Pesona Wanita Yang Dikhianati

Pesona Wanita Yang Dikhianati
Kepergian


__ADS_3

“Duh ada yang senyum-senyum sendiri.” Sindir Faris.


“Eh, udah bangun?” Tanya Afa kaget.


“Iya, perut bunyi. Mau makan nggak?” Tanya Faris sambil menepuk perutnya.


“Boleh. Yuk!” Ajak Afa.


Mereka berdua akhirnya pergi ke gerbong kereta makan. Disana Afa memesan Nasi Ayam Lada Hitam sedangkan Faris memesan Nasi Goreng. Hampir 10 menit mereka menunggu akhirnya makanannya dihidangkan.


“Nanti kamu nginep dimana Ris?” Tanya Afa sambil menikmati makanannya.


“Aku untuk sementara di hotel dulu sambil nyari tempat kost. Kalau kamu jadi di rumah Imel?” Jawab Faris.


“Iya aku di rumah Imel. Tapi kayaknya habis itu aku mau cari tempat kost juga. Soalnya nggak enak kalau di rumah Imel terus. Tapi belum tahu juga sih.” Jawab Afa.


“Kenapa berangkat hari ini? Padahal masih lama loh ke Senin.” Faris bertanya sambil menatap ke arah Afa.


“Mau liburan dulu. Sumpek di rumah terus. Kamu sendiri kenapa hari ini?” Kata Afa sedikit tertawa.


“Ya biar bareng sama kamu lah.” Gumam Faris dalam hati.


“Mau nyari kost dulu biar nggak kelamaan di hotel Fa.” Jawab Faris yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya.


Afa hanya menganggukkan kepalanya sambil menikmati makanannya. Faris menatap dalam ke arah Afa. Dia memberanikan diri untuk menanyakan hal yang mengganggu fikirannya. “Fa, nomermu kenapa nggak aktif ya? Aku jadi susah kalau mau menghubungi kamu harus ke Imel jadinya.”


“Oh itu, aku sedang ingin menjauh dari keramaian. Bukan keramaian yang nyata, tapi keramaian di media sosial. Aku ada media sosial baru ko. Tapi memang cuma Imel yang tahu.” Jawab Afa dengan sangat santai.


“Kalau aku nggak boleh tahu?” Tanya Faris sedikit berharap Afa akan memberikan media sosialnya yang baru.


“Nggak.” Jawab Afa sambil tersenyum menahan tawa.

__ADS_1


“Memang kamu ingin menjauh dari aku juga?” Tanya Faris memelas.


“Nggak juga, kan kita nanti setiap hari ketemu. Jadi untuk sementara kalau ada apa-apa kamu ke Imel dulu saja ya.” Jawab Afa yang teguh pada pendiriannya.


Faris menghela nafas panjang. Ada kekecewaan di hatinya. Tapi dia tidak bisa berbuta apa-apa lagi karena memang kenyataannya dia tidak berhak untuk memaksa Afa.


*** Di Rumah Shane dan Sam ***


“Mau kemana?” Tanya Shane yang melihat Abangnya membawa kunci mobil.


“Mau ke rumahnya Afa.” Jawab Sam tergesa-gesa.


“Percuma! Dia nggak ada disana.” Jawab Shane yang membantingkan tubuhnya diatas Sofa.


“Lo tau darimana?” Tanya Sam penasaran.


“Soalnya aku sudah kesana dan memastikan Afa nggak ada di rumahnya.” Kata Shane dengan tatapan kosong.


“Nggak, dia pergi. Nggak tahu kemana?” Shane mengambil remote TV dan kemudian menyalakannya.


“Pergi kemana? Ko lo nggak cegah dia?” Sam terlihat kesal.


“Nggak tau kemana. Dia pergi gitu saja. Tadi aku ngikutin dia ke stasiun kereta.” Shane masih mencari saluran TV.


“Imel? Kalau ngomong yang jelas dong!” Sam terlihat tambah kesal.


“Bukan. Laki-laki. Nggak tahu siapa.” Jawab Shane sambil mematikan TV dan melempar remote ke sofa.


“Nggak ngerti gue sama pemikiran anak itu. Maunya apa sih tiba-tiba menghilang gitu? Padahal malamnya lagi chat sama gue terus main nggak balas gitu aja.” Omel Sam sambil melihat layar telepon genggam miliknya.


“Coba lihat bang chat kalian.” Pinta Shane mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Akhirnya Sam memberikan telepon genggam miliknya. Dia masih dalam pengaruh amarah karena mendengar Afa pergi dengan laki-laki lain. Shane fokus membaca isi pesannya. Lalu dia tertawa. “Berarti dia pergi bukan karena aku loh bang. Ini murni karena kamu pasti.”


“Kenapa gue? Memang gue salah apa?” Tanya Sam yang bertambah semakin marah.


“Kamu kayak gitu sama saja menganggap dia perempuan gampangan loh bang. Wajar sih kalau Afa sampai sakit hati.” Shane tersenyum kecut ke arah Sam.


“Tapi memang nyatanya seperti itu.” Jawab Sam yang tetap membenarkan dirinya.


“Tapi konteksnya beda bang. Kita kan sahabat dia. Wajar dia mau jalan sama siapa saja. Bukan hak kamu untuk menilai dia seperti itu. Kamu Chat begitu seolah Afa adalah pacar kamu yang selingkuh sama aku bang. Itu mungkin akan bikin dia sangat kecewa bang. Pantas saja dia pergi menghindari aku.” Kata Shane yang kecewa dengan tingkah Abangnya.


“Lo juga pernah kayak gitu waktu Afa hujan-hujanan. Cuma karena lo cemburu sama gue kan? Memang apa bedanya lo sama gue?” Sam memberi pembelaan.


“Bedanya aku pertama kali buat dia kecewa dan kamu nggak belajar dari kesalahanku bang.” Jawab Shane yang kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Sam.


Sam masih duduk terdiam dengan pikiran yang kosong. Dia merasa sedikit bersalah walaupun rasa kesalnya masih memenuhi ruang pikirannya. Sesekali dia merasa tidak peduli dan sesekali dia menyesal.


“Kamu dimana Fa? Apakah kamu baik-baik saja?” Pikir Shane dibawah guyuran shower.


Shane hendak mendinginkan pikirannya. Dia sangat khawatir Afa akan melakukan hal yang aneh seperti dulu saat dia putus dari Artha. Dia sangat ketakutan hal itu akan terulang kembali ketika Afa merasa direndahkan oleh Sam.


Saat ini Shane tidak peduli dengan laki-laki yang pergi bersama Afa. Dia justru memikirkan keadaan Afa yang apakah dia baik-baik saja atau tidak. Sementara Shane tidak bisa melakukan apa-apa untuk Afa.


Seusai mandi, Shane melihat gallery pribadi miliknya. Tidak banyak foto Afa yang dia miliki karena Afa memang jarang difoto dengan menunjukan wajahnya. Tapi ada kenangannya bersama Afa saat kejutan ulang tahun Afa yang masih dia simpan.


Pikirannya terus memutar ulang kenangan manis bersama Afa seolah itu adalah kenangan terakhirnya. Ya, Shane memang sangat ketakutan jika Afa benar-benar tidak ingin menemuinya lagi. Karena sebenarnya masih banyak yang ingin dia sampaikan kepada Afa.


“Tak mengapa bagiku mencintaimu pun adalah bahagia untukku, bahagia untukku. Ku ingin kau tahu diriku disini menanti dirimu meski ku tunggu hingga ujung waktuku dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya.”


Shane memutar lagu yang dia berikan tadi sore kepada Afa. Itu adalah lagu dari grup band Ungu. Lagu itu mewakili apa yang dia rasakan saat ini.


Shane merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia memejamkan matanya dan mengingat kembali wajah Afa. Sesekali dia tersenyum. Hingga akhirnya ada air mata sedikit keluar dan mengalir melalui celah ekor matanya. Shane benar-benar merasa kehilangan Afa saat ini.

__ADS_1


Dengan semua hal yang dia miliki saat ini, dia bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk melepas rindunya kepada Afa. Dia malah merasa apa yang dia miliki saat ini sangat tidak berguna sama sekali.


__ADS_2