
Tangan kecil itu mulai bergetar, tubuhnya yang mungil kini menggigil kedinginan di bawah tempat tidurnya. Rambut halusnya yang terurai itu mulai basah karena derasnya keringat yang menglir dari kepalanya.
Suara petir terus mengelegar merasuk jiwa. Kilatan terus menyambar di langit malam itu. Hujan deras merasuk hingga ke dalam rumah. Segala suara masuk ke dalam telinga gadis kecil itu, termasuk suara rintihan wanita paruh baya yang mengisi pojok setiap ruang keluarga.
Pintu dari kamar kecil itu terbuka dengan sengaja karena terlalu terburu-buru. Dan akibatnya, mau tak mau mata gadis kecil itu harus bertatapan dengan tubuh ayahnya yang tergeletak di lantai dengan bergelinangan air berwarna merah.
Pipinya basah, kedua tangannya yang bergemetar menutup mulutnya untuk tetap diam. Kedua matanya tak henti mengeluarkan air mata dengan terus menatap wajah ayahnya yang tersenyum kepadanya untuk yang terakhir kalinya.
Hingga pada akhirnya petir yang cukup besar membuat jendela rumah ruang tamu pecah, bersamaan dengan berhentinya tangisan ibunya. Kini matanya menangkap sudah keduanya tergeletak di lantai.
Genangan itu mengalir dimana-mana hampir memenuhi seisi rumah. Karena jumlah yang cukup banyak membuat baunya tercium sangat menyengat. Bahkan anak itu terasa ingin muntah dibuatnya.
“ah, sial!! Dimana anak kecil itu!!” teriak seorang pria yang berjalan membawa palu besar ditangannya.
__ADS_1
Semakin takut anak kecil itu, semakin rapat pula ia menutup mulutnya. Bahkan nafasnya pun ia buat perlahan agar tidak terdengar.
Dengan langkah yang terburu-buru, pria tadi bersama beberapa orang lain mengelilingi seisi rumah. Bahkan sesekali mereka mendobrak, memukul, menembak barang-barang yang menghalangi jalan mereka. Dan tanpa segan pun mereka membunuh para pembantu rumah tangga yang segaja bersembunyi.
“HEI!! DIMANA ANAK ITU!!” teriak seorang pria dengan menodongkan pistolnya di kepala pak tua yang tetap tak mau membuka mulutnya. Bahkan berteriak pun tak mau.
“KAU BISU YA!!!” dalam hitungan detik peluru itu melesat kearah sasarannya.
“dasar bodoh!! Tuanmu sudah mati saja, kalian masih berlagak sok setia!!”
Satu persatu telah habis, tak ada yang tersisa. Kini tinggal gadis itu sendirian. Kesepian. Gelap. Dingin. Sangat dingin. Air matanya kering, bibirnya bergetar.
__ADS_1
Satu persatu manusia yang menghabisi keluarga itu keluar. Meninggalkan gadis kecil itu dibawah ranjang sendirian dan kedinginan. Tapi itu lebih aman dari pada harus ditangkap oleh pria-pria tua itu. Tubuhnya mulai menggigil. Pandangnya mulai kabur.
Selama beberapa waktu gadis itu berusaha tetap sadar. Namun ia mulai lelah. Sudah tak mampu lagi tubuhnya menahan. Pipi yang awalnya merona karena kehangatan, berubah menjadi pucat pasi karena kedinginan.
Dalam bayangnya ia melihat sepasang kaki yang diselimuti sepatu kulit hitam yang khas berjalan memasuki kamarnya dan berhenti tepat didepannya. Rasa khawatir yang melanda hati gadis itu. Dengan perlahan kaki orang itu berjongkok. Begitupun kedua tangannya yang kini mulai menyentu lantai seraya ingin mengintip sesuatu dibawah sana. Dan terlihat pula pergelangan tangan itu memakai jam tangan antik dalam bayangannya.
Bibirnya terus bergetar, seraya ingin meminta pertolongan. Namun begitu berat. Tubuhnya benarh-benar lelah dan kedinginan. Perlahan-lahan matanya bahkan tak mampu melihat bayang itu lagi. Terlalu buram hingga semuanya menjadi gelap. Dirinya terlelap dalam kedinginan itu. Meskipun tubuh lain telah membawanya pergi.
***
__ADS_1