
Ketiga tetua itu pun dibuat kesal oleh kelakuan Yan Chen, Bagaimana bisa mereka yang telah berumur puluhan tahun, dikalahkan oleh bocah kecil yang baru saja berusia 9 tahun?
Terlebih saat ini mereka mulai merasakan sakit dan perih yang diakibatkan oleh goresan demi goresan dari pisau terbang yang berelemen es milik Yan Chen. Mereka pun melotot dengan mata yang memerah, wajahnya terlihat menghitam dan langsung segera menghimpun kekuatan dengan mengalirkan energi Qi milik mereka sebanyak 50% pada pedang tingkat menengah yang kini ada di tangannya.
Ketiga pedang itu pun berdengung menunjukkan Aura membunuh yang sangat pekat, namun hal itu tak membuat Yan Chen gentar, si bocah ajaib itu hanya mengulas selengkung senyum kecil, licik dan penuh aura membunuh.
Sepertinya ketiga tetua itu pun masih belum menyadari, jika saat ini ranah kultivasi mereka bahkan berada di bawah bocah yang saat ini menjadi lawannya, mereka masih merasa sombong dan merasa jika merekalah yang terhebat di dunia xingguan ini karena telah mencapai ranah Jenderal tingkat tinggi.
Swoosh...
Swoosh...
Swooosh...
Tubuh ketiga tetua itu pun melesat dengan cepat, mereka segera mengeluarkan teknik terbaik yang mereka miliki, untuk memberikan serangan yang mematikan pada bocah kecil yang kini masih menyeringai menyunggingkan senyuman iblisnya.
Ketiganya merasa jika bocah ini tengah mempermainkan mereka dan menganggap remeh pada kemampuan dan juga kekuatan yang mereka miliki.
Trang...
Trang...
Trang...
Trang...
__ADS_1
Terdengar dentingan pedang begitu keempat senjata itu beradu, sehingga menimbulkan suara mencicit yang sangat kencang, membuat siapapun yang mendengarnya merasa ngilu.
Mereka terus bertukar jurus dan beradu kekuatan hingga beberapa lama, namun serangan terakhir yang dibuat oleh Yan Chen tak lagi dapat mereka tangkis, hingga akhirnya satu persatu dari ketiga tetua itu pun terjatuh di atas tanah.
Yan Chen dengan segera mengeksekusi ketiga pria tua itu dengan pedang tingkat tingginya, dia pun menebaskan pedangnya pada leher ketiga tertua itu, hingga...
Crash...
Crash...
Crash...
Kepala ketiga tetua itu pun menggelundung di atas tanah, bersamaan dengan darah yang menyembur dari leher yang telah ditebas oleh pedang tingkat tinggi milik Yan Chen.
Ketiga Yan bersaudara terlihat melotot, mereka tak percaya bahwa bocah itu kembali membuat kehebohan dengan membunuh ketiga tetua dari klan Gu. Bukankah itu artinya jika perjalanan mereka menuju ke gunung Baihu akan kembali mendapatkan kendala? saat orang-orang dari klan Gu mengetahui, jika ketiga tetua mereka dan 200 orang anggotanya kembali mati di tangan bocah yang bernama Yan Chen itu.
"Astaga Chen'er! kau benar-benar terlihat keren teriak Yan dong sambil melompat dari dahan pohon yang didudukinya.
Yan Lu dan Yan Cheng pun ikut turun dan menapakkan maki mereka diatas tanah.
"Bagaimana dengan tubuh mereka, Chen'er? jika kita Biarkan saja di sini, kemungkinan sebentar lagi akan semakin banyak orang-orang dari klan Gu dan juga kelompok tengkorak merah yang mendatangi tempat ini, untuk mencari keberadaan dari orang-orangnya." tanya Yan Lu.
Yan Chen hanya mengulas senyuman tipis, kemudian dia pun mengangkat sebelah tangannya, tak lama sebuah energi muncul dari telapak tangan bocah itu dan langsung membakar habis ke 200 orang prajurit dan juga ketiga orang tetua dari klan Gu itu tanpa sisa.
Bahkan Yan Chen juga dengan segera menggunakan energi angin untuk menerbangkan abu sisa dari pembakaran ke 203 orang jasad yang telah dibakarnya.
__ADS_1
Jangan tanya bagaimana caranya Yan Chen menggunakan energi angin? karena dia merupakan reinkarnasi dari seorang kaisar Yongseng yang merupakan seorang penguasa dari kekaisaran angin, tentu dia bisa mengendalikan energi itu jauh lebih hebat dibandingkan orang-orang yang memiliki elemennya sendiri.
Ketiga Yan bersaudara itu pun akhirnya tersenyum lega, mereka tak lagi khawatir kalau-kalau anggota dari kelompok tengkorak merah kembali mendatangi tempat itu, kemudian keempatnya pun segera kembali menuju ke kamar penginapan mereka masing-masing untuk kembali beristirahat.
Selang 30 hela nafas kemudian, beberapa rombongan kultivator tingkat tinggi pun muncul di tempat itu, untuk mencari keberadaan ketiga tetua dan juga ke 200 orang prajurit yang telah dikirim patriark mereka untuk mencari keberadaan Yan Chen.
Mereka merasakan jika Aura keberadaan terakhir ke 203 orang itu berada di tempat ini, namun saat mereka menggunakan energi Qi untuk memindai tempat itu, mereka tak lagi bisa mendeteksi keberadaan dari orang-orangnya.
Artinya ketiga tetua dan juga kedua ratus orang prajurit itu telah menghilang, bahkan tanpa meninggalkan jejak aura sama sekali, hingga membuat tiga orang tetua yang lainnya bertanya-tanya, Sejak kapan tetua pertama, kedua dan ketiga melakukan hal itu?
Mereka berkali-kali berfikir, tapi hingga saat ini mereka belum juga mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang kini menggelayuti fikiran mereka. Mungkinkah bocah yang bernama Yan Chen itu berhasil mengalahkan ketiga tetua dan juga ke 200 orang prajurit yang dikirim oleh patriark Gu untuk menangkapnya?
Sementara di dalam sebuah ruang dimensi, terlihat seorang gadis berusia 9 tahun tengah tersenyum manis sambil menyesap tehnya, dia sesekali menggoda gege beserta ibunya, dengan berbagai lelucon yang khas, hingga semua orang pun tertawa terbahak-bahak.
Liu Lin saat ini tengah menikmati kebersamaan dengan keluarga besarnya, setelah mereka dipisahkan selama bertahun-tahun, akhirnya kini mereka bisa kembali berkumpul seperti dahulu kala.
Hingga saat ini, Liu Lin belum berniat untuk meninggalkan ruang dimensi, dia masih ingin melepaskan kerinduan kepada seluruh anggota keluarganya, yang selama ini begitu dia rindukan. terutama sang Ibu, Ratu Lin Xia.
Liu Lin berniat kembali meningkatkan kemampuan alkemis miliknya, agar bisa membuat pil dengan tingkat yang lebih tinggi. Meskipun selama ini dia telah berhasil menyempurnakan seluruh pil yang dibuatnya hingga ke tingkat tinggi dengan kemurnian 100% tapi sepertinya bocah itu belum merasa puas, dia ingin membuat pil dengan garis pena di tengahnya ataupun pil tingkat dewa.
Meskipun jiwanya saat ini masih terjebak didalam tubuh bocah yang berusia 9 tahun, hal itu tidak membuat dia kehilangan kemampuan yang dimilikinya, bahkan saat ini dia pun sedang mengasah kemampuannya dalam membuat berbagai macam formasi yang dibantu oleh seluruh gege dan juga ibunya.
Liu Lin terus berulang kali memfokuskan dirinya dalam membuat formasi-formasi baru yang dia pelajari dari sebuah kitab formasi yang ada di perpustakaan istana miliknya.
Dia juga telah mengambil beberapa manual alkimia untuk dipelajari setelah menyelesaikan pembuatan formasi yang kini digelutinya, Liu Lin merasa jika di masa depan, mungkin dirinya akan berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan dan juga kekuatan di atasnya, sehingga dia harus terus mengasah dirinya agar semakin kuat dan kuat.
__ADS_1
'Jangan biarkan sang suami, Kaisar Yongseng malu karena memiliki seorang istri yang lemah.' kata-kata itu terus saja memacu semangat Liu Lin untuk menjadikan dirinya terdepan dalam segala hal.