
Setelah berdiskusi beberapa saat, akhirnya kedua pria tua itu pun segera keluar dan menghampiri para prajuritnya beserta para kultivator tingkat tinggi yang telah bergabung dengan klan Xie sebagai klan terbesar diseluruh kekaisaran Xiao.
Mereka berjalan dengan sangat angkuh di hadapan semua orang yang telah menunggu kedatangan mereka sejak tadi, sebagai seorang Patriark dari klan Xie, Xie Luoyang segera memerintahkan kepada Yin Chan untuk mempelajari array yang telah mengurung hutan Pandora.
Yin Chan berjalan ke depan, mata pria tua itu menetap tajam, hingga akhirnya dia pun melihat berbagai macam mantra di balik seluruh permukaan array.
Nampaknya pembuat Array itu merupakan seorang master formasi tingkat tinggi, sehingga dirinya yang baru saja meningkat menjadi seorang ahli formasi tingkat 3 bukanlah bandingannya.
Namun mengingat saat ini dia tengah berada diantara para kultivator hebat dan juga Xie Luoyang, temannya di masa muda dulu, membuat Yin Chan tidak berani mengungkapkan kesulitannya untuk memecahkan formasi itu.
Sementara didalam hutan pandora, seorang pemuda muncul dengan balutan jubah biru kesukaannya, dia berjalan dengan santai, sambil sesekali melihat semua orang yang saat ini tengah bersusah payah untuk bisa memecahkan array milik Liu Lin.
Sesosok pemuda itu muncul dari kehampaan, wajahnya yang tampan bersinar bagaikan rembulan berbanding terbalik dengan auranya yang dingin dan penuh intimidasi.
Dia berjalan dengan dagu yang terangkat, menunjukan arogansi yang tinggi sebagai seorang pangeran yang sangat disegani rakyatnya.
Namun sesaat netranya menangkap sebuah pantulan dari air danau, setangkai bunga mawar yang sangat indah penuh pesona. Dengan cepat pemuda itu pun menggerakan tangannya membuat sebuah segel, dan mengarahkannya kepermukaan air.
Gelombang kecil timbul perlahan di atas permukaan air, membentuk lingkaran gelang-gelang transparan di sana. Mereka saling berkejaran menuju ke tepian, seiring adanya pergerakan lembut yang ditimbulkan oleh sesuatu.
Secara perlahan, sebuah benda aneh merobek ketenangan danau yang tak seberapa luas dengan banyak tanaman ganggang liar menghijau tumbuh alami sebagai penghiasnya.
Aroma semerbak tetapi tidak terlalu tajam menguar dari dasar danau, disusul oleh munculnya setangkai bunga bermahkota semerah darah nan cantik, dengan helaian daun dan duri-duri tajam menghiasi sisi-sisi batangnya. Itu sungguh terlampau memikat laksana gaun peri yang terkembang sempurna.
__ADS_1
Namun ternyata, kecantikan menawan sang bunga menyimpan bahaya di dalamnya, karena itu adalah jenis mawar beracun ganas yang belum diketemukan penawarnya hingga saat ini. Hal tersebut bisa dilihat dari kepulan uap tipis nan samar muncul saat satu demi satu helaian kelopaknya merekah
Seketika itu juga, aura kegelapan nan mistis hingga bayangan kematian datang menyerang, menciptakan halusinasi pada otak sang pemandang dan bisa berakibat ketewasan akibat kegilaan.
Pemuda itu menarik sudut bibirnya ke atas, lengkungan senyum yang sangat manis terhias dari wajah tampannya, deretan gigi yang seputih kapur nampak berkilau sangat serasi dengan wajahnya yang begitu menakjubkan.
"Ini kejutan untukmu, Permaisuriku!" gumam si Pemuda seraya melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu.
Meskipun itu seperti melanggar kebijakan antar Domain, tapi hal tersebut tidak berlaku bagi si pemuda. Dia mendapatkan otoritas khusus terhadap apa yang ia kerjakan. Bahkan bisa memasuki array yang dibuat oleh Liu Lin tanpa hambatan.
Suasana riuh dengan senda gurau terus berlangsung di aula pertemuan klan Zhuo sejak petang tadi. Yang menjadi korban dari senda gurau mereka adalah sibocah kecil Liu Lin.
Di ruang tengah bangunan tersebut. Seorang pemuda tampan dengan ekspresi wajah yang datar dan terlihat kesal, berdiri bersandar pada dinding bangunan dengan posisi tangan yang dilipat di depan dada.
Jantung Liu Lin terasa berdebar, dia pun merasakan jika saat ini belahan jiwanya berada tak jauh dari tempatnya, sehingga membuat si bocah kecil itu pun segera bangkit dari kursi yang didudukinya dan melesat dengan cepat menerobos atap aula pertemuan klan Zhuo.
Brak...
Atap itu seketika roboh dan semua orang pun mulai berlarian keluar dari dalam aula untuk menyelamatkan diri agar terhindar dari reruntuhan yang mungkin akan membuat mereka terluka.
Alih-alih memikirkan bagaimana caranya untuk memperbaiki atap yang hancur gara-gara Liu Lin, semua orang saat ini malah penasaran dengan reaksi bocah itu yang langsung saja melesat tanpa memikirkan akibat yang mungkin saja bisa terjadi terhadap orang-orang yang saat ini masih berada di dalam aula.
__ADS_1
Mereka merasa jika bocah itu mengetahui sesuatu hal yang mungkin saja tidak mereka ketahui sebelumnya, akhirnya dengan langkah yang cepat, mereka pun ikut melesat dengan sangat cepat menyusul langkah Liu Lin.
Liu Lin bergerak dengan cepat, dia melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya dan juga melewati atap rumah milik para penghuni hutan Pandora, untuk mencari aura yang tertinggal dari seseorang yang selama ini ditunggunya.
Dia sangat yakin jika aura yang ditinggalkan itu merupakan milik dari seseorang yang sangat berharga baginya di masa lalu. dengan jurus bayangan iblis, bocah mungil itu pun segera melesat bagaikan baling-baling, dia bersatu bersama hembusan angin, hingga wujudnya tak lagi bisa dilihat oleh mata telanjang.
Liu Lin mengikuti instingnya demi untuk bisa meyakinkan hati jika yang saat ini ada di situ adalah prianya, yang selama ini begitu dirindukannya.
Meskipun para penghuni hutan pandora mengerahkan seluruh tenaga dan juga kemampuan mereka untuk bisa mengikuti langkah si bocah Liu Lin, nyatanya mereka kehilangan jejak.
Liu Lin bagaikan ditelan bumi, dia menghilang begitu saja tanpa meninggalkan aura sedikitpun, sedangkan kini mereka dibuat tercengang dengan munculnya setangkai bunga mawar merah yang begitu indah dan memabukkan.
Terlihat tatapan memuja dan juga kekaguman dari setiap mata yang memandang, mereka seolah ingin memetik bunga itu dan membawanya ke paviliun mereka masing-masing.
Namun baru saja seseorang bergerak untuk mendekati bunga itu, teriakan Liu Lin terdengar menggema, membuat dia bergegas kembali mundur dari tempatnya.
"Menjauhlah! Jangan pernah dekati bunga itu!" ucap Liu Lin dengan suara lantang, membuat semua orang pun akhirnya bergerak dengan cepat mengikuti perintah dari bocah kecil itu.
Tak lama uap tipis pun muncul dari setiap kelopak bunga mawar merah yang baru saja merekah, mengeluarkan wangi yang sangat manis dan segar.
"Tutup hidung kalian! jika masih sayang nyawa, Mawar itu beracun dan hingga saat ini belum ada satu orang pun yang bisa membuat penawarnya." teriak Liu Lin kembali membuat semua orang langsung menutup hidung mereka dengan tangan.
Mereka pun mundur perlahan, kemudian menjauh dari tempat itu dan kembali ke depan rumah Patriark Zhuo Zheng. kini mereka tak lagi penasaran dengan apa yang dilakukan oleh bocah itu, karena mereka sudah mengetahui jika kepergian Liu Lin tadi adalah karena kemunculan dari mawar beracun yang tiba-tiba saja berada tak jauh dari jalan masuk menuju ke hutan Pandora yang masih tertutup oleh array yang membentang.
__ADS_1