Please Cameback

Please Cameback
semakin menangis


__ADS_3

melihat acara mewah itu membuat radit menatap tak suka


“ dasar baru seperti itu saja sudah pakai perayaan, bagaimana kalau ia yang menjadi direktur disini ” gumam radit kesal melihat kania


 “bagaimana dengan kedekatan mu dengan kania  ” tiba tiba pak wirawan  datang


“akhh daddy, masih berusaha pelan pelan mendekatinya dad ” ucap radit malas


“ohh yasudah berusaha lah mengejar cintanya , ayok bergabung bersama mereka  ” kata pak wirawan


“akhh nanti aku ikut dad, daddy duluan saja “ ucap radit


“ya sudah daddy kebawah dulu ” ucap pak wirawan.


Setelah lama mereka bercekrama kania dan pak wirawan naik kelantai dua, mereka berbicara


diselingi dengan tawa


“cih dasar ” ucap radit tak suka


Beberapa hari berlalu kania dan radit terus saja bertemu tapi tak ada pembicaraan.  hingga saat ini mereka bertemu disebuah lift, kania berlari menekan nekan lift agar terbuka


“ting” suara pintu lift terbuka  kania masuk tanpa memperhatikan siapa yang berada didalam lift itu


“ehh pak radit ” ucap kania ketika ia menoleh melihat siapa yang dissampingnya


“apa kabar pak ” tanya kania hati hati


“emm saya baik ” balas radit datar


“dasar penghuni gunung es” gumam kania

__ADS_1


Kemudian tak ada lagi pembicaraan diantara mereka hingga sesuatu terjadi


“bruk” suara lift yang tiba tiba mengalami kerusakan


Radit dan kania kaget.


“kenapa ini” ucap radit dan mulai menekan lift untuk terbuka tapi hasil nihil dan kania pun semakin pucat, keringat sudah semakin mebasahi badannya


Ia duduk di sudut sudut lift


Melihat kondisi kania radit mendekat


“hei kamu kenapa ” dan radit terkecut melihat wajah kania, bibirnya sudah mulai membiru dan wajahnya memucat.


“hei bangun” ucap radit semakin takut


“kamu kenapa ” mulai mengguncang guncang tubuh kania tapi ia tak dapat respon


Pelan pelan radit mendekat dan membawa kania kedekapannya berusaha untuk menenangkannya.


“tidak apa apa jangan takut ada aku disini ” berusaha menenangkan kania


Semakin lama kania semakin tenang tak ada getaran dari badannya hanya saja keringatnya masih bercucuran. Dan ia mulai tak sadarkan diri


“ting ” akhirnya lift terbuka dan suadah ada jeni dan petrik disana  dan mereka langsung mendekat


“ayo berikan dia obatnya ” ucap jeni yang sudah mulai menangis ia takut kania mengalami hal yang dulu


“tenanglah dia akan baik baik saja ” ucap petrik menenangkan jeni


Mereka langsung melarikan jeni kerumah sakit ia tak mau terjadi seperti yang dulu

__ADS_1


Kania harus di rawat selama berbulan bulan karna rasa


takutnya.


“kenapa ia begitu takut ” gumam radit  yang melihat kepergian mobil yang membawa kania


“akhh untuk apa mengurusinya ” ucap radit


Berhari hari kania dirawat dirumah sakit, jeni dan petrik bergantian merawatnya karna bunda sarah sedang diluar kota dan akhirnya kania mulai sadar.


Gumaman kania membuat mereka kagetdan beranjak ke brangkar kania


“kamu sudah bangun ” ucap jeni


“yang mana sakit, apa kepala mu sakit, kamu bisa mendengar aku kan? ” tanya jeni beruntun, ia benar benar takut, apalagi melihat kania yang tidak meresponnya


“hei dia tidak apa apa tenangkan diri mu, biarkan dokter mengechek kondisinya ” ucap petrik sambil menarik jeni kepelukannya.


“aku takut, kenapa ia tak kunjung berbicara” ucap jeni terisak.


Kania yang diperiksa hanya diam dan melakukan apa yang dokter katakan dan sesekali dia melihat jeni


“tolong buka mulutnya ” dokter memeriksa keadaan kania


Setelah beberapa saat memeriksa, dokter memanggil salah satu keluarga atau rekan yang ada di ruangan itu


Petrik mewakili dari antara mereka berdua, dan jeni menemani kania.


“Aku mohon berbicaralah jangan buat aku takut “ jeni yang terus memeluk kania


“aku baik baik saja ” ucap kania pelan tapi masih bisa di dengar oleh jeni

__ADS_1


Jeni semakin menangis tapi bukan kesedihan, dia bahagia ternyata kania hanya mengalami syok


__ADS_2