
“ah sialan mereka. Bisa-bisanya tidak percaya karena aku perempuan. Humph!” ucap Louisa dengan berjalan angkuh menuju ruang keamanan.
Leo dan Luqman hanya terkekeh melihat kelakuan wanita itu. Bagaimana tidak, dengan posturnya yang rata-rata, wajahnya yang masih imut, setara dengan umurnya yang baru 23 tahun sudah menjadi detektif di devisi kejahatan criminal. Pantas saja beberapa penjaga keamanan tidak mempercayai wanita muda itu.
“sudahlah Louis, jangan ribut lagi. Mungkin nasibmu.” Ucap Luqman sembari menahan tawanya.
Wanita itu semakin kesal, namun tidak terlalu memperdulikannya.
Tok..tok..
“permisi..” ucap Luqman dengan membuka pintu ruangan itu secara perlahan.
Seketika lima orang yang tadinya duduk di depan layar monitor itu berdiri.
“pak Leo.”
“saya ingin melihat rekaman cctv beberapa hari lalu.” Jawab Leo singkat sambil berjalan kearah salah satu
monitor.
“dimana Louis?”
Louisa yang dipanggil oleh Leo pun mendekat kearahnya. Sedangkan beberapa orang yang lain hanya menatap malu pada wanita yang tadi tak mereka percayai itu.
Setelah beberapa menit mereka mencari. Akhirnya mereka menemukan apa yang dicari. Sebuah rekaman yang
menunjukkan korban bersama seorang laki-laki tua.
Dengan sigap Leo meminta salinan dari rekaman itu. Dengan profesi dirinya sebagai penegak hokum, tak sulit bagi
dirinya untuk mendapat kepercayaan orang lain.
Mereka bertiga kembali menuju ruang Leo. Masing-masing menghadap layar laptop. Leo membolak-balik rekaman cctv itu. Beberapa kali ia mengusap kasar wajahnya dan mengacak-acak rambutnya.
“apa-apaan ini?!!” seru Louisa membuat Leo dan Luqman menoleh kearahnya.
“ah sial!!” umpat Leo sembari mengambil ponselnya.
‘diketahui bahwa pengusaha property ini menipu dan menggelapkan dana kerja sama perusahan Han Group dengan
Pram Group beberapa bulan lalu sebelum diumumkannya kematian dari pemilik Pram Group yakni Billy Pramono. Saat ini pihak kepolisian pun tak lagi mencari bukti kuat atas kasus ini…’
“apa kau melihat beritanya??” ucap Leo pada seseorang di seberang sana melalui poselnya.
Luqman melirik ponselnya yang berdering kemudian ia berjalan keluar ruangan. Matanya terbelalak kaget setelah
mendengar kabar apa yang terjadi. Ia pun kembali kedalam ruangan itu. Melihat wajah Louisa yang Nampak kebingungan, dan wajah Leo yang geram setelah meletakkan kembali ponselnya.
“ada apa??” tanya Louisa setelah melihat wajah Luqman yang Nampak terkejut.
“barusan pak Eza mengatakan kita tak perlu lagi mencari bukti pembunuhan atau lainnya dari kasus Billy Pramono
lagi.”
__ADS_1
“kenapa?”
“pak Hendra telah mengaku dirinya yang membunuh pak Billy.”
Dua pasang mata itu terbelalak kaget mendengar penjelasan Luqman. Seraya tak percaya Leo pun berdiri dan pergi
meninggalkan ruangan itu.
“apakah dia akan disidang?” tanya Louisa pada Luqman yang hanya terdiam melihat Leo berlari keluar.
“dia telah mengakui semua kejahatannya. Mungkin hanya akan dibacakan surat keputusan saja.”
“berapa lama?”
“entah lah.”
“ngomong-ngomong, kak Leo kemana?”
“oh iya, astaga, ayo kita kejar.”
Mereka bertiga sampai di parkiran yang tak terlalu ramai itu. Dua orang penumpang yang sedari duduk di mobil itu
hanya mampu terdiam sembari mengumpulkan nyawanya yang terbang diantara angin-angin. Luqman bahkan dibuat ketakutan karena baru kali ini Leo mengemudi dengan sangat cepat. Dia pun cukup bersyukur karena tadi lalu lintas tidak terlalu ramai.
Dengan sigap Leo melangkahkan kaki keluar mobil dan berlari menuju gedung besar itu. Luqman pun mengejar pria
itu meskipun langkah kakinya masih bergetar.
Langkah Leo terhenti setelah melihat ayahnya disana. Lebih tepatnya ayah angkatnya yang bersiap didepan
ruang introgasi.
“ayah disini.”
“iya. Ini bagian ayah.”
“tapi aku…” ucapan Leo yang dipotong oleh ayahnya itu.
“sudahlah, ayah tahu maksudmu. Kau cukup menunggunya saja diruang sebelah. Dan jangan ribut.”
“paman.” Ucap Luqman yang terengah-engah dan disusul oleh Louisa.
“pak Renaldi silahkan masuk.” Ucap seorang petugas kepada jaksa itu.
“baiklah, terima kasih. Kau tunggu dan lihat saja disana.” Laki-laki paruh baya itu menunjuk ruang sebelah
dan meninggalkan anak satu-satunya itu ditempat.
“silahkan pak Leo.” Petugas itu kini membimbing Leo masuk kedalam ruangan itu disusul dengan Luqman dan Louisa yang Nampak lelah berlari.
“berapa lama dia disini?” tanya Louisa pada petugas disana.
__ADS_1
“sudah 5 jam yang lalu. Tadinya kita ingin, menghubungi kalian. Tapi sepertinya sedang sibuk.”
Sedangkan diruang sebelah, terlihat seorang pria paruh baya dengan wajah pucat dan seperti menahan
kantuknya berhari-hari itu ketakutan karena dihujani pertanyan oleh seseorang didepannya. Bibirnya seperti dikunci rapat-rapat dan nampak kegelisakan menyelimuti tubuhnya yang menggigil.
Luka lama Leo sedikit terbuka, dan ingatannya memunculkan wajah Eliza kecil yang imut sedang menangis. ‘apakah seperti ini keadaan Eliza dulu? Ketakutan.’ Batinnya bertanya. Ingatan dua puluh tahun itu kembali. Menyedihkan.
“TIDAK!! Bukan aku…. Aku… aku… ti..tiadak..” ucap pria baruh baya itu terbata sambil terus menggigil kedinginan. Tak ada yang berbelas kasih pada orang itu kecuali seorang jaksa yang kini sedang mengobrol dengannya.
“apa kau kedinginan pak Hendra?” tanya laki-laki itu sembari menggenggam tangan sedingin es itu. Ia melirik
kearah ruangan sebelah yang ditutupi kaca hitam.
“TIDAK!!” bentak pria itu kesekian kalinya. Dia terus berteriak ‘tidak’ selepas itu menggumam kata-kata
tidak jelas.
“BUKAN AKU YANG MEMBUNUHNYA!!” teriak pria itu yang sontak membuat seluruh orang yang mendengarnya kaget.
“pak Hendra?” genggaman jaksa itu semakin kuat. Kini pria paruh baya itu menangis ketakutan seperti anak kecil.
“bukan aku…. Tolong jangan penjarakan aku..” rintihnya pelan.
“pak Hendra, aku kesini untuk bertanya perihal penipuan dan penggelap dana yang kau lakukan. Bukan pembunuh
Billy Pramono.”
“aku… aku… aku tidak membunuhnya. Aku.. aku hanya memberinya sedikit obat. Tak mungkin ia mati dengan itu
kan? Ya kan?”
Keringat di wajah pria separuh baya itu terus bercucuran, hingga sulit membedakan antara keringat tubuh dengan
air mata yang keluar dari matanya. Dalam ruang introgasi itu hening sejenak. Sedangkan di ruangan sebelah, nampak wajah Leo sedang menerka apa yang dibicarakan pria tua tadi.
“Luqman, apa kau tahu ‘obat’ yang dimaksud pria tua tadi?” tanyanya singkat pada Luqman.
“mungkin maksudnya adalah obat yang ada ditubuh pak Billy sebelum ia meninggal.” Jawaban singkat dari Luqman
membuat Leo semakin mengerutkan dahinya.
“semacam obat tidur, tapi kerjanya tak hanya seperti obat tidur. Obat itu juga akan menganggu kerja
jantung dan saraf tertentu. Jadi, kalau saja dosisnya lebih tinggi lagi, si Billy itu akan mati terkena serangan jantung. Bukan tercekik.” Jelas Louisa.
‘ah sial. Semakin tak jelas saja.’ batin Leo. Ia pun pergi dari ruangan itu. Lagi-lagi berlari membuat
Luqman dan Louisa memutar bola matanya malas. Sesuai permintaan kakaknya, Eliza, mereka harus menjaga Leo dalam kasus ini, untuk menghindari kemungkinan terburuk yang akan dilakukan olehnya.
Leo sampai di parkiran terlebih dahulu dan masuk kedalam mobil hitamnya itu.
“agh, sial! Kenapa sakit sekali!” gumamnya sembari meremat perutnya itu. Maagnya kambuh. Ia letakkan kepalanya diatas setir mobil. Matanya terpejam sembari menikmati rasa sakit itu. Namun perlahan semuanya hilang. Pendengarannya pun lambat laun menghilang setelah mendengar seseorang mamanggil namanya berkali-kali. “kak Leo… kak…”
***
__ADS_1