
“halo Tommy? Ada apa kau menghubungiku?” tanya seorang pria yang berada di atas mobilnya.
“sialan kau Vincent!! Katakan padaku apa yang kalian rencanakan, hah?!” bentak Tommy dari kejauhan melalui ponsel Alviano.
“maafkan aku, aku tak bisa memberitahumu.” Jawab pria itu singkat.
“awas saja kau..”
Tut..
Posel itu sengaja ia matikan secara mendadak. Dalam batinnya ia terus meminta maaf pada sahabat karibnya itu. Demi kebahagian anak satu-satunya ia terpaksa harus mengkhianati sahabatnya sendiri dan menjadi anjing peliharaan atasannya sendiri.
Alvian mengambil bungkusan yang ada di kursi sebelahnya. Ia segera keluar dari mobil untuk mengantarkan pesanan para atasannya yang ada di dalam mansion besar itu.
Tampak dari luar mansion itu sangat besar memang. Tapi penghuninya tak lain hanyalah 5 orang serakah dan orang sekretaris yang siap disuruh apapun, bahkan seorang pelayan pun tak ada. Setiap minggu hanya akan dipanggil seorang tukang bersih-bersih dan beberapa kali mereka akan berkumpul disana.
“silahkan tuan, ini pesanannya.” Ucap Alviano yang telah sampai dengan membawa pesanan atasannya itu.
“bagus sekali. Setelah kita selesai makan malam ini. Selanjutnya kita akan makan malam dirumah lain. Sudah siapkan?” tanya seorang diantara mereka dengan wajah yang bahagia.
“tak perlu kau tanya.” Jawab yang lainnya dengan ketus.
Sedangkan di rumah keluarga Romano…
“istriku, apakah Eliza sudah tidur?” tanya pria itu pada istrinya.
“belum sepertinya. Ada apa?” jawab sang istri yang terheran dengan suaminya yang tiba-tiba melangkah keluar kamar setelah mendengar jawabannya. Ia pun langsung mengikuti suaminya keluar.
“Liza sayang..” seru pria itu yang kini sudah berada di depan pintu kamar putrinya yang terbuka.
“ayah!!” seru gadis kecil itu yang kemudian memeluk pria yang didepannya hangat.
“ayah ingin mengatakan sesuatu, jadi Liza dengarkan ayah baik-baik ya?” ucap ayahnya yang hanya dibalas dengan anggukan oleh gadis kecilnya, sedangkan istrinya hanya mengernyitkan dahinya karena terheran dan penasaran dengan apa yang akan dikatakan suaminya.
“besok pagi kau akan disusul oleh paman Tommy.” Ucapan sang suami yang mengisyaratkan perpisahan itu sampai kehati sang istri, membuat tubuhnya bergetar karena mendengar ucapan dari orang tercintanya. Sedangkan putrinya hanya mampu terheran-heran mendengan ucapan sang ayah.
“kenapa? Bukannya kita akan kerumah paman Albert di Milan?” tanya putrinya yang membuat ibunya tak kuat menahan tangis dan segera berlari keluar ruangan itu.
“iya, tapi sepertinya ayah dan ibu akan pergi terlebih dahulu. Dan Liza akan tinggal dengan paman Tommy untuk
sementara waktu.”
“tapi bisakan, kalau Liza juga ikut ayah dan ibu? Kenapa harus menunggu dulu?” tanya gadis kecil itu dengan
puppy eyes andalannya.
“sudahlah. Putri ayah ini kan penurut.” Ucap sang ayah menenangkan putrinya sembari mengelus lembut
kepalanya.
Langit di malam itu juga ikut sendu dengan turunnya hujan yang cukup deras dan badai petir. Namun, tak cukup
membuat takut sang putri kecil sebelum tragedi berdarah terjadi malam itu.
Dari kamar bernuansa merah muda yang berada di lantai atas, terdengar suara pintu utama rumah itu terbuka, dan
beberapa masuk kedalamnya.
“maaf tuan sekalian. Tn. Dan Ny.Romano sedang istirahat dan tidak bisa diganggu.” Ucap seorang pelayan laki-laki paruh baya yang terdengar mendekat kearah tangga demi menghalangi orang yang akan naik keatas.
“ah, minggir kau pak tua!” seru salah seorang mereka.
Wanita yang dengan sigap menghapus air matanya itu kembali datang kekamar anaknya untuk menyusul suaminya yang masih mendekap gadis kecilnya di pelukannya.
“Richard..” ucap sang istri pada suaminya sembari menatap sayu.
“sebentar. Liza sayang. Ayah dan ibu kedatangan tamu. Bisakah ayah meminta tolong padamu?” ucap pria itu pada
putrinya sembari menatap lekat mata mungil itu.
“apa?”
“kau bisa sembunyi disini sebentar?” ucap pria itu dengan nada memohon pada putrinya untuk masuk kebawah
tempat tidur.
“untuk apa?” tanya gadis kecil itu polos.
“kita akan bermain sebentar. Jika Liza yang menang kau boleh ikut ayah dan ibu.” Ucap sang ayah yang membuat sang istri menahan sesak di dada sembari berkali-kali melirik kearah tangga.
“baiklah.” Gadis kecil itu pun menurut ia masuk kebawah tempat tidurnya yang cukup rendah namun masih bisa
tubuh mungil itu masuk.
Pasangan suami istri itu pun keluar dari ruangan putrinya dengan terburu-buru agar orang-orang yang mencari mereka juga tidak akan mengincar putri mereka.
“hei, Tn dan Ny. Romano. Selamat malam.” Ucap Billy yang muncul dari tangga dan disusul dengan 4 orang lainnya, yang tak lain adalah kawannya.
“kenapa kau menerobos masuk rumahku, hah?!” tegur sang pemilik rumah.
“maaf tuan, saya tak bisa menghalau mereka masuk.” Ucap pelayan pria paruh baya yang sedari tadi berusaha
__ADS_1
menghentikan orang-orang itu naik bersama istrinya yang juga mengikutinya dari belakang.
“diam, kau pria tua! Terlalu banyak omong!” ucap Lucas yang membawa palu cukup besar digenggamannya dan bersiap memukul pelayan itu.
Bukk!!
Tepat sasaran, palu pria itu mengenai kepala dari pelayan pria itu yang tentu saja membuatnya tergeletak di lantai bersimbah darah.
“suamiku!!” teriak pelayan wanita peruh baya yang sedari tadi mengikuti pelayan pria itu dari belakang.
Seisi rumahpun menggema karena teriakan wanita itu, dan para sisa pelayan yang berada di lantai bawah pun segera naik keatas melihat situasi yang terjadi. Betapa terkejutnya mereka melihat rekan kerja mereka tergeletak bersimbah darah disana dan majikan mereka yang diteror dengan pistol dan senapan laras panjang.
“kalian orang gila! Psikopat! Bajingan!” teriak wanita pemilik rumah yang tak kalah menggema disetiap sisi rumah dan disusul dengan suara petir yang tak kalah menggelegar.
“oh benarkah?” ucap Lucas yang sudah tak perduli dengan korbannya dan beralih memegang tangan wanita itu serta menariknya kencang-kencang.
“lepaskan istriku!” teriak pria pemilik rumah yang ingin menyelamatkan istrinya namun tertahan dengan satu kali
tembakan dari pistol yang dipegang Kevin.
Dor!!
“aaaghh!!” erang pria itu karena peluru tepat mengenai tulang keringnya.
“Richard!!” teriak wanita itu saat melihat suaminya mengeluarkan darah.
“tuan!!!” para pelayan juga tak kalah panik ketika melihat majikan mereka bersimpuh di lantai dengan kaki yang
terluka.
Bukk! Bukh!!
Wajah pria itu dipukul berkali-kali oleh tangan para pria bejat yang tak lain bawahannya di perusahannya sendiri.
“katakan padaku, dimana berkas yang kau simpan itu?” ucap Billy yang menghentikan pukulannya.
“berkas apa?” tanya pria itu lirih sembari menahan sakit yang mejalar keseluruh tubuhnya.
“jangan Richard!” seru istrinya dengan tegas, sedangkan suaminya hanya tersenyum sinis pada pria yang ada
dihadapannya.
“kau menantangku, hah?!!”
“ah, Melinda, meskipun kau sudah memiliki seorang anak tapi aku tetap menginginkanmu.” Ucap Lucas yang menarik dan menjatuhkan tubuh wanita pemilik rumah itu hingga terbaring di lantai dan menindihnya.
“Nyonya!!” teriak wanita paruh baya bersama para pelayan lainnya saat melihat perlakuan pria itu pada
majikannya.
“lepaskan aku Lucas! Kau pria brengsek! Ku kutuk kau!” umpat wanita itu yang sudah tak mampu melawan lagi.
Kini pasrah bajunya dirobek dan tubuhnya digerayangi oleh Lucas.
Para pelayan yang melihatnya pun hanya mampu mengalihkan pandangannya saat melihat majikannya disiksa.
“lepaskan Nyonya!” teriak wanita paruh baya yang sudah melepaskan kepergian suaminya.
“berisik kau nenek tua!” ucap Rizky yang menancapkan pisau yang ia pegang kearah tangan wanita paruh baya
itu.
“akhhh!!”
“jangan, jangan sakiti ibuku!” teriak seorang pemuda yang kemudian dihalau oleh seorang pelayan pria paruh
baya yang lain.
“astaga, ternyata kau memperkerjakan satu keluarga sekaligus, hah?!” tanya Hendra yang menteror para pelayan dengan senpan laras panjangnya.
“iya, mereka adalah keluarga. Keluargaku juga. Mereka pelayan yang kerja denganku dan setia. Tidak seperti kalian. Seekor tikus yang menumpang makan!!” maki pria itu dengan muka yang sudah berlumuran darah.
Bukh!
“kau masih bisa berkata-kata. Lihatlah istrimu yang cantik. Dia telah dinodai oleh pria lain.” Ucap Billy yang mengalihkan pandangan pria yang ada digengamannya kearah istri tercintanya.
‘sialan kau Lucas. Kau akan mati!’ batin pria itu dengan menahan seluruh emosinya dalam tubuh yang tak berdaya.
Matanya hampir berair saat melihat istrinya yang juga sudah tak berdaya melawan pria yang ada diatas tubuhnya itu. Air matanya juga membasahi seluruh wajahnya.
“jangan Richard.. jangan lihat aku..” rintih wanita itu yang merasa hina didepan suaminya.
“Melinda.. aku mencintaimu.” Ucap pria itu lirih pada istrinya yang bahkan tak ingin merasakan kenikmatan sama
sekali.
“hah! Berhentilah membual! Dimana berkasnya?!”
__ADS_1
“Billy, jika kau ingin kekuasaan aku bisa memberikan padamu baik-baik. Lepaskan para pelayanku.”
“kau masih memperdulikan pelayanmu! Lihat lah pelayanmu ini.” Ucap Rizky yang menyayat tubuh pelayan
wanita paruh baya itu.
Tubuh pelayan itu terus mengeluarkan darah yang bercampur dengan keringat. Tangisnya tak henti saat tubuhnya tersayat, namun bibirnya tak mampu berteriak.
“hei wanita tua. Memohonlah pada tuanmu itu. Ternyata dia sangat menyayangi kalian.” Ucap Rizky yang dengan
bahagia menyiksa wanita paruh baya itu hingga merintih kesakitan.
“kalian ingatlah akan karma di kehidupan ini!” ucapan wanita paruh baya itu lirih yang terdengar oleh seluruh
orang yang disana dan disertai guntur yang cukup keras.
“banyak bicara wanita itu.”
Dor!
“hei Kevin, aku masih ingin bermain dengannya!” sentak Rizky pada Kevin yang sedari tadi memegang pistolnya
untuk menteror Richard.
“dia berisik.”
“Richard!!” seru wanita yang kini hanya berbalut bajunya yang tak karuan pada suaminya yang tergeletak dilantai
bersimbah darah.
“kau sudah selesai Lucas?” tanya Billy pada pria yang tengah membenarkan celannya.
“ah, wanita ini jadi tidak penurut.”
Dor!
“bereskan?” Celetuk Kevin yang sudah menembak wanita pemilik rumah tepat didepan suaminya.
“Melinda.. aku mencintaimu sayang..” gumam pria yang berlumuran darah itu sembari mencium lembut kening wanitanya yang sudah tak bernyawa dihadapannya.
“hah! Hendra geledah saja ruang kerjanya, pasti berkas itu ada disana!” ucap Billy yang sudah tak sabar berada
di sana.
“okay!”
“hei, ngomong-ngomong, kau akan membiarkan seorang gadis kecil itu hidup?” tanya Kevin yang memecahkan
keheningan sesaat.
“gadis kecil? Apa maksudmu?”
“putri Tn. Romano. Kau lupa?” ucap Rizky sembari memainkan pisau ditangannya.
“ah, sial!! Dimana anak kecil itu!!” teriak Lucas berjalan membawa palu besar ditangannya.
Dengan langkah besar mereka mencari gadis kecil itu keseluruh ruangan yang ada di rumah itu. Sedangkan gadis itu hanya terdiam sembari menahan tangisnya lepas.
Prank!!
“ah. Dimana anak itu!!” teriak Lucas yang terus menerus menghancurkan barang yang menganggunya.
Dor!! Dor!!
“hei! Apa yang kau tembaki, hah?!” tanya Billy sembari melihat kearah Kevin yang memegang pistol
ditangannya.
“para pelayan itu membuatku muak. Rasa takut mereka sungguh lezat.” Jawab Kevin sesantai mungkin.
“sudahlah. Hei pak tua! Katakan padaku dimana anak itu. Maka aku akan membebaskan sisanya.” Ucap Billy pada pelayan pria paruh baya yang sedari hanya terdiam dan menunggu dirinya menyusul majikannya seperti beberapa pelayan yang lain.
“HEI!! DIMANA ANAK ITU!!” teriak Kevin yang sudah geram pada pelayan itu.
“KAU BISU YA!!!” dalam hitungan detik peluru itu melesat kearah sasarannya.
“aku menemukannya!” teriak Hendra yang berjalan kearah para pria yang menunggunya sembari membawa sebuah tumpukan berkas.
“bagus! Sekarang habisi mereka!” pinta Billy yang diangguki Hendra dan segera menghabisi sisa pelayan dengan hujan peluru dari senapannya tanpa peduli apapun lagi seperti orang gila.
“dasar bodoh!! Tuanmu sudah mati saja, kalian masih berlagak sok setia!!”
“ayo kita harus pergi.” Perintah Billy yang berjalan menuruni tangga.
“hei, bagaimana sang putri itu?!” tanya Rizky.
“biarkanlah. Tidak akan yang menyelamatkannya.” Ucap Lucas yang acuh tak acuh dan mengikuti Billy menuruni
tangga, begitupun yang lainnya.
__ADS_1
***