Faris memanggilnya “Ah iya kenapa?”
“Jangan melamun terus nanti kesambet loh!” Faris mencoba mengajak Afa bicara.
“Lagi ada masalah ya Fa? Mau cerita nggak? Aku siap loh jadi tembok yang hanya mendengarkan atau jadi psikolog yang dapat memberikan solusi.” Tanya Faris dengan senyum bangganya.
“Duh psikolog dong. Aku harus bayar mahal dong kalau curhatnya sama psikolog?” Jawab Afa bercanda.
“Nggak, kamu kan pasien pertama aku. Jadi, aku kasih gratis deh, hitung-tihung trial gitu Fa. 7 hari deh buat kamu.” Kata Faris yang seolah dia sedang membuka praktek.
“Hahaha kamu ini Ris.” Afa sedikit tertawa.
Setelah itu Afa dan Faris masuk kedalam gerbong kereta. Tidak lama kemudian keretapun berangkat. Afa dan Faris duduk bersebelahan karena Imel memberitahukan tempat duduk Afa. Faris langsung memesan tiket saat mengetahui tempat duduk Afa dan untungnya, kursi di sebelahnya masih kosong.
Afa duduk di dekat jendela. Menatap jalanan yang perlahan mulai gelap. Dia memasang earphone dan mendengarkan lagu yang tadi dikirimkan oleh Shane. Afa tentu tahu lagu itu karena pernah hits.
Sesekali Faris melirik Afa melalui ekor matanya. Faris melihat ada kesedihan di wajah Afa. Faris pernah menanyakan pada Imel apakah Afa memiliki kekasih atau tidak. Imel hanya menjawab bahwa dia pernah dijemput pria tampan, namun Afa tidak mengiyakan bahwa itu pacarnya. Maka dari itu Faris berfikir mungkin pria tampan yang dimaksud Imel adalah pria tadi yang bersama Afa di parkiran.
__ADS_1
Perlahan Afa pun terbuai dalam mimpinya. Alunan lagu itu membuatnya terlelap lebih dalam. Selain karen lagu, mungkin karena Afa juga merasa lelah hari itu. Faris hanya tersenyum melihat Afa tertidur. Wajahnya memang ditutupi masker, namun matanya masih terlihat. Afa menyandarkan kepalanya pada jendela kereta. Itu membuat rambutnya terlihat berantakan.
“Kenapa nggak sejak dulu kita sedekat ini ya Fa?” Gumam Faris dalam hati.
“Kenapa kalau jalan pasti ngajak ke toko buku sih?” Tanya Afa.
“Soalnya aku harus banyak belajar biar sukses dan bisa beli mobil.” Jawab anak laki-laki itu.
“Kan setiap hari kamu dijemput mobil.” Kata Afa.
“Itu mobil Mami. Nanti aku mau beli mobil sendiri biar kalau jalan sama kamu, aku jemputnya sendiri nggak usah sama pak supir.” Jawab anak laki-laki itu kembali.
“Aku nggak suka mobi. Mobil bikin mual. Aku Sukanya motor.” Jawab Afa.
“Aku nggak suka motor. Soalnya nanti aku bisa masuk angin.” Balas anak laki-laki itu.
“Huh anak manja.” Ledek Afa sambil tertawa.
Ada air mata menetes di sudut mata Afa. Afa merasakan mimpi itu seperti baru saja terjadi di kehidupan nyata. Dia terbangun karena menyadari dia menangis. Afa bergegas menghapus air matanya walau sedikit.
Itu adalah kenangannya bersama Shane saat mereka masih SMP. “Mungkin aku terlalu rindu.” Pikirnya dalam hati.
Afa melirik ke arah Faris yang ternyata sedang memejamkan matanya. “Syukur deh dia tidur. Berarti nggak lihat apa-apa kan barusan.” Gumam Afa dalam hati sambil mengelus dadanya.
“Kamu lagi kesusahan tapi mencoba tegar.” Pikir Faris dalam hati. Faris memang berpura-pura tidur saat menyadari Afa akan menyeka air matanya. Faris tidak ingin Afa merasa malu karena dia melihat Afa menangis saat tidur.
“Mel. Gue sudah on the way ya bareng Faris.” Afa mengirimkan pesan kepada Imel karena tadi niatnya sempat urung.
“Selamat bulan madu ya Fa.” Balas Imel.
“Apaan sih? Ada-ada aja.” Balas Afa yang kesal dengan Imel.
“Bercanda sayang. Ya sudah lo hati-hati ya. Kabari kalau sudah sampai, nanti gue jemput.” Balas Imel kembali.
__ADS_1
“Uh, sweet. Thank you ya.” Balas Afa yang kemudian tersenyum.