Petualangan Liu Lin

Petualangan Liu Lin
Part 36


__ADS_3

Semua orang langsung berhamburan keluar dari kedai makan, mereka melarikan diri karena takut dengan ke-20 orang yang baru saja muncul tiba-tiba, terlebih setelah melihat pakaian yang mereka gunakan, membuat nyali semua orang pun menjadi ciut, mereka memilih untuk menyelamatkan diri, dibanding harus berhadapan dengan orang-orang dari kelompok tengkorak merah.


Hal itu sangat berbeda jauh dengan 4 orang yang kini masih duduk dengan sangat santai di meja yang berada paling ujung, dia adalah Yan Chen bersama ketiga Yan bersaudara.


Keempatnya seolah tidak terganggu dengan kehadiran ke 20 orang itu, mereka masih menikmati makanan sambil sesekali tertawa, entah apa yang tengah mereka bicarakan hingga terlihat begitu bahagia dan mengabaikan peringatan yang diberikan oleh orang-orang dari kelompok tengkorak merah itu.


Beberapa orang yang melihat apa yang dilakukan oleh keempat orang itu pun menggelengkan kepalanya dengan tidak berdaya.


"Sepertinya orang-orang itu belum mengenal kelompok tengkorak merah, sehingga masih bisa bersantai menikmati makanan, layaknya tidak ada apa-apa." bisik salah seorang kepada temannya.


"Jangan berisik! orang-orang dari kelompok tengkorak merah itu bisa saja membantai kita. Lebih baik kau diam dan lihat apa yang akan terjadi." ucap kawannya.


Akhirnya dia pun diam dan terus menatap keempat orang yang masih bersantai di meja mereka, dengan raut wajah yang berbeda-beda.


"Apakah orang-orang itu tidak takut mati? Lihatlah! mereka bahkan masih sangat santai Menikmati makan, sementara orang-orang dari gerombolan tengkorak merah telah memberikan peringatan." ucap seseorang.


Sedangkan pemilik kedai terlihat gemetar, dia benar-benar sangat takut dengan tamu yang baru saja memasuki tempat usahanya, namun meski dengan langkah yang sangat pelan, dia pun berusaha untuk menyambut kedatangan ke-20 orang gerombolan tengkorak merah itu dengan sangat ramah.


"Selamat datang tuan-tuan! silahkan duduk." ucapnya.


Ketua dari gerombolan itu pun langsung mendorong si pemilik kedai hingga tersungkur di lantai.


"Cepat ambilkan makanan yang paling enak dan juga arak yang paling bagus di tempat ini!" ucapnya memberikan perintah sambil mengangkat sebelah kakinya dan menginjak kursi.


Pemilik kedai itu pun segera bangun dengan terpontang-panting, dia berlari menuju ke dapur untuk menyampaikan pesanan dari orang-orang itu.


Brak...

__ADS_1


Tiba-tiba saja 5 orang dari gerombolan itu mendekati meja yang ditempati oleh Yan Chen beserta ketiga Yan bersaudara. "Kenapa kalian masih berada di sini? Harusnya kalian sudah pergi! apa kalian tidak tahu siapa kami?" tanyanya dengan mata yang menyorot merah.


Yan Dong melirik sekilas sambil menyunggingkan senyuman sinis, "Hanya seekor semut, Kenapa kami harus takut dengan peringatan yang kau berikan? justru kalianlah yang harusnya tidak mengganggu kesenangan kami!"ucapnya memprovokasi.


"Dasar bodoh! Rasakan seranganku!" ucap salah seorang dari kelima gerombolan tengkorak merah itu seraya menarik pedangnya.


Trang...


Tiba-tiba saja pedang itu pun terjatuh, bahkan kini terlihat retakan pada setiap bagiannya, ketika orang itu berusaha untuk menarik pedangnya, sebuah kekuatan yang tidak terlihat, langsung menyerang ke arah pedang yang dicabutnya, bahkan tangan yang tadi memegang pedang itu pun terasa kebas dan kesemutan hingga membuat orang itu hampir saja berteriak.


Keempat temannya yang melihat hal aneh pun segera membantu, mereka dengan cepat menarik pedang yang ada di pinggang mereka dan langsung menodongkannya ke arah ke empat orang yang masih duduk santai di atas kursi mereka.


"Apa yang kau lakukan kepada temanku, hah? Apa kau tak takut mati?" tanyanya seraya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan berniat untuk menyerang Yan Chen karena dirasa bocah itulah yang paling rendah tingkat kultivasinya dibandingkan ketiga orang yang lainnya.


Ketiga Yan bersaudara terlihat menyunggingkan senyuman manis, sepertinya orang-orang dari gerombolan tengkorak merah itu salah Mencari Lawan, mereka tidak tahu jika yang mereka anggap paling lemah adalah yang paling kuat diantara keempatnya.


Sreeet...


Sreeet...


Srett...


Bruk...


Bruk...


Keempat orang itu pun langsung terjatuh dengan tubuh yang penuh dengan sayatan, dan kepala yang terpisah dari tubuhnya, membuat 15 orang kawannya yang lain membelalakkan mata tak percaya, hanya dengan satu kibasan tangan, berhasil membunuh empat orang sekaligus.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun bangkit dari kursi yang didudukinya dan langsung mengarahkan Aura penekanan yang ditambah dengan Aura membunuh ke arah Yan Chen, sedangkan bocah itu hanya tersenyum menyeringai.


Apa yang harus disombongkan dengan ranah jenderal tahap menengah? Sedangkan dia adalah seorang kultivator yang telah berada di ranah dewa-dewi tahap 7, tentu saja Aura yang dikeluarkan orang itu tidak membuat Yan Chen takut. Bocah itu malah tersenyum sinis seolah Tengah menertawakan kebodohan yang dilakukan oleh ke-15 orang yang kini tengah berdiri mengelilinginya.


Orang yang pertama kali hendak menyerang Yan Chen pun segera bergabung dengan ke-15 orang temannya, dia sangat yakin, meskipun bocah itu sangat kuat, tapi belum tentu bisa melawan ke-16 orang yang kini berdiri di hadapannya.


Sedangkan ketiga Yan bersaudara masih tetap dalam posisi duduknya, sambil sesekali melirik ke arah Yan Chen.


"Apakah kau ingin bersenang-senang, Chen'er? ataukah kau ingin kami melenyapkan ke-16 orang itu?" tanya Yan Lu.


Yan Chen hanya menggelengkan kepalanya, sepertinya bocah itu telah lama tidak merenggangkan ototnya, sehingga butuh sesekali sebuah latihan untuk peningkatan kekuatan fisiknya, dia berjalan mendekat ke arah ke 16 orang itu dengan kedua tangan yang disimpan di belakang punggung.


Bocah itu tidak menampakan ketakutan sama sekali, dia bahkan dengan santai menggerakan jari tengah dan juga jari telunjuknya menandakan sebuah tantangan untuk menyerangnya, ke-16 orang itu pun saling melirik sebelum akhirnya mereka melancarkan serangan secara bersamaan menggunakan pedangnya.


Trang...


Trang...


Trang...


Terdengar suara pedang mencicit, orang-orang yang hadir di sana pun nampak membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang kini mereka lihat, bagaimana mungkin bocah berusia 9 tahun itu memiliki kekuatan yang bahkan lebih besar jika dibandingkan ke-16 orang dari gerombolan tengkorak merah?


Mereka benar-benar dibuat hampir gila, saat Yan Chen menahan serangan dari pedang ke-16 orang itu hanya dengan tangan mungilnya saja, bocah itu bahkan tidak mengeluarkan satu senjata sekalipun dan mempergunakan tubuhnya sendiri untuk bisa melawan orang-orang itu.


'Semoga saja kekuatan mereka cukup besar, sehingga aku bisa menggunakannya untuk membuka dantian ketigaku yang hingga saat ini masih tersegel.' Fikir Yan Chen.


Andai saja ke-16 orang itu tahu, apa yang saat ini dipikirkan oleh bocah itu? mungkin mereka akan menebas kepalanya sendiri, saking tak percayanya dengan bocah yang kini tampak menyunggingkan senyuman sinis dan berdiri dengan penuh kesombongan.

__ADS_1


__ADS_2