
Saat bangun pagi kania meraba raba
kesampingnya mencari suaminya ternyata tidak ada.
Kania berusaha berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri
“auhh kenapa sesakit ini” ucap kania yang sudah terjatuh dilantai
Dan tiba tiba pintu kamar terbuka, radit memperhatikan kania datar
“kenapa kau sangat manja, begitu saja langsung sakit ” ucap radit datar
Kania yang mendengar perubahan sikap radit sedikit bingung
“mungkin dia juga lelah ” batin kania
Kania membersihkan dirinya, dan radit pergi tanpa pamit
Kania keluar dari kamar mandi dan duduk dipinggir ranjang.
“kemari lebarkan selakangan mu ” ucap radit sambil memegang lurut kania
Kania yang tiba tiba disuruh kaget dan menatap mata radit
“ayo sayang, biar ku obati ” ucap raditlembut
Mendengar itu kania menurut dan mebiarkan radit mengoles salep yang dibelinya dari apotek.
Hari berlalu hari, minggu berlalu minggu. Kini kania menjalani hidup menjadi seorang istri.
Kania menyiapkan sarapan dan menyiapkan semua keperluan radit.
Dia tetap bekerja dan melaksanakan tugasnya sebagai istri tapi radit sedikit berbeda dengan yang ia kenal.
Tak ada kata sayang yang muncul kecuali saat dia meminta ingin melakukannya.
Kania sebenarnya bingung dengan perubahan sifat radit, tapi dia berusaha untuk positif thinking
Hari ini weekend kania berencana membersihkan seluruh isi rumah.
__ADS_1
Kania sedang membersihkan ruang kerja radit, berhubung karena mereka tidak memiliki pembantu.
“apa ini ” ucap kania saat melihat ada tulisan gugatan cerai disana
Kania ingin mengambil dan membaca kertas itu tapi radit terlebih dulu memegang lengannya
“nia buatkan aku teh ” ucap radit
“ohh iya tunggu sebentar mas ” ucap kania yang hendak mengambil kertas itu
“aku mau sekarang yank ” ucap radit yang sudah bergelayut dilengan kania
Melihat itu kania tersenyum dan lupa tujuannya untuk melihat kertas itu.
Kania beranjak ke dapur ditemani radit yang masih menempel dilengan kania
“mas kalau begini bagaimana aku bisa buat kopi ” ucap kania tersenyum
Radit pun melepas lengan kania dan duduk di meja makan
“ini teh nya” ucap kania
Kania duduk dihadapan radit, mereka berbincang bincang, kadang membahas kantor dan banyak lagi
“sayang duduk disini ” ucap radit menunjuk pahanya
Kania menurut dan menatap mata hitam radit
“kenapa menatap ku seperti itu ” ucap radit
Kania yang ditanya tidak memberi jawaban, namun mata sudah berkaca kaca.
“sayang ” ucap radit yang mulai bingung melihat kania
“kenapa kamu berubah ” ucap kania yang masih lekat menatap wajah radit
Radit langsung mendekap kania, yang melihat kania sudah menitikkan air mata
“maaf, aku sangat sibuk beberapa minggu ini, karna ada masalah dikantor ” ucap radit
__ADS_1
“waktu kita bulan madu, beberapa direksi berulah karna tak ada kita disana ” tambahnya yang terus mengecupi kepala kania
Radit terus berusaha meyakinkan kania, banyak alasan yang ia lontarkan hingga tanpa sdar kania udah tertidur di
pelukannya.
Kania yang tiba tiba merosot, membuat radit terkejut
“hahha dasar anaknya patkai” ucap radit
Sebenarnya ia bingung dengan perasaannya, saat melihat wajah kania yang teduh membuat hati kecil radit
tersentil
“akhh kenapa dadaku begitu sakit ” ucapnya seraya beranjak dari tempat tidur
Paginya kania bangun dan masih mendapati radit tidur disampingnya dengan melingkarkan tangannya kepinggang
kania
Kania terus memandangi wajah radit dan menggesek gesek hidungnya ke hidung radit. Dan itu membuat radit terusik
“selamat pagi sayang ” ucap radit yang sudah membuka mata
“selamat pagi mas ” balas kania
Radit yang melihat tingkah kania, menangkup wajah kania dengan kedua tangannya
Dia mencium bibir kania, yang sudah menjadi kebutuhan pagi untuk nya. Dan semakin lama ciuman itu berubah jadi
******* ******* yang membuat kania mengeluarkan desahan
“hei hentikan kita harus kerja ” ucap kania yang sudah mulai ikut panas
“tidak sebentar saja yank ” ucap radit yang sudah ingin sampai ke ubun ubun
Kania tau radit tidak bisa sebentar, tapi dia pasrah karna sudah menjadi kewajibannya. Dan akhirnya mereka
melakukannya.
__ADS_1
Setelah lama bergulat kania langsung masuk ke kamar mandi sebelum radit bangun. Dia takut kalau radit memintanya lagi