
Siang harinya Shane mencoba menghubungi Afa namun nomernya tidak aktif. Semua media sosialnya juga mendadak menghilang. Shane kebingungan karena seharusnya dia ada janji untuk makan siang bersama Afa.
Shane memutuskan untuk menunggu Afa di bengkel Sam. Dia sudah menunggu di perkiran sejak sebelum jam istirahat. Dia melihat satu per satu karyawan yang keluar dari dalam namun dia tidak menemukan Afa sama sekali.
Hingga akhirnya dia dikagetkan dengan suara ketukan di kaca mobilnya.
“Eh, bang. Bikin kaget aja.” Kata Shane yang menurunkan kaca mobil.
“Ngapain? Ko nggak masuk?” Tanya Eric.
“Nungguin Afa. Gue ada janji mau makan siang sama dia.” Jawab Shane.
“Makan siang sama gue yuk! Ada yang mau gue omongin.” Kata Eric yang mengajak Shane.
“Tunggu Afa dulu ya. Nanti kita bertiga makan siangnya.” Kata Shane yang masih setia menunggu Afa.
“Udah sekarang aja. Afa nggak akan keluar dari dalam. Gue masuk ya!” Kata Eric yang kemudian berjalan ke pintu mobil Shane yang satunya lagi.
Eric masuk ke dalam mobil dan dia meminta Shane melajukan mobilnya. Shane pun mengikuti perkataan Eric. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah resto. Mereka masuk kedalam dan memesan beberapa menu makanan.
“Gue nggak tahu apa yang terjadi. Tapi tadi pagi Sam kelihatan marah banget sampai narik tangan Afa dan maksa Afa ke ruangannya. Cuma gue cegah soalnya gue lihat Afa kesakitan. Eh si Sam malah nyuruh gue mecat si Afa.” Kata Eric menceritakan kejadiannya.
“Terus sekarang Afa dimana?” Tanya Shane.
“Udah gue suruh pulang ko dari tadi pagi.” Jawab Eric.
“Dia pasti lagi kesusahan nyari tempat magang yang baru ya.” kata Shane sedikit terdengar suaranya.
__ADS_1
“Memang dia nggak menghubungi lo untuk tempat magang yang baru?” Tanya Eric yang mulai menikmati hidangan makan siang yang kini sudah ada di hadapannya.
“Nggak, dari pagi dia nggak bisa dihubungi malah.” Jawab Shane sedikit bingung.
“Mungkin telepon genggam milik dia habis daya” Jawab Eric menenangkan.
“Iya ya Bang.” Jawab Shane
“Mana mungkin dia kehabisan daya kalau masih pagi? Dia kan tipe yang selalu ngisi baterai saat malam. Kalau iya habis baterai masa iya sosial medianya juga mendadak hilang? Ada yang aneh sih.” Gumam Shane dalam hati yang masih kebingungan.
Setelah selesai makan siang, Shane dan Eric kembali ke bengkel Sam. Shane hanya ingin memastikan langsung saat ini juga kenapa Sam tadi pagi sampai marah seperti yang diceritakan Eric.
Eric bergegas masuk ke dalam menuju ruangannya sedangkan Shane menuju ruangan Sam. Dia mengetuk pintu ruangan Sam dan terdengar suara Sam yang menyuruhnya masuk.
“Kenapa lo kesini?” tanya Sam ketus.
“Kenapa marah sama Afa tadi pagi?” Tanya Shane langsung ke intinya.
“Dengan cara narik tangan dia sampai kesakitan? Mana ada cewek yang mau digituin.” Kata Shane sambil menyandarkan punggung di sofa.
“Salah dia sendiri bersikap dingin sama gue. Bukannya minta maaf malah pura-pura nggak terjadi apa-apa.” Jawab Sam sambil berputar di kursinya.
“Memang pesan terakhir kamu apa bang?” Tanya Shane yang penasaran kenapa Afa sampai tidak membalas pesan Sam.
“Kepo lo!” Jawab Sam sambil tersenyum sinis.
“Ya udah kalau gitu aku mau nyari Afa dulu. Soalnya sejak tadi pagi aku nggak bisa nelepon dia dan semua sosial medianya mendadak menghilang.” Jawab Shane yang kemudian pergi meninggalkan ruangan Sam.
__ADS_1
Sam termenung sesaat. Dia mencera perkataan Shane barusan. Dia langsung mengecek semua media sosial yang biasa Afa gunakan namun dia tidak menemukannya sama sekali.
“Sejak kapan semua media sosialnya menghilang?” Tanya Sam yang mengirimkan pesan kepada Shane.
“Sejak tadi pagi sebelum aku berangkat ke kantor.” Balas Shane.
“Kalau gitu berarti bukan gue yang di blokir, tapi memang dia menonaktifkan semua alat komunikasinya.” Gumam Sam dalam hati.
Sam mulai panik karena dia sudah berburuk sangka kepada Afa. Dia mengira Afa tidak membalasnya karena ingin menghindarinya. Lalu Sam juga berfikir Afa sengaja memblokir nomer miliknya karena tidak ingin berkomunikasi lagi dengannya.
Sam mencoba mencari kontak teman-teman Afa, namun karena media sosial Afa juga hilang jadi dia tidak bisa melacak siapa-siapa saja yang sering berhubungan dengan Afa. Sam tahu bahwa Imel dekat dengan Afa, akan tetapi Sam tidak tahu kontak milik Imel.
Shane kembali ke kantornya karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Tadinya memang dia berniat untuk mencari Afa, namun karena pekerjaannya masih banyak jadi dia memutuskan untuk menundanya terlebih dahulu.
*** Di Rumah Afa ***
Afa mengirimkan berkas permohonan magangnya kepada perusahaan yang diberi tahu oleh Imel. Setelah itu dia melamun karena semua media sosialnya juga sedang dia nonaktifkan. Dalam lamunannya dia kembali mengingat apa yang Sam katakan semalam dalam pesan yang dikirmkan oleh Sam.
“Andai cinta itu tidak ada. Apakah kalian masih tetap bersamaku? Jika ya, apakah itu karena kepedulian kalian atau karena rasa iba kalian untukku? Gue nggak bermaksud untuk seperti apa yang lo pikirkan bang. Hanya saja jika selama ini pemikiran lo seperti itu, gue benar-benar kecewa. Kenapa baru sekarang lo menyadarkan gue kalau gue sebenarnya memang nggak pantas berada di lingkungan seperti kalian?” gumam Afa dalam hati yang penuh penyesalan.
Hari sudah malam dan Sam yang sudah berada di rumahnya masih terus mencoba menghubungi Afa. Dia terus mengirim pesan walupun pesannya tidak pernah sampai. Dia khawatir namun dia tidak bisa melakukan apapun.
Shane kembali ke rumahnya sekitar pukul 10 malam. Saat itu Sam juga masih berada di teras rumah untuk menunggu kepulangan Shane.
“Gimana? Sudah ada kabar?” Tanya Sam yang sangat antusias.
“Belum. Dari tadi aku di kantor ko bang. Aku juga belum sempat cari dia. Mungkin besok saja kali. Mungkin saja dia lagi ingin sendiri dulu dan nggak mau kita ganggu.” Kata Shane menenangkan Sam.
__ADS_1
Shane lalu meninggalkan Sam yang masih berada di teras rumah. Sam berfikir memang ada benarnya ap yang dikatakan Shane. Mungkin saja memang benar Afa sedang ingin sendirian dan tidiak ingin diganggu oleh siapapun.
Akhirnya Sam masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya. Di dalam kamar, Sam mencoba untuk tenang, walaupun di dalam kamar Sam masih merasa khawatir dan tidak bisa tidur. Dia masih terus mencoba menghubungi Afa kembali berharap ada jawaban dari Afa