
1 bulan berlalu. Afa sudah menyelesaikan magangnya bersama Faris sedangkan Imel sudah lebih dulu kembali ke Bandung sejak 1 minggu sebelum kepulangan mereka. Shane menjemput Afa untuk pulang. Mereka akan menggunakan jalur udara untuk mempersingat waktu.
Setelah menempuh jarak 1 jam lebih, akhirnya mereka sampai di Soekarno Hatta International Airport. Setelah itu mereka menuju stasiun kereta api untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung. Kurang lebih mereka akan menempuh perjalanan selama 2 jam.
“Kenapa kakak ingin kita menggunakan pesawat?” Tanya Afa yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Shane.
“Untuk mempersingkat waktu.” Jawab Shane sambil menggenggam tangan Afa.
“Kenapa kita nggak pakai bus atau travel saja? Kenapa harus pakai kereta untuk melanjutkan perjalanan?” Tanya Afa kembali.
“Karena 1 bulan yang lalu kamu naik kereta dalam waktu yang lama bersama pria lain. Sedangkan aku belum pernah melakukan perjalanan seperti itu bersamamu.” Jawab Shane.
Afa mengangkat kepalanya, menjauhkannya dari bahu Shane. Afa tersenyum sambil melihat ke arah wajah kekasihnya.
“Kamu kenapa?” Tanya Shane salah tingkah.
“Sungguh cemburuan sekali pacarku ini.” Kata Afa menahan tawanya.
Shane langsung memeluk Afa dari samping. Dia tahu memang sebenarnya dia adalah orang yang sangat pencemburu. Namun dia tidak ingin mengakuinya secara terang-terangan.
Tidak terasa akhirnya mereka sampai di kota tujuan. Shane yang sudah memarkirkan mobilnya di Stasiun langsung mengajak Afa masuk ke dalam mobilnya. Dia membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Afa untuk masuk.
Setelah itu Shane mengantarkan Afa pulang. Tidak memakan waktu begitu lama, mereka sampai di depan gang rumah Afa.
"Aku antar ke dalam ya." Kata Shane.
“Nggak usah. Nanti Ibuku curiga sama hubungan kita. Soalnya aku juga belum jelasin ke Ibuku kalau aku sama Artha udahan.” Jawab Afa.
“Kapan kamu mau kenalin aku ke Ibu kamu? Kamu malah sudah kenal dekat dengan Mami dan Papi. Bukankah itu namanya curang?” Tanya Shane.
“Secepatnya yang aku bisa. Kasih aku waktu 1 bulan untuk bereskan semua masalahku sama Artha.” Jawab Afa kembali.
__ADS_1
“Oke, baiklah. Kamu hati-hati di jalan ya.” Kata Shane yang kemudian membantu Afa menurunkan barang-barangnya.
Setelah itu Shane melajukan mobilnya kembali untuk pulang. Sedangkan Afa langsung masuk ke dalam gang rumahnya. Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya dia melihat Artha dan keluarganya sedang bertamu ke rumahnya.
“Fa! Sudah pulang?” Tanya Ibunya Afa yang saat itu sedang memberikan minum kepada Artha dan keluarganya. Afa kemudian mengangguk dan menyalami semuanya.
“Kamu tahu Artha mau kesini ko nggak ngabarin Ibu? Jadi kan Ibu nggaka da persiapan apa-apa.” Tanya Ibunya Afa yang sedikit marah karena tidak bisa memberikan jamuan seperti biasanya.
“Lah? Afa aja nggak tahu ko Mama mau pada kesini.” Jawab Afa yang mengambil posisi duduk di samping Ibunya.
"Iya Bu, kami kesini memang nggak memberi kabar kepada Afa. Karena memang kami mau kasih kejutan ke Afa. Kami kira kejutannya gagal karena Afa nggak ada di rumah, tapi ternyata Afa pulang juga. Kalau jodoh memang nggak akan kemana ya Bu.” Jawab Mamanya Artha.
“Senyumanmu itu sunggu penuh dusta.” Gumam Afa dalam hati.
“Ya sudah, silahkan makan dulu! Pasti capek kan jauh-jauh dari Jakarta. Seadanya ya. soalnya nggak tahu mau pada kesini.” Kata Ibunya Afa.
“Afa ikut makan juga ya. Pasti capek kan sudah perjalanan jauh dari Jogja.” Kata Mamanya Artha yang mengambilkan piring untuk Afa.
“Sekitar 4 jam lebih Pah.” Jawab Afa yang kemudian mengambil nasi di piringnya.S
“Loh ko bisa cepat gitu?” Tanya Papanya Artha kembali.
“Iya, tadi pakai pesawat sampai Jakarta, habis itu nyambung kereta.” Jawab Afa yang kemudian mulai menyantap makanannya.
“Loh, ko Masnya nggak diambilkan makan Fa? Nih ambilkan mas makan dulu.” Kata Mamanya Artha yang memberikan piring kosong ke Afa agar Afa mengambilkan makan untuk Artha.
Sejak pertunangan mereka memang Afa terbiasa belajar melayani Artha layaknya suami. Ketika hendak makan, Afa biasanya mengambil makanan untuk Artha terlebih dahulu sebelum mengambil bagiannya. Jika ada kekurangan, Afa biasanya mengambilkan kembali makanan untuk Artha. Saat itu dengan terpaksa dan dengan wajah yang malas Afa langsung mengambilkan makanan untuk Artha. Dia tidak banyak bertanya dan langsung mengambilkan apa saja yang bisa dia raih. Setelah itu dia memberikan piring berisi makanan kepada Artha.
“Terima kasih ya.” Jawab Artha sambil tersenyum.
Afa hanya terdiam. Memang sejak awal dia malas berdrama dengan mereka. Namun apalah daya karena Ibunya belum tahu bahwa mereka sudah berpisah.
__ADS_1
“Habis ini kita jalan yuk! Sudah lama Mama nggak ajak kamu jalan.” Ajak Mamanya Artha.
“Aku nggak bisa. Soalnya ada tugas yang harus aku serahakn segera.” Jawab Afa yang secara terang-terangan menolak ajakan Mamanya Artha.
“Tugas kan bisa nanti malam Fa. Kasian sudah datang jauh-jauh tapi kamunya malah nggak mau diajak jalan.” Kata Ibunya Afa.
“Iya loh Fa. Mau kan?” Tanya Artha.
“Dasar ular. Bisa-bisanya ngajak jalan padahal dia tahu kalau aku sudah punya pacar dan masih punya muka aja lagi bersikap baik dihadapanku.” Gumam Afa dalam hati.
“Nanti tugasku nggak selesai kalau sekarang aku main. Lain kali saja ya.” Tolak Afa kembali.
“Ayo lah Kak. Arya kangen nih jalan-jalan sama kakak. Dari kemarin Arya ajakin Mama sama Papa kesini tapi pada susah karena Papanya sibuk. Sekarang Papa nggak sibuk masa Kakak yang sibuk sih?” Rengek Adiknya Artha.
“Ya sudah kalau gitu. Tapi jangan lama-lama ya!” Jawab Afa terpaksa.
“Hore!” Sorak adiknya Artha.
Setelah selesai makan, mereka akhirnya bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan. Mamanya Artha memerintahkan Afa satu mobil dengan Artha sedangkan Ibu dan Adiknya Afa menaiki mobil yang dikendarai oleh Papanya Artha.
“Aku nggak bisa sama Mama aja semobil? Mas biar sama Arya.” Tanya Afa.
“Ma. Arya kan kangen sama Kak Afa. Masa Arya pisah mobil sih? Arya ikut Kak Afa sama Mas aja ya.” Rengek Arya kembali.
“Arya sama Mama saja. Mas kan juga kangen sama Kak Afa. Masa kita gangguin sih? Arya nurut ya sama Mama!” Kata Mamanya Artha yang memaksa Arya untuk mengerti. Dengan berat hati Arya pergi bersama orang tuanya sedangkan Afa hanya berdua dengan Artha.
“Jangan jutek gitu dong! Aku juga mau gimana lagi? Mama bilang kangen mau ketemu kamu.” Kata Artha yang kini sudah bersama Afa di dalam mobil.
“Ya kalau bukan karena lo juga nggak mungkin begini. Pengecut! Cuma bisa jadikan Mamanya sebagai tameng.” Gumam Afa dalam hati.
“Aku nungguin kamu dari tadi di depan gang. Pesan aku juga nggak dibaca-baca. Ternyata lagi senang-senang sama mantan ya? Pantas aja aku nggak boleh ke rumah. Ternyata lagi selingkuh sama mantannya di Rumah.”
__ADS_1