
"Selamat ya atas hubungan lo sama Shane. Tapi tanpa lo sadari, ada hati yang telah lo patahkan disini. Orang yang selalu menunggu lo setiap hari dan orang yang selalu membicarakan lo tiap detik. Semoga orang ini bisa melewati semuanya sama seperti sebelumnya.”
Afa membaca pesan yang dikirimkan oleh Eric beserta foto yang dia terima. Afa merasa bersalah kepada Sam, namun dia juga tidak bisa terang-terangan memberi tahu bahwa dia peduli pada Sam. Afa membalas pesan dari Eric.
“Tolong jaga dia. Gue sendiri nggak tahu harus apa. Sekarang gue lagi di luar kota dan nggak bisa apa-apa. Sekali lagi, tolong jaga dia ya Bang.”
Setelah itu Afa membaca pesan yang dikirimkan oleh Sam. Ada rasa sakit dihatinya karena secara tidak langsung dia telah membuat Sam patah hati. Namun memang sejak awal Afa hanya menganggap Sam sebagai sahabat.
“Gue sudah memaafkan lo. Berhenti mabuk dan jadilah dewasa!” Akhirnya Afa membalas pesan yang dikirmkan oleh Sam. Setelah sekian lama dia tidak mengabaikan semua pesan yang dikirimkan oleh Sam.
Tiba-tiba telepon genggam milik Afa berbunyi. Sekarang adalah panggilan dari Mamanya Artha. Afa mengabaikan panggilan tersebut sampai panggilannya tidak terjawab.
“Online tapi nggak dijawab Fa? Ada hal penting yang ingin Mama tanyakan.” Pesan yang dikirimkan oleh Mamanya Artha muncul pada bilik pemberitahuan di layar telepon genggam milik Afa.
Tidak lama kemudian Mamanya Artha kembali menelepon Afa. Kali ini mau tidak mau Afa harus menjawab panggilan tersebut.
“Hallo.” Kata Afa.
“Hallo Fa, kamu sudah nggak mau berhubungan lagi sama Mama? Ko kamu mengabaikan telepon dari Mama? Memang Mama salah apa sama kamu Fa?” Pertanyaan Mamanya Artha menyerbu telinga Afa.
“Tadi Afa lagi nanggung di kamar mandi Mam. Kenapa Mam?” Tanya Afa.
“Kamu sudah punya pacar baru Fa?” Tanya Mamanya Artha yang langsung ke titik permasalahannya.
__ADS_1
“Memangnya kenapa Mam? Kan Afa jomblo.” Tanya Afa kembali kepada Mamanya Artha.
“Kamu ko semudah itu menggantikan Mas? Mama tahu kamu jomblo tapi ini 1 bulan saja belum kamu sudah ganti yang baru. Apa kamu sedekat itu dengan pacar baru kamu? Atau kalian sudah dekat sejak kamu masih pacarana sama Mas?” Tanya Mamanya Artha.
“Shane bahkan lebih dulu mengenalku dibanding kalian.” Gumam Afa dalam hati.
“Mama tahu darimana?” Tanya Afa yang penasaran karena Afa sendiri belum pernah memberitahukankepada siapapun selain Imel yang memang berada di tempat.
“Mas yang kasih tahu. Katanya Mas juga kenal sama pacar baru kamu. Kamu beneran sudah punya pacar baru Fa? Kamu ko tega sih? Kamu nggak mikirin perasaan Mas yang masih sayang sama kamu Fa.” Mamanya Artha menyerbu Afa dengan pertanyaan dan penyataan.
“Disaat Mas melakukan hal bodoh itu, apakah Mas mikirin perasaan aku? Disaat Mas lebih milih Deby apakah kalian mikirin perasaan aku? Sekarang aku sudah bahagia kenapa aku juga disalahkan? Memang aku nggak boleh bahagia?” Tanya Afa.
“Ya boleh saja Fa. Tapi ibarat kuburan, tanahnya belum kering kamu sudah cari yang baru.” Jawab Mamanya Artha.
“Kamu kenapa ngomong begitu seolah Mas memang pendosa besar dan kamu orang yang suci yang…”
“Aku juga bukan orang yang suci Mah. Tapi bukan berarti kalian bisa menginjak harga diriku. Sudah jelas anak kesayangan Mama yang menyulut api. Kenapa harus aku yang memadamkannya? Sikap kalian yang seperti ini justru membuat apinya semakin besar.” Kata Afa yang memotong pembicaraan Mamanya Artha dan kemudian menutup panggilannya.
Afa berdiri di balkon kamarnya. Menatap bintang yang bersinar seolah sedang menghibur dirinya. Biasanya ada Sam yang membuat banyak tingkah konyol untuk menghibur dirinya. Namun kini untuk sekedar bercerita saja dia tidak bisa.
“Sayang, apakah kamu baik-baik saja?” Afa membaca pesan yang dikirimkan oleh Shane.
“Aku baik-baik saja kak.” Balas Afa dengan emoticon senyum di akhir kalimatnya.
__ADS_1
“Apa perlu aku kesana sekarang? Ada keberangkatan kereta nanti malam dan aku akan sampai disana besok pagi untuk menghiburmu.” Balas Shane yang seolah tahu bahwa Afa sedang tidak baik-baik saja.
“Nggak usah kak. Aku baik-baik saja selama ada kakak di hidup aku. Kakak tidur sana! Sudah malam dan besok harus bekerja.” Balas Afa menenangkan Shane.
“Berceritalah jika memang kamu ingin bercerita. Saat bercerita kamu boleh menempatkanku sebagai sahabat atau kekasihmu. Aku akan selalu mendengarkan ceritamu seperti dulu.” Balas Shane kembali.
“Terima kasih kakak sayang atas niat baiknya.” Balas Afa dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Iya Fa. Jangan jadikan hubungan kita sebagai penghalang untuk kamu berbagi cerita. Good night Afa. Jangan tidur terlalu larut. Aku sayang kamu.” Balas Shane.
“Iya kak. Good night too. Aku juga sayang kakak.” Afa mengakhiri percakapannya dengan Shane melalui pesan.
Afa melamun sambil masih menatap bintang-bintang di langit. Lagi-lagi dia harus kembali mengingat masa lalunya dengan Artha. Memang benar Artha adalah pacar pertamanya Afa dan mereka cukup lama menjalin hubungan hingga memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius. Itu yang membuat Afa selalu mengingatnya kembali lagi dan lagi.
“Artha, Artha. Di akhir cerita kita kamu membuatku gila. Di perpisahan kita, kamu membuatku semakin gila. Tidak bisakah kamu menjalani kehidupanmu sendiri dengan semua hasil dari kesalahanmu yang telah kamu perbuat? Kenapa kamu masih saja menyeretku masuk kedalam masalahmu?” Gumam Afa dalam hati yang masih menatap bintang di langit.
Afa masih melamun dengan berbagai masalahnya dengan Artha yang tidak menemukan titik terang. Ditambah lagi sekarang dia juga merasa bersalah dengan Sam. Ada kegundahan di hatinya mengenai hubungannya dengan Shane apakah merupakan pilihan yang tepat atau bukan.
Sam masih saja mabuk di club malam walaupun sudah berkali-kali dilarang oleh Eric. Sam masih sangat terpukul dengan berita dari Shane mengenai hubungannya dengan Afa. Namun, dia juga tidak dapat melakukan apapun karena itu juga menyangkut kebahagiaan adiknya.
Shane masih bergelut dengan pikirannya yang masih merasa tidak enak dengan Abangnya. Namun juga dia tidak bisa menyerahkan Afa begitu saja karena dia begitu mencintai Afa. Disisi lain dia juga tahu bahwa Maminya kurang menyetujui hubungannya. Apalagi jika Papinya tahu.
Artha masih saja terpuruk karena perbuatannya sendiri. Dia masih sering bersedih kepada Mamanya yang membuat Mamanya harus turun tangan membujuk Afa. Sedangkan Papanya sudah tidak ingin ikut campur karena memang sejak awal semua permasalahan ini adalah salah anaknya.
__ADS_1