
Clara meninggalkan ruangan Eric dan menuju ke dalam ruangannya sendiri. Dia langsung duduk disamping Afa dengan wajah yang berseri.
“Saya sudah tahu semuanya dari Pak Eric. Kenapa kamu nggak kasih tahu saya sebelumnya?” Tanya Clara kepada Afa sambil berbisik.
“Hah? Apa? Gimana? Tahu apa? Kasih tau semuanya apa? Ya Tuhan. Cobaan apa lagi yang akan hambamu ini terima?” kata Afa dalam hati.
“Maaf, gimana Bu?” Tanya Afa yang kebingungan.
“Kamu adiknya Pak Eric kan? Kamu ko nggak bilang sama saya?” Tanya Clara dengan sangat ramah.
“Adik?” kata Afa yang semakin bingung.
“Iya. Kalau sama saya jujur saja. Saya juga nggak akan marah ko.” Kata Clara sambil tersenyum sangat ramah kepada Afa.
“Iya Bu.” Jawab Afa yang tersenyum canggung.
“Ini drama apa lagi Bang Eric? Adik dari mana sih Bang? Memang ada yang percaya kalau kita adik kakak tapi wajahnya berbeda 180 derajat? Ada-ada aja drama kantor.” Pikir Afa dalam hati.
Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Itu adalah waktunya untuk pulang. Para karyawan sudah banyak yang meninggalkan ruangan. Tapi ada beberapa yang masih saja duduk didepan computer milik mereka masing-masing.
“Fa, pulangnya bareng siapa?” Tanya Clara dengan sangat ramah.
“Saya pakai ojeg bu.” Jawab Afa yang sedang membereskan barangnya.
“Ko pakai ojeg? Kenapa nggak bareng Pak Eric?” Tanya Clara keheranan namun masih tetap tersenyum.
“Ga apa-apa bu. Memangnya kenapa Bu?” tanya Afa.
“Nggak apa-apa. Kalau sudah selesai jam kerja, jangan panggil saya Ibu ya. Saya masih muda ko. Panggil Kakak saja!” Ujar Clara.
“Oh iya Kak siap.” Jawab Afa yang kemudian mereka berdua meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Mereka bertemu dengan Sam dan Eric ketika mereka hendak keluar dari ruangannya.
“Sore Ko Sam, Pak Eric.” Kata Clara ramah.
“Sore.” Jawab Eric dan Sam.
“Yuk pulang!” Ajak Sam yang langsung melingkarkan tangannya di bahu Afa.
“Mari Bu, kami duluan.” Kata Afa pamit kepada Clara dengan sangat canggung.
Clara hanya mengangguk. Sam, Afa dan Eric jalan bertiga meninggalkan Clara. Afa mencoba melepaskan tangan Sam, namun sepertinya tangannya sudah diberikan lem korea sehingga sulit sekali untuk melepaskannya. Mereka pun berjalan menuju parkiran.
“Kalau dia adiknya Pak Eric, tapi kenapa Ko Sam akrab banget? Apa memang circle orang kaya pasti saling kenal sama seluruh keluarga atau jangan-jangan Ko Sam naksir sama adiknya Pak Eric? Soalnya nggak biasanya Ko Sam murah senyum gitu sama perempuan.” Gumam Clara yang masih saja diam ditempat memikirkan Afa.
Afa kini sudah bersama Sam sedangkan Eric naik mobilnya sendiri. Sam hendak mengantarkan Afa pulang. Dalam perjalanan mereka mengobrol banyak sekali topik yang acak.
“Bang, masa tadi Bu Clara nanya sama gue katanya kenapa gue nggak bilang kalau gue adiknya Bang Eric. Kan gue jadi bingung ya. Perasaan dari muka aja udah nggak mirip. Tapi dia percaya aja apa yang bang Eric bilang.” Kata Afa bercerita pada Sam.
“Hah? Ko bisa sih Bang Eric bilang gitu? Nyebarin gossip yang nggak benar aja.” tanya Afa.
“Ya sebenarnya itu kenyataannya. Kalian emang udah kayak gue sama Lo adik kakak. Kita juga beda Ibu. Nggak ada yang salah. Dianya aja yang salah persepsi.” Kata Sam dengan serius.
“Iya juga ya? Kita memang sudah seperti kakak adik dan kita juga berbeda Ibu.” Kata Afa sambil tersenyum.
“Pintar cari alasan emang Lo.” Lanjut Afa.
“Fa! Lo nggak ada niatan cari pengganti Artha?” tanya Sam tiba-tiba.
“Nggak tau. Gue memang udah kecewa banget. Tapi untuk memulai dengan yang baru kayaknya juga akan sulit.” Jawab Afa yang kemudian sedikit terdiam.
“Di aitu nggak pantas untuk Lo pikirin lagi Fa. Jadi Lo harus move on!” Kata Sam.
__ADS_1
“Menurut gue, move on bukan tentang menggantikan yang lama dengan yang baru, gue yang sudah nggak peduli lagi sama Artha gue rasa itu bukti kalau gue sudah berhasil move on.” Jawab Afa.
“Memang tipe cowok Lo kayak gimana sih Fa? Gue harus gendut dulu biar bisa jadi cowok Lo?” tanya Sam yang kesal karena perasaannya tidak pernah dibalas.
“Emang Lo benar-benar suka sama gue ya?” tanya Afa penasaran.
“Iya. Sejak dulu dan sampai saat ini nggak berubah.” Jawab Sam dengan sangat serius.
“Tapi guenya nggak suka.” Jawab Afa yang kemudian tertawa lantang.
“Maaf ya Bang. Terlepas dari apa yang Lo bilang benar atau cuma bercanda, gue belum bisa balas itu semua. Bukan karena Lo yang kurang, tapi gue yang serba kekurangan untuk bersanding dengan Lo. Gue selalu merasa nggak pantas. Jangankan untuk jadi pacar, untuk berteman seperti ini saja gue merasa ini hanya mimpi yang harus gue relakan kalau suatu saat nanti hilang tak berbekas disaat kita semua sudah tersadar.” Gumam Afa dalam hati.
Tiba-tiba Afa tanpa sadar memegang liontin pada kalung yang dia pakai. Ya, itu kalung yang diberikan Shane sebagai kado ulang tahunnya. Tiba-tiba Afa memikirkan Shane.
“Iya gue tahu itu kalung dari Shane. Gue juga bisa belikan yang lebih bagus dari itu.” Kata Sam yang ternyata sedari tadi memperhatikan Afa.
“Apaan sih?” Afa tersadar dari lamunannya dan salah tingkah.
“Jujur deh Fa! Lo suka sama Shane kan makanya nggak bisa terima gue?” tanya Sam sedikit kesal.
“Ngaco!” Jawab Afa tegas.
“Udah ah nggak usah bahas suka-suka lagi. Lo itu udah tua. Waktunya cari istri! Kasihan Mami ingin punya cucu.” Lanjut Afa mengalihkan pembicaraan.
“Gue maunya Lo yang jadi Ibu dari anak-anak gue nanti.” Jawab Sam yang terlihat serius.
“Gue maunya mapan dulu sebelum jadi istri orang.” Jawab Afa sambil tersenyum geli.
“Lo itu kalau jadi istri gue nggak usah susah payah kerja tau. Lo tinggal melakukan hal yang Lo suka. Mau rebahan, belanja, arisan, bebas.” Kata Sam sambil memperhatikan jalan.
“Kalaupun gue punya suami yang kaya raya seantero jagad raya, gue akan tetap kerja Sam. Gue kerja karena menurut gue wanita itu memang harus bisa mandiri secara financial. Jaga-jaga kalau suami berpulang lebih dulu ke sisi Tuhan atau kalau suami berpulang ke rumah wanita lain.” Jawab Afa yang seolah menggurui Sam.
__ADS_1
“Lo itu orangnya terlalu over thinking. Nggak semua laki-laki itu tukang selingkuh. Walaupun banyak. Mulai sekarang coba buka hati Lo untuk orang lain. Walaupun itu bukan untuk gue, gue pasti selalu mendukung Lo ko.” Kata Sam yang mencoba untuk menyadarkan Afa bahwa di dunia ini masih banyak laki-laki setia.