Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Pulang


__ADS_3

“Kakak pindah 1 jam yang lalu ke kasur. Aku yang suruh ko. Mungkin kakak nggak sadar soalnya kakak terlihat mengantuk sekali. Kita nggak ngapa-ngapain ko.” Jawab Afa menahan tawanya.


“Syukur kalau gitu.” Jawab Shane bernafas lega.


“Terus kalau gitu tadi siapa yang telepon?” Tanya Shane yang kebali teringat ternyata itu telepon genggam milik Afa.


“Bang Sam.” Jawab Afa singkat.


“Kamu masih marah sama Bang Sam?” Tanya Shane.


“Nggak. Tapi mungkin seperti ini saja. Lebih baik ada jarak daripada nanti dia bicara yang nggak-nggak lagi.” Jawab Afa sambil menundukan kepala.


“Biar nanti aku yang bicara.” Kata Shane beranjak dari tempat tidur dan memeluk Afa dari samping.


“Mandi dulu sana! Kakak kan harus siap-siap. Mau aku bantu berkemas?” Tanya Afa.


“Nggak usah. Aku nggak bawa banyak barang ko. Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Jam 7 kita sarapan oke.” Kata Shane yang langsung mengambil kartu akses miliknya dan pergi meninggalkan kamar Afa dan menuju kamarnya.


Shane menelepon Sam menggunakan telepon genggam miliknya. “Hallo”


“Lo kemana aja? Telepon nggak pernah diangkat, pesan ngga pernah dibaca.” Tanya Sam diseberang sana.


“Aku jarang pegang telepon.” Jawab Shane yang memang tadi menyadari banyak panggilan masuk dari Sam yang tidak terjawab.


“Lo dimana? Nggak kerja memangnya hari Senin belum balik ke rumah?” Tanya Sam kembali.


“Ini mau langsung ke kantor.” Jawab Shane.


“Lo lagi sama Afa ya?” Tanya Sam langsung ke intinya.


“Iya. Kenapa?” Tanya Shane kepada Sam.


“Tanyain ke dia kenapa nggak mau jawab telepon dari gue?” Pinta Sam.


“Dia masih kecewa sama lo.” Jawab Shane.

__ADS_1


“Tapi gue kan sudah minta maaf. Sekarang lo dimana? Biar gue kesana! Gue mau ngomong langsung sama Afa.” Tanya Sam.


“Gue udah mau balik ko. Udah dulu ya. nanti kita bahas di rumah aja.” Jawab Shane yang kemudian menutup panggilannya.


Setelah itu Shane langsung mandi dan mengemasi barang-barangnya. Setelah selesai, Shane langsung kembali ke kamar Afa sambil membawa barang-barangnya. Dia hanya membawa sebuah ransel kecil yang dia pakai di punggungnya.


“Fa. Sarapan yuk!” Kata Shane.


“Ayo! Tas kakak mau disimpan disini saja atau gimana?” Tanya Afa yang melihat kekasihnya sudah berkemas.


“Iya, aku titip dulu ya. Nanti habis makan aku ambil terus aku antar kamu ke kantor.” Kata Shane yang kemudian menyimpan ranselnya di sofa. Setelah itu mereka pergi ke restaurant yang ada di hotel tersebut.


Afa dan Shane disajikan berbagai makan makanan oleh manager restoran disana. “Selamat menikmati Pak Shane dan Nona Afa.”


“Terima kasih.” Jawab Shane dan Afa kepada manager tersebut.


“Sayang, makan ini.” Kata Shane yang menyuapi Afa. Afa langsung memakan makanan yang disuapi oleh Shane.


“Enak kak. Kakak makan ini.” Jawab Afa yang kemudian bergantian menyuapi Shane.


“Ya jangan dibayangkan Fa.” Jawab Shane yang juga menahan tawanya.


“Fa, tadi aku menelepon bang Sam. Dia bilang mau kesini ketemu kamu. Katanya mau minta maaf. Tapi aku nggak bilang kamu dimana dan langsung aku tutup panggilannya.” Lanjut Shane yang masih menikmati makanannya.


Seketika Afa terdiam. Pandangannya kosong walaupun mulutnya masih mengunyah makanan. Shane tentu mengerti perubahan mood Afa.


“Sayang. Jangan dipikirn. Apapun keputusan kamu, aku akan dukung kamu. Kalau kamu butuh aku, aku akan siap bersama kamu." Kata Shane yang menyadarkan lamunan Afa.


“Kakak sudah cerita tentang hubungan kita ke bang Sam?” Tanya Afa.


“Belum. Kenapa?” Tanya Shane.


“Kalau kita jujur lebih awal, apakah bang Sam akan berhenti mengejarku? Jujur, aku nggak mau dibilang sana-sini padahal sejak dulu aku memang menganggapnya sahabatku.” Kata Afa yang meletak alat makannya.


“Secepatnya kita memang harus jujur. Aku ngerti ko maksud kamu gimana.” Kata Shane menenangkan Afa dan menggenggam tangan Afa. Afa hanya tersenyum namun pikirannya memang masih berlarian karena Sam.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, mereka langsung menuju kamar Afa untuk mangambil ransel milik Shane.


“Fa. Jangan dipikirin terus ya.” Kata Shane yang kemudian memeluk Afa yang terlihat sedang banyak pikiran.


“Kakak pasti mikir kenapa aku mau sama kakak sedangkan sama bang Sam nggak padahal aku sejak dulu bilang anggap kalian itu sahabatku.” Jawab Afa yang memeluk Shane.


“Afa, ternyata ke arah sana pikiranmu?” Tanya Shane yang mengelus rambut Afa.


“Aku itu sejak dulu udah suka sama kakak. Cuma kakak nggak ada respon dan terkesan cuek. Jadi aku pikir kakak nggak suka sama aku. Makanya aku anggap ya udahlah, mana mungkin juga kakak suka sama aku tapi kalau sama Bang Sam, sejak dulu memang aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Bahkan sampai setelah putus juga aku nggak ada perasaan apapun. Perasaan ke kakak yang dulu pernah ada malah tumbuh lagi. Aku jadi suka kakak lagi.” Pelukan Afa semakin erat.


“Maaf ya, aku nggak datang sejak dulu sampai kamu harus melewati masa sulit karena anak itu. Sekarang sudah ada aku. Jangan dengarkan apa kata orang tentang kamu. Yang tahu kamu sebenarnya hanya dirimu sendiri dan aku percaya kamu.” Kata Shane yang tetap mengelus rambut Afa.


“Aku cuma nggak mau kakak dapat citra buruk karena citraku yang sudah dicap seperti itu sama bang Sam.” Jawab Afa yang melepaskan pelukannya.


“Kamu ini. Aku lebih percaya kamu daripada orang lain sekalipun itu abangku sendiri. Yang menjalani hubungan ini kan kita, bukan mereka. Jadi, mulai sekarang kamu jangan merasa sendiri. Kita pasti bisa lewati ini bersama.” Kata Shane yang kembali menenangkan Afa.


“Terima kasih ya kak. Aku sayang kakak.” Kata Afa yang memeluk Shane kembali.


“Aku juga sayang kamu sayangku.” Shane membalas pelukan Afa.


“Sudah ya, kita berangkat sekarang. Nanti kamu malah terlambat ke kantor di hari pertamamu.” Lanjut Shane.


Shane kemudian dia mengembalikan kartu aksesnya ke resepsionis dan menuju parkiran untuk mengantarkan Afa. Sesampainya di mobil, Shane langsung melajukan mobilnya sambil menggenggam tangan Afa.


“Aku nggak mau jauh dari kamu, tapi kita harus bisa ya. Kamu yang sabar ya. Hari Sabtu aku kesini lagi.” Kata Shane.


“Iya, aku tunggu ya. Jangan nakal ya disana.” Jawab Afa yang mencium punggung tangan Shane yang masih menggenggam tangannya.


“Iya sayangku.” Jawab Shane sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian mereka sampai di kantor tempat Afa bekerja. Shane keluar untuk membukakan pintu mobil dan Afa pun keluar dari dalam mobil.


“Terima kasih kak.” Kata Afa sambil tersenyum.


“Baik-baik ya disini.” Jawab Shane yang mengelus rambut Afa kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya meninggalkan Afa.

__ADS_1


__ADS_2